Khutbah Indah Sarat Hikmah dari Baginda Rasul

Khutbah Indah Sarat Hikmah dari Baginda Rasul

Khutbah Indah Sarat Hikmah dari Baginda Rasul

Semasa hidupnya, Rasulullah menyampaikan, khutbah- khutbah singkat kepada para sahaba PONPES AL IMAN JAKARTA — Tak ada kalam yang lebih indah dan layak didengarkan selain Alquran bagi umat Islam, kecuali perkataan dan nasihat-nasihat Rasulullah SAW. Perkataan yang lantas disebut hadis-hadis Rasul itu sekalipun pendek, ringkas, tetapi sangat padat dan sarat makna. Dalam banyak kesempatan, semasa hidupnya, Rasulullah menyampaikan, khutbah- khutbah singkat kepada para sahabat. Sayangnya memang, sepengetahuan penulis, belum ditemukan karya yang secara khusus mengumpulkan ceramah-ceramah Rasulullah yang beserakan di berbagai referensi induk hadis ataupun sejarah. Kitab yang ditulis Syekh Muhammad Khalil al-Khathib ini tentu menjadi entri penting dan sangat monumental dalam upaya menutupi kekosongan tersebut. Oleh si pegarang kitab, karyanya tersebut diberi tajuk Ithaf al-Anam bi Khuthab Rasul al-Islam. Syekh al-Khathib mengklasifikasikan 574 khutbah yang berhasil dia kumpulkan itu ke dalam 16 bab berbeda. Dia memulakan bab pertama dengan memaparkan 66 ceramah Rasul seputar jihad. Baca Juga: Pesan Terakhir Jelang Ajal Menjemput Dan, pada pamung as bab, Syekh al-Khathib mengumpulkan 10 pesan Rasul pada masa-masa akhir hayatnya.Untuk lebih memudahkan pembaca melacak asal nukilan ceramah-ceramah, Syekh al-Khathib menyertakan kutipan referensi di tiap penggalan khutbah. Namun sayangnya, kitab ini tidak menyertakan keterangan waktu dan tempat yang melatarbelakangi penyampai an khutbah-khutbah penuh makna itu. Lantas kemudian, apa khutbah pertama yang pernah disampaikan Rasulullah? Dalam kitab Marasil Abu Dawuddan empat kitab Sunah yang diriwayat Ibn Syi hab az-Zuhri, disebutkan, hadis pertama yang disampaikan Rasul, yaitu adalah sebagai berikut: Alhamdulillah, kami memuji, meminta pertolongan, memohon ampunan, dan meminta perlindungan kepada-Mu dari keburukan jiwa kami. Barang siapa yang diberikan petunjuk Allah SWT niscaya tak akan ada perkara yang menyesatkannya, dan barang siapa yang telah disesatkan Allah pasti tak akan ada pembimbing baginya. Kami bersaksi tiada tuhan Selain Allah dan kami bersaksi Muhammad adalah hamba dan Rasul- Nya. Dia mengutusnya dengan kebenaran, sebagai penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan tentang kiamat. Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, dia telah sadar. Dan siapa yang bermaksiat kepada keduanya, dia telah membangkang. Kita berdoa Tuhan menjadikan kita golongan yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mencari jalan keridhaan-Nya dan menjauhi jalan kebencian. Sesungguhnya kita berasal dari-Nya dan akan kembali pula kepada-Nya. Dalam kebanyakan khutbah yang Rasul sampaikan, ada sejumlah penggalan favorit yang kerap diucapkan. Masih mengutip Marasil Abu Dawuddari riwayat Ibnu Syihab az-Zuhri, di antara kutipan pesan yang sering disampaikan Rasul ialah: Tiap apa yang akan datang, sudah dekat. Dan tidak akan menjauh apa yang akan datang itu. Allah tidak akan menyegerakan karena permintaan seseorang. Dia tidak akan meremehkan urusan manusia.Apa yang Allah kehendaki, bukan yang dikehendaki manusia. Allah menginginkan perkara tertentu, dan manusia juga menginginkan suatu perkara. Apa yang Allah kehendaki akan terjadi meski manusia membencinya. Tidak ada yang menjauhkan apa yang dekat, dan tidak ada yang mendekatkan apa yang masih jauh.Tidak ada perkara apa pun, tanpa seizin Allah. Syekh al-Khathib juga memaparkan khutbah pertama Rasulullah yang disampaikan di hadapan penduduk Makkah. Khutbah tersebut sebagai berikut: “Putra daerah tidak akan pernah pernah mendustai warganya. Demi Allah jika aku mendustai manusia semua, aku tidak akan pernah mendustai kalian. Jika aku tipu manusia semua, aku tidak akan tipu kalian. Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus, dan kepada manusia seluruhnya. Demi Allah kalian niscaya mati sebagaimana kalian berbaring tidur, dan niscaya kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian bangun tidur, kalian akan dihisab atas amal kalian, dan akan dibalas kebaikan dengan kebaikan, dan keburukan dengan keburukan pula berupa surga selamanya atau neraka selamanya. Terdengar sayup suara hadirin yang datang, saling bersahutan mengomentari orasi itu. Kecuali suara lantang dari Abu Lahab. Paman Rasulullah itu berkata, “Tangkap dia (Muhammad) sebelum penduduk Arab berkumpul kepadanya jika kalian biarkan kalian akan terhindar, dan jika kalian mencegahnya, kalian akan dibunuh. Lalu, Abu Thalib menyanggah, Demi Allah jika kalian mencegahnya, kami akan tetap di sini. Kemudian, akhirnya hadirin membubarkan diri. Selanjutnya, terkait pesan-pesan tentang jihad, banyak sekali Rasul menanamkan spirit keimanan dan tawakkal kepada Allah di medan perang. Seperti ketika Perang Badar, Uhud, saat Perang Khaibar, Perang Mu’tah, dan peristiwa- peristiwa penting lainnya, termasuk saat peristiwa penaklukkan Makkah. Dia antara khutbah umum yang disampaikan Rasul di medan pertempuran seperti diriwayatkan dari Ibrahim Abduh bin Abi Auwfa. Syekh al-Khatib menuliskan, Rasulullah SAW ketika berhadapan dengan musuh, dia menunggu hingga matahari tergelincir kemudian berceramah membangkitkan gelora dan semangat berjihad: Wahai manusia, jangan sesekali mengharapkan bertemu musuh, mintalah kepada Allah kesehatan, jika kalian berhadapan dengan musuh, bersabarlah. Ketahuilah surga itu di bawah naungan pedang.Selan beberapa waktu, Rasul kembali bertitah sembari berdoa,”Ya Allah yang menurunkan Alquran, pemindah awan, penghancur sekutu, kalahkanlah mereka, dan berikanlah kami kemenangan.”

sumber : Republika.co.id

Masjid Lala Tulpan, Bunga Tulip yang Bermekaran

Masjid Lala Tulpan, Bunga Tulip yang Bermekaran

Masjid Lala Tulpan, Bunga Tulip yang Bermekaran

Di Rusia, masjid-masjid tersebar di penjuru negeri. PONPES AL IMAN JAKARTA — Rusia merupakan negara dengan populasi Muslim yang cukup signifikan di Benua Eropa. Tempat-tempat ibadah umat Islam pun tersebar di penjuru negeri. Masjid Lala Tulpan di Ufa, Boshkortostan, Rusia.Salah satunya adalah Masjid Lala Tulpan yang terletak di Ufa, Bashkortostan, Federasi Rusia. Nama masjid tersebut berarti `bunga tulip yang bermekaran.’ Penamaan itu melukiskan keindahan bangunan yang berwarna dominan merah dan putih tersebut. Bentuk menara dan atap Masjid Lala Tulpan bagaikan kelopak bunga tulip. Di bagian muka, tepat sebelum pengunjung menapaki anak tangga untuk memasuki ruangan masjid ini, terdapat dua menara kembar yang menjulang dengan tinggi masing-masing 53 meter. Seperti dilansir dari laman Beautiful Mosque, menara itu merupakan yang tertinggi ketiga di antara menara-menara masjid Rusia, yakni setelah Masjid Akhmad Kadyrov (Grozny) dan Masjid Qolsharif (Kazan). Pemerintah setempat mengakui besarnya peranan Masjid Lala Tulpan sebagai rumah ibadah level nasional. Pada 2001, misalnya, Presiden Vladimir Putin mengadakan pertemuan dengan ulama besar Rusia, Talgat Tadzhuddin (lahir 1948), dan mubaligh-mubaligh lainnya di masjid tersebut untuk membahas kebinekaan dan harmoni di negara berjuluk negeri beruang merah itu. Masjid Lala Tulpan tergolong unik bila dibanding dengan masjid-masjid umumnya. Bentuk atapnya bukan kubah, melainkan tiga limas yang tampak tersusun satu sama lain. Sementara itu, bagian depan masjid ini menampilkan bentuk tiga buah segitiga sama-kaki yang tampak simetris ketika disandingkan dengan menara kembar di hadapannya. Kalau dilihat dari atas, atap masjid tersebut menyerupai pola bunga tulip yang sedang mengembang. Masjid Tulip SiberiaDesain futuristik ini merupakan karya arsitek berhaluan modern, Wakil Davlyatshin. Rancangannya memenangkan sayembara untuk proyek pendirian masjid di atas lahan yang dikelilingi hutan kota dekat Sungai Belaya. Pembangunan Masjid Lala Tulpan berlangsung sejak 1990. Delapan tahun kemudian, untuk pertama kalinya bangunan ini dibuka untuk umum. Daya tampungnya mencapai seribu orang jamaah. Bagian eksterior Masjid Lala Tulpan tampak anggun baik di musim cerah ataupun dingin. Dari foto-foto yang disuguhkan situs Beautiful Mosque, hampir seluruh masjid ini tertutupi warna putih ketika salju turun. Namun, warna merah tetap menyala sehingga dua menara masjid itu bak obor yang menandai aktivitas keagamaan kaum Muslimin setempat. Adapun saat musim cerah, tentunya pesona khas bunga tulip kelihatan apik. Tidak hanya itu, nuansa serasi juga terasa lantaran adanya pohon-pohon yang mengelilingi lapangan masjid tersebut. Masjid-Madrasah Agung Lala-Tulip di Republik Bashkortostan.Bagian interior Masjid Lala Tulpan tidak kalah menawan. Ruangan utama yang dipakai untuk shalat terdiri atas tiga tingkat;yang paling dasar untuk jamaah pria, sedangkan tingkat kedua dan ketiga untuk jamaah perempuan. Lantai tempat sujud dilapisi hamparan sajadah yang berwarna hijau, dengan selang-seling merah. Pada siang hari, terutama ketika cuaca cerah, ruangan ini seluruhnya bermandikan cahaya karena sinar mentari masuk melalui jendela-jendela besar dan ventilasi udara, khususnya yang berdekatan dengan pintu masuk dan mihrab. Birai jendela itu berbentuk segitiga, selaras dengan pola limas yang menjadi atap masjid ini. Pada malam hari, penerangan me ngandalkan sinar lampu-lampu gantung dan bohlam yang ada di langit-langit ruang an utama. Warna putih mendominasi din ding ba gian dalam masjid tersebut. Oleh karena itu, ada kesan luas (spacious) yang terasa di sana. Sepi kaligrafi Agak berlainan dengan masjid-masjid biasanya, Lala Tulpan cenderung sepi dari dekorasi kaligrafi. Sebaliknya, pola-pola geometris menjadi hiasan yang sering dijumpai di sana-sini, baik pada bagian dalam maupun luar masjid tersebut. Dengan demikian, arsiteknya seperti ingin mengunggulkan nuansa modernis di atas corak tradisionalis. Contoh lainnya, warna abu-abu yang menjadi ciri khas masjid- masjid di Rusia hanya terdapat pada bagian bawah dua menara Masjid Lala Tulpan. Bentuk tradisional bukan tidak ada sama sekali. Pada bagian mihrab dan mimbar, Mas jid Lala Tulpan mengikuti corak arsitek tur khas Tatar, suku bangsa mayoritas Muslim di Rusia dan Asia Tengah. Permukaan dinding mihrabnya melukiskan seni visual mosaik dengan permainan warna toska dan merah-bata. Kemudian, mimbar tem pat imam menyampaikan khotbah terdiri atas undak-undakan. Seluruhnya terbuat dari kayu bermutu tinggi.

sumber : Republika.co.id

Jejak Kesultanan Islam di Afrika Timur

Jejak Kesultanan Islam di Afrika Timur

Jejak Kesultanan Islam di Afrika Timur

Periode Islam di Pantai Afrika Timur dimulai pada awal Islam berkembang di Makkah PONPES AL IMAN JAKARTA — Afrika Timur adalah kawasan yang terletak di sebelah timur benua hitam, Afrika. Berdasarkan skema pembagian wilayah menurut PBB, di kawasan itu terbentang sekitar 19 negara. Negara yang berada di kawasan Komunitas Afrika Timur itu, antara lain, Kenya, Tanzania, Uganda, Sudan, Burundi, Djibouti, Eritrea, Ethiopia, Rwanda, Sudan Selatan, Komoro, serta Somalia. Sejarah mencatat, ajaran Islam pertama kali menyebar ke Afrika Timur di banding wilayah lainnya di dunia. “Periode Islam di Pantai Afrika Timur dimulai pada awal Islam berkembang di Makkah,” ujar Zahrah Awalah MA, alumnus School of Oriental and African Studies (SOAS) di London, dalam tulisannya tentang sejarah penyebaran Islam di kawasan Pantai Afrika Timur. Ya, 15 sahabat Nabi Muhammad SAW memang sempat berhijrah ke Ethopia, yang dulu bernama Habasyah. Saat itu, bulan Rajab tahun ketujuh Sebelum Hijrah /615 M, di tengah kegelapan malam yang mencekam, 11 pria dan empat wanita sahabat Rasulullah SAW mengendap-endap meninggalkan Makkah. Para sahabat itu diminta untuk meninggalkan Makkah menuju Habasyah atau Abessinia, sebuah kerajaan di daratan Afrika Timur yang dipimpin Raja Najasyi. Inilah proses hijrah pertama yang dilakukan kaum Muslim, sebelum peristiwa hijrah ke Madinah. Di antara sahabat yang hijrah ke Ethiopia itu, antara lain, Usman bin Affan beserta istrinya, Ruqaiyah. Perjalanan pertama para sahabat ke negeri Ethiopia itu dipimpin Usman bin Mazun. Penguasa Quraisy sempat mengirimkan utusannya agar Raja Najasyi mengusir umat Islam yang hijrah itu. Namun, permintaan itu justru ditolak, setelah sang raja mendengar sahabat membaca surah Maryam. Ketika Najasyi wafat, Nabi Muhammad menggelar shalat gaib di Madinah untuk sang raja. “Itu berarti dia telah masuk Islam bersama rakyatnya,” papar Zahrah. Penyebaran Islam di kawasan Afrika Timur semakin meluas ketika Khalifah Umayyah, Abdullah bin Marwan, mengirimkan utusan ke wilayah Afrika Timur pada 696 M. Hal itu menandakan sudah terjalinnya hubungan di bidang perdagangan dan pendidikan antara kawasan Afrika Timur dan dunia Islam. Sejarawan Muslim al-Mas’udi mengungkapkan, para peda- gang dari Arab, Persia, dan Cina telah berniaga di kawasan Pantai Afrika Timur pada abad ke-10 M. Pakar Geografi Muslim al-Idrisi juga mencatat pada 1154 sudah terjalin perdagangan antara Zanzibar dan Oman. Sejak kedatangan dan menyebarnya agama Islam di Pantai Afrika Timur bermunculan Kesultanan Islam. Penjelajah Muslim Ibnu Batutta, pada abad ke-14, mengunjungi sejumlah kesultanan yang ada di kawasan itu. Salah satunya adalah Kesultanan Kilwa. Ibnu Batuta mencatat Kesultanan Kilwa sebagai kerajaan Islam terpandang di kawasan Afrika Timur. Di kota Kilwa terdapat banyak orang terpelajar dan ulama yang menganut mazhab fikih Syafi’i. Pada zaman itu, Kilwa menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai. Di wilayah Sudan pun berdiri sebuah kerajaan Islam bernama Kesultanan Sennar. Kesultanan Islam Sennar berkuasa dari 1504-1820 M. Pada era itu, kesultanan tersebut telah menerapkan hukum Islam. Di Kenya juga berdiri Kesultanan Wituland. Sejarah juga mencatat, ada tiga kesultanan besar di Komoro, yaitu Kesultanan Ndzuwani (Anjouan), Kesatuan Kesultanan Ngazidja atau Grande Comore (terdiri dari 11 kesultanan), dan Kesultanan Mwali (Moheli). Selain itu, masih ada pula Kesultanan Pate, Mudaito, dan Othanusi.

sumber : Republika.co.id

As-Suwaida Kota Bangsa Nabath

As-Suwaida Kota Bangsa Nabath

As-Suwaida Kota Bangsa Nabath

As-Suwaida adalah sebuah wilayah yang bersejarah. PONPES AL IMAN JAKARTA — Dalam Sunan Abu Daud tercantum sebuah hadis yang berkaitan dengan upeti, harta rampasan dan rampasan. Pada hadis bernomor 2952 itu tertulis nama sebuah daerah bernama as-Suwaida. Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Atlhas Hadith Al-Nabawi, as-Suwaida adalah suatu tempat yang berjarak dua malam perjalanan dari Madinah, tepatnya di Syam (Suriah). “Dulu, as-Suwaida adalah tanah gersang,”ujar Dr Syauqi. Kini, wilayah itu terletak di barat daya Suriah, dekat dengan perbatasan Yordania. Kota ini merupakan ibu kota Provinsi Muhafazat as-Suwayda, satu dari 14 provinsi yang ada di Suriah. Luas wilayahnya mencapai 5.550 kilometer persegi. Mayoritas penduduk as-Suwaida adalah kaum Ibrani yang umumnya berbahasa Prancis (di Suriah secara keseluruhan). Sedangkan, kaum Yunani ortodoks hanya minoritas di sana. Total jumlah penduduk yang menghuni wilayah as-Suwaida pada 2010 diperki- rakan mencapai 364 ribu jiwa. As-Suwaida adalah sebuah wilayah yang bersejarah. Kota itu ditemukan dan didirikan pertama kali oleh bangsa Nabatean atau Nabath. Suku Nabatean adalah salah satu rumpun bangsa Arab yang hidup sebelum masuknya bangsa Romawi. Mereka menetap di daerah Yordania hingga ke sebelah utara Damaskus. Sebagian besar sejarawan menyebut mereka termasuk ke dalam golongan bangsa Arab kuno. Mereka dikenal sebagai suku pengembara yang berkelana ke berbagai penjuru dengan kawanan unta dan domba. Mereka juga dikenal sebagai penyembah berhala yang menyembah Dewi Nasib, Manat, dan Hubal. Suku Nabath dahulu menggunakan bahasa Aram untuk berkomunikasi. Bahasa Aram adalah rumpun bahasa yang banyak digunakan di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Afrika Timur dengan sejarah selama 3.000 tahun. Bahasa ini pernah menjadi bahasa pemerintahan berbagai kekaisaran. Bangsa Nabatean adalah cikal bakal kaum Nabi Shaleh, yakni kaum Tsamud, kaum yang mahir dalam memahat dan mengukir bebatuan keras untuk dijadikan rumah dan istana-istana raksasa. Kaum Tsamud merupakan suku kuno Arabia yang diperkirakan hidup sekitar milenium pertama sebelum Masehi dan dekat dengan waktu kenabian Muhammad SAW. Sejumlah besar kaum Tsamud merupakan pengukir dan pemahat bukit yang baik. Ukiran dan pahatan mereka hingga saat ini dapat ditemui di Gunung Athlab dan hampir seluruh Arab bagian tengah. Kaum Nabatean juga dikenal sangat mahir dalam membuat tangki air bawah tanah untuk mengumpulkan air bersih yang bisa digunakan saat mereka bepergian jauh. Sehingga, di mana pun mereka berada, mereka bisa membuat galian untuk saluran air guna memenuhi kebutuhan air mereka. Pada akhir abad ke-4 sebelum Masehi, berkembangnya dunia perdagangan membuat suku Nabatean memberanikan diri mulai ikut dalam perdagangan dunia. Rute perdagangan dunia mulai tumbuh subur di bagian selatan Yordania dan selatan Laut Mati. Mereka lalu memanfaatkan posisi tempat tinggal mereka yang membentang dari Yordania hingga utara Damaskus sebagai salah satu rute perdagangan dunia. Kaum Nabath menyebut as-Suwaida dengan nama Suada. Suku itu sempat dijajah bangsa Romawi. Orang Romawi dan Yunani menyebut kota as-Suwaida dengan nama Dionysias pada 149 M. Setelah itu, pengaruh suku Nabatean berkurang dan mereka berkonsentrasi di daerah selatan sebagai akibat percepatan persebaran budaya Yunani. Nama Dionysias tetap dipakai selama periode Bizantium ketika Kota as-Suwaida berada di bawah pengaruh al-Ghasasinah, sebuah suku Kristen dari Arab Selatan. Pada saat Islam berkem- bang di Jazirah Arab, wilayah itu sudah dikenal dengan nama as-Suwaida. Para arkeolog telah menemukan sederet situs peninggalan bersejarah arkeologi di as-Suwaida. Temuan itu menjelaskan kehidupan masa lampau suku Nabatean. Di antaranya adalah Kuil Dionysus-Dushara yang masih menyisakan delapan bangunan tinggi dengan desain yang cukup baik dan masih berdiri. Selain itu, terdapat bangunan Saint Sergius Basilica yang dibangun pada abad ke-5 Masehi. Bangunan ini memiliki elemen arsitektur Bizantium dengan sebuah biara di sekitarnya. Ada pula bangunan melengkung dengan bangunan gereja yang telah hancur dan hanya menyisakan sebuah bangunan yang oleh masyarakat lokal dikenal dengan nama al-Mashnaqa dengan hiasan bermotif anggur. Peninggalan bersejarah lainnya yang merupakan penemuan paling baru adalah sebuah amfiteater di selatan Agora, sebuah situs arkeologi lainnya. Selain itu, kota ini juga masih menyimpan sejumlah rumah tua yang masih ditempati oleh penduduk lokal, waduk kuno, dan menara pengawas. Penduduk as-Suwaida telah mengalami kemajuan antara tahun 400 SM dan 200 SM dengan meninggalkan berbagai monumen, di antaranya wilayah pekuburan di atas bukit berbatu. Kaum Nabath adalah kaum yang ahli dalam memahat dan mengukir batu- batu alam pegunungan yang berwarna merah. Mereka juga ahli membuat patung batu, di antaranya yang terkenal adalah Hubal, sebuah berhala di Makkah yang disembah bangsa Arab Jahiliah sebelum datangnya Islam.

sumber : Republika.co.id

Umar bin Abdul Aziz dan As-Suwaida

Umar bin Abdul Aziz dan As-Suwaida

Umar bin Abdul Aziz dan As-Suwaida

Khalifah Umar bin Abdul Aziz membiayai sendiri penanaman pohon di as-Suwaida PONPES AL IMAN JAKARTA — Ketika Dinasti Umayyah menguasai dunia, wilayah as-Suwaida sudah berada dalam genggaman kaum Muslimin. Menurut Dr Syauqi Abu Khalil, awalnya as-Suwaida hanyalah wilayah yang gersang. Namun, kawasan itu mulai dihijaukan pada era kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ia adalah khalifah ke-8 Dinasti Umayyah. Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi Khalifah pada 99 H, pada hari wafatnya Khalifah Sulaiman bin Abdil Malik. Khalifah Sulaiman telah me wasiatkan kekhali- fahan kepada Umar ketika ia ditimpa sakit demam. Sejatinya, ia bukanlah putra mahkota. Namun, kehebatan dan kemuliaan akhlak serta tauhidnya, keturunan Khalifah Umar bin Khattab itu dianugerahi sebuah jabatan yang mulia. Umar bin Abdul Aziz memimpin Dinasti Umayyah selama tiga tahun dari 717 hingga 720 M. Meski hanya tiga tahun, jasanya begitu besar dalam membangun dan menyebarluaskan agama Islam. Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin umat yang adil dan bijaksana. Ia begitu jujur. Selama tiga tahun memimpin, semua rakyat yang berada dalam lindungan Dinasti Umayyah hidup berkecukupan alias sejahtera. Baginya, jabatan adalah ujian. Simak pidato kenegaraannya yang begitu diamanahi kursi khalifah, Wahai saudara-saudara! Aku telah diuji untuk memegang tugas ini tanpa meminta pandanganku terlebih dahulu dan bukan juga permintaanku serta tidak dibincangkan bersama dengan umat Islam. Sekarang aku membatalkan baiat yang kalian berikan kepadaku dan pilihlah seorang Khalifah yang kalian sukai. Tiba-tiba orang-orang serentak berkata: Kami telah memilihmu wahai Amirul Mukminin, dan kami rida kepadamu. Maka, uruslah urusan kami dengan kebaikan dan keberkatan. Begitulah pemimpin yang sejati. Ia tak haus kekuasaan, apalagi menge- jar jabatan dan kedudukan dengan menghalalkan segara cara. Umar adalah teladan bagi umat Islam. Ia tak hanya menyejahterakan rakyatnya. Menurut Dr Syauqi, Umar bin Abdul Aziz juga sangat peduli dengan kelestarian lingkungan hidup. As-Suwaida menjadi saksi kepeduliannya. Daerah yang awalnya gersang itu oleh Khalifah yang adil dan bijaksana itu ditanami dan dihijaukan dengan pepohonan. Khalifah Umar bin Abdul Aziz membiayai sendiri penanaman pohon di as-Suwaida dengan harta kekayaannya, papar Dr Syauqi. Tak cuma itu, ia juga membuat sumur di as-Suwaida. Ia hidup seder- hana dengan pendapatan sebesar 200 dinar dan sekantong buah kurma.

sumber : Republika.co.id

Jasa Besar Para Ilmuwan Muslim

Jasa Besar Para Ilmuwan Muslim

Jasa Besar Para Ilmuwan Muslim

Kekhalifahan Islam pernah menikmati puncak kejayaan di bidang sains dan teknologi PONPES AL IMAN JAKARTA — Di masa keemasannya pada abad 8-13 M, wilayah ke khalifahan Islam membentang luas dari Asia hingga Spanyol. Robin Westgate dalam artikel berjudul “Ancient Arab Astronomy” menuliskan, ulama dan ilmuwan Arab pada masa itu mengetahui lebih banyak sains dan ilmu-ilmu sastra daripada tokoh-tokoh kontemporer mana pun. Mereka juga banyak menerjemahkan karya-karya sastra dan ilmiah klasik (Yunani- Romawi). Kekhalifahan Islam yang pernah menikmati puncak kejayaan di bidang sains dan teknologi itu adalah Khilafah Abbasiyah (750–1258 M). Dan, khalifah pertama yang memberikan perhatian besar terhadap astronomi adalah Khalifah Abu Ja’far Abdullah ibn Muhammad al-Mansur (khalifah kedua Abbasiyah, wafat 775 M). Ia mengalokasikan dana yang sangat besar untuk proyek penerjemahan karyakarya astronomi dari periode klasik (Yunani-Romawi). Al-Razi (abad 9), Ibnu Sina (abad 10), dan Ibnu Rushd/Averroes (1126- 1198) adalah sedikit di antara filsuf Muslim yang paling dikenal kala itu. Upaya mereka dalam mendalami gagasan dan pemikiran tokoh-tokoh klasik Yunani, seperti Plato dan Aristoteles, dinilai sebagai upaya mere kon siliasi gagasan-gagasan Yunani klasik dengan ajaran Islam. Hasilnya, banyak universitas didirikan di kota-kota terkemuka Islam, seperti Baghdad, Damaskus, Yerusa lem, Alexandria, Kairo, dan Cordoba. Bisnis buku berkembang pesat mengingat perpustakaan-perpustakaan besar dapat ditemukan di universitas-universitas, istana, dan rumah-rumah orang kaya pada masa itu. Pada masa itu, ilmuwan Eropa menyadari keunggulan ilmiah dan teknologi dunia Islam yang luar biasa sehingga mereka berupaya mencari terjemahan karya ilmuwan Muslim. Pada 1250 M, sebagian besar materi berharga di perpustakaan-perpustakaan Islam telah tersedia bagi para ilmuwan Eropa dalam bentuk terjemahan. Selanjutnya, para ilmuwan Muslim membuat kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan banyak ilmu modern, seperti fisika, kimia, kedokteran, matematika, dan juga astronomi. Dan, mereka sangat tertarik pada bidang ilmu yang terakhir disebut itu. Menggunakan karya astronom Yunani abad kedua Ptolemy (Ptolema eus) sebagai dasar, para pemikir Mus lim meningkatkan pengetahuan manusia tentang astronomi. Bahkan konon, selama abad pertengahan, ketika ilmu pengetahuan Eropa meng alami kemerosotan, orang Arablah yang menjaga dan meles tarikan warisan para astronom klasik tersebut. Atas perhatian mereka yang tinggi terhadap astronomi, mereka membangun banyak observatorium dan meningkatkan instrumen ukur tertentu seperti astrolabe untuk menentukan dan merekam posisi serta gerakan benda langit. Salah satunya adalah Rumah Ilmu Pengetahuan yang dibangun di Baghdad oleh Khalifah Abbasiyah Ma’mun ar- Rasyid antara 813-833 M. Di sanalah para ilmuwan Islam menerjemahkan banyak teks berbahasa Sansekerta, Pahlavi atau Persia kuno, Yunani, dan Syriac ke dalam bahasa Arab. Termasuk di antaranya tabel astronomi besar berbahasa Sansekerta dan risalah astronomi Ptolemy, Almagest. Al-Khawarizmi adalah salah satu contoh ilmuwan penting pada masa ini. Risalah matematikanya adalah yang pertama memperkenalkan konsep “nol” penyederhana perkalian dan pembagian. Ia juga menyumbang sebuah perhitungan sistematis dari aljabar dan geo metri untuk me mecahkan mas alah astronomi dan navigasi praktis. Di antara peninggalan penting para ilmuwan Muslim adalah namanama Arab untuk sejumlah istilah astronomi yang digunakan hingga kini. Di antaranya adalah Algedi (berasal dari kata Arab al-jadiy), Famul Hout ( fammu al-huut), Sada Saoud ( sa’du as-su’ud), Sheratan ( assarthan), dan Acrab ( al-’aqrab). Itu menunjukkan kontribusi luar biasa ilmuwan Muslim terhadap ilmu ini.

sumber : Republika.co.id

Tiga Masjid Menawan di Brunei

Tiga Masjid Menawan di Brunei

Tiga Masjid Menawan di Brunei

Brunei terkenal dengan keindahan arsitektur masjid dan interiornya yang rumit. PONPES AL IMAN JAKARTA — Brunei Darussalam, negara kesultanan Islam adalah yang kaya sumber daya alam. Sebagian besar negara ini meliputi kawasan kehutanan. Brunei juga dikelilingi enam pantai sepanjang garis perbatasan lautnya. Brunei juga memiliki sungai yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Mereka sangat memperhatikan pariwisata di bidang warisan budaya, di antaranya seni arsitektur terutama museum. Di sisi lain, mereka memiliki masjid yang sangat indah. Brunei terkenal dengan keindahan arsitektur masjid dan interiornya yang rumit. Ada lebih dari 200 masjid di negara ini. Mereka dibangun dari serpihan marmer dengan kubah yang dilapisi makkah dan perunggu sedangkan lantai dilapisi dengan karpet yang mewah. Tiga masjid yang paling terkenal diantaranya Masjid Omar Ali Saifuddin, Masjid Kampong Masin, dan Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah.

Masjid Omar Ali Saifuddin Masjid ini terletak di Bandar Seri Begawan, ibu kota Kesultanan Brunei. Masjid ini ser- ing dianggap sebagai salah satu masjid pal- ing indah di Asia Pasifik. Masjid ini adalah tempat ibadah bagi komunitas Muslim, situs sejarah utama, dan objek wisata terkenal di Brunei. Namanya diambil dari Omar Ali Saifuddien III, Sultan ke-28 Brunei, yang memulai pembangunannya. Masjid berfungsi sebagai simbol iman Islam di Brunei dan mendominasi cakrawala Bandar Seri Begawan. Bangunan ini selesai pada 1958 dan merupakan contoh arsitektur Islam modern. Masjid ini menyatukan arsitektur Mughal dan gaya Melayu dan dirancang oleh arsitek dan pematung Rudolfo Nolli. Dibangun di laguna buatan di tepi Sungai Brunei di Kampong Ayer. Masjid ini memiliki menara marmer dan kubah emas, sebuah halaman dan dikelilingi oleh sejumlah besar pohon dan kebun bunga.

Masjid Kampong Masin Masjid ini terletak di Masin, sebuah desa di Distrik Brunei-Muara, Brunei. Terletak sekitar 24 kilometer dari Bandar Seri Begawan, ibu kota Brunei. Pembangunan masjid dimulai pada 1986 diatas lahan dua hektare dan selesai pada tahun berikutnya. Pada 27 Desember 1987, Masjid Kampong Masin secara resmi dibuka oleh Menteri Agama, Awang Mohd Zain.Masjid ini pernah mengalami renovasi tahun 1990 karena luasnya yang tak lagi mencukupi untuk menam- pung jamaah. Masjid ini juga dilengkapi dengan perpustakaan dan helipad.

Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah. Masjid ini merupakan wakaf dari Sultan Haji Hassanal Bolkiah. Masjid ini terletak di Kampung Kiarong, empat kilometer dari Bandar Seri Begawan. Dibangun sejak 1988 dan diresmikan pada 1994, mas jid berdiri di atas tanah seluas 20 hektare. Sultan Hassa nal pun melaksanakan shalat maghrib dan Isya ber jamaah untuk pertama kalinya di hari itu. Kapasitas masjid ini dapat memuat 5.000 jamaah. Masjid ini memiliki 29 kubah emas dan menara setinggi 58 meter dengan pengerjaan yang rumit.

sumber : Republika.co.id

Pesona Samarkand

Pesona Samarkand

PONPES AL IMAN – Ketika Ibnu Batutah mengunjungi Samarkand pada 1330, pelancong Muslim yang masyhur itu menggambarkannya sebagai salah satu kota teragung, terbaik, dan paling sempurna dalam hal keindahnnya. Ibnu Batutah memang benar! Sebab, keindahan yang ditawarkan Samarkand memang sangat memesona. Bangunan masjid, istana, taman, dan beragam mahakarya arsitektur nan menawan lainnya yang terdapat di kota ini bakal mengingatkan orangorang pada negeri dongeng seperti yang dituturkan oleh tokoh fiktif Ratu Syahrazad dalam kisah Seribu Satu Malam. “Bahkan, keindahan Samarkand boleh disebut bagian dari surga Allah di bumi,” ungkap Afifa Thabet dalam artikel berjudul “Samarkand is an Astonishing City Where Islamic Treasures and Eastern Beauty Meet”, yang dilansir laman Mvslim.com, belum lama ini.

Samarkand adalah kota terbesar kedua di Uzbekistan, setelah Tashkent. Keberadaan kota ini setidaknya telah melalui perjalanan sejarah selama 2.750 tahun. Samarkand juga dianggap sebagai salah satu kota tertua di dunia karena didirikan pertama kali pada zaman peradaban kuno negeri Sogdiana (sekitar 600 SM). Lokasinya yang berada di Jalur Sutra menjadikan Samarkand salah satu kota paling subur di Asia Tengah selama berabad-abad, baik sebelum maupun sesudah penaklukan oleh bangsa Arab Muslim. Kota ini tumbuh sebagai pusat perdagangan internasional terpenting di Asia Tengah. Di kota ini pula, para pedagang dari berbagai negara bertemu dan saling bertukar pikiran sehingga membentuk asimilasi kebudayaan di antara mereka. Alexander Agung dari Makedonia, yang menaklukkan Samarkand pada 329 SM, berkata: “Yang saya dengar tentang keindahan kota ini memang benar adanya. Bahkan, kota ini jauh lebih indah dalam kenyataan.” Pada abad ke8, Samarkand ditaklukkan oleh bangsa Arab dan Muslim. Selama berada di bawah pemerintahan Dinasti Umayyah, kota ini tumbuh makmur menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan rute antara Baghdad dan Cina.

Selanjutnya, pada masa pe merintahan Dinasti Abbasiyah, posisi Samar kand sebagai ibu kota Asia Tengah terus berkembang menjadi pusat per adab an Islam yang sangat penting. Di kota inilah, salah satu ulama hadis terbesar dalam sejarah Islam, Imam alBu khari, dimakamkan pada 870 M/256 H. Saat berada di bawah kekuasaan Dinasti Samaniyah Khurasan (862–999), Dinasti Turki Seljuk (1037–1194), dan kemudian Dinasti Shah Khawarazmi (1212–1220), Samarkand terus berkembang menjadi kota yang maju. Namun, peradaban agung yang sudah dibangun selama berabadabad di kota ini langsung runtuh seketika tatkala pasukan Mongol yang dipimpin oleh Jengis Khan menginvasi Samarkand pada 1220. Kemegahan peradaban di Samarkand mulai bangkit kembali ketika Kekaisaran Timuriyah menaklukkan kota ini pada abad ke14.

Setelah berhasil menguasai Transoksiana pada 1370, Timur Lenk (sang pendiri Dinasti Timuri yah—Red) mulai membangun kerajaannya dan menetapkan Samarkand sebagai pusat pemerintahannya. Hanya dalam tempo 35 tahun, dia berhasil menaklukk an seluruh Asia Tengah yang mencakup wilayah Iran, Irak, bagian selatan Rusia, hingga wilayah utara India. Timur Lenk memiliki minat yang ting gi terhadap dunia seni. Bahkan, semasa hidupnya, sang raja kerap membawa sejumlah perajin atau seniman dari berbagai daerah yang ditaklukkannya ke Samarkand. Karena itu, tidak mengherankan bila pada kemudian hari Dinasti Timuriyah juga tercatat sebagai salah satu kerajaan yang paling cemerlang dalam se jarah seni Islam. “Kesenian dan arsitektur Timuriyah memberikan inspirasi kepada daerah-daerah yang membentang dari Anatolia sampai ke India,” ung kap peneliti dari Museum Kesenian Met ro politan, Suzan Yalman, dalam arti kel nya, “The Art of the Timurid Period” (ca. 1370–1507). Setelah kematian Timur Lenk, pengaruh Kekaisaran Timuriyah segera melemah dalam waktu singkat dan akhirnya benarbenar kehilangan kekuatannya pada akhir abad ke15. Samar kand lalu diperintah oleh bangsa Uzbek selama empat abad berikutnya. Kota ini sempat pula menjadi bagian dari Emirat Bukhara sebelum jatuh ke tangan ten tara Rusia pada 1868. Samarkand kemudian ditetapkan sebagai ibu kota Republik Sosialis Soviet Uzbekistan pada 1925. Namun, sejak 1930, ibu kota negara itu akhirnya dipindahkan ke Tashkent. Saat ini, Samarkand tercatat sebagai salah satu kota tua yang masuk dalam daftar warisan budaya dunia UNESCO. Dengan segala kemegahan peradaban yang dimilikinya, Samarkand layak disebut sebagai harta karun dunia Islam di Jalur Sutra—yang wajib dijaga kelestariannya.

sumber : Republika.co.id

Redupnya Pesona Iskandariyah

Redupnya Pesona Iskandariyah

Redupnya Pesona Iskandariyah

PONPES AL IMAN – Perang Salib berlangsung antara 1096 dan 1291 M. Dalam periode tersebut, ada delapan pertempuran yang memperhadapkan tidak hanya Kristen dan Muslim, tetapi juga antara sekte-sekte tertentu di internal umat Nasrani. Menjelang akhir abad ke-13, Kesultanan Mamluk berhasil menguasai basis terakhir pasukan Salib di Akre, kini sebuah kota di Palestina Utara. Namun, sisa-sisa kekuatan mereka terus bertahan di sejumlah wilayah.

Paul Crawford dalam the Crusades An Encyclopediamenjelaskan, Peter I dari Siprus bersama dengan kanselir Philip pe de Mezieres, dan utusan kepausan Peter Thomas, berupaya menghidupkan lagi pasukan Salib pada pertengahan abad ke-14. Kalangan sejarawan belum satu suara dalam menentukan, apakah semata-mata faktor agama, hasrat merebut Yerusalem dari tangan Muslimin, ataukah raja Siprus itu memiliki alasan-alasan lain yang lebih sosial-politis di balik rencananya. Pada 1365, Peter I berhasil mengumpulkan pasukan Kristen dari Siprus, Prancis, dan Inggris. Jumlahnya mencapai 10 ribu orang, yang dilengkapi dengan 165 unit kapal dan 1.400 ekor kuda. Mereka semua berkumpul di Pulau Rhodes (Yunani). Sasaran awalnya adalah Iskandariah, kota pelabuhan terpenting di Mesir.Untuk kemudian, rencananya pasukan Salib terba rukan ini hendak memasuki Yerusalem dari arah selatan.

Gerombolan ini tiba di Iskandariah pada 9 Oktober 1365. Langsung saja mereka menyerbu rumah-rumah penduduk setempat dan pelbagai fasilitas publik yang ada. Keadaan kota tersebut sesungguhnya dalam masa damai. Oleh karena itu, sejumlah benteng kota tidak cukup siap dalam menghadapi serangan yang amat mendadak. Hanya dalam beberapa jam, Peter I dan pasukannya dapat menduduki seluruh Iskandariah. Ratusan orang tewas. Tidak kurang dari lima ribu orang dijadikan budak. Pasukan Salib membakar hampir seluruh masjid, gereja, kuil, dan perpustakaan kota. Seluruh harta benda yang dirampoknya sangat banyak. Lebih dari 70 unit kapal bermuatan sesak dengan barang-barang berharga yang mereka rampas dari penduduk setempat. Adapun kapal-kapal sisanya digunakan untuk mengangkut para tawanan. Kerajaan Mamluk tidak tinggal diam begitu menerima kabar nahas tersebut.

Sultan al-Ashraf Shaban segera menggerakkan pasukannya ke Iskandariah. Menyadari hal itu, para pimpinan pasukan Salib bersilang pendapat. Philippe de Mezieres ingin agar Iskandariah dipertahankan dari serangan balasan balatentara Muslim. Namun, mayoritas pasukan Salib ingin lekas pergi dari kota itu. Peter I pun memerintahkan seluruh jajarannya agar meninggalkan Iskandariah pada 12 Oktober 1365. Bubar sudah rencana mereka untuk melanjutkan konvoi ke Yerusalem. Walaupun berlangsung hanya be berapa hari, penaklukan atas Iskan dariah itu menandakan awal redupnya kota tersebut. Ensiklopedia Historic Cities of the Islamic World menjelaskan, sultan-sultan Mamluk amat jarang mengunjungi wilayah di pesisir utara Mesir itu. Iskandariah justru dicitrakan sebagai daerah pembuangan bagi para tahanan politik. Pada 1447, Sultan Qaitbay menambah luas benteng-benteng pertahanan kota serta melengkapinya dengan senjata meriam.

Seorang pengelana Eropa menulis kesannya terhadap Iskandariah pada 1507, Tidak ada (pemandangan berkesan) yang didapati kecuali tumpukan batu dan jarang sekali jalan-jalan yang besar. Sejak 1453, ibu kota Byzantium jatuh ke tangan Kesultanan Utsmaniyah. Namanya berubah dari Konstan tinopel menjadi Istanbul. Mulai saat itu, kerajaan-kerajaan Kristen di Eropa mengalami kesulitan dalam memeroleh komoditas-komoditas impor dari Asia. Sebab, banyak kota pelabuhan yang strategis di pesisir Asia Barat dan Afrika Utara telah menjadi wilayah Utsmaniyah. Hal itu mendorong para pedagang Eropa Kristen untuk menemukan rute maritim baru yang dapat membawa mereka sampai ke India dan Maluku, produsen utama rempah- rempah. Pada 1519, Utsmaniyah melebarkan kekuasaannya hingga Iskandariah. Bandar kota tersebut sejak berabad-abad silam berfungsi sebagai pemasok rempah-rempah untuk pasar Eropa di Laut Tengah. Dengan jatuhnya Iskan dariah, orang-orang Eropa- Kristen makin terkendala dalam memenuhi impor dari Asia. Padahal, kebutuhannya terhadap rempah-rempah meningkat pesat, terutama sejak akhir Perang Salib. Pertempuran dua abad lamanya itu tidak melulu konflik, tetapi juga perjumpaan budaya antara Barat dan Timur. Alhasil, masyarakat Eropa mulai mengenal sajian yang lebih beragam dengan racikan bumbu-bumbu penyedap khas Asia. Beberapa penjelajah Eropa mulai merintis jalur laut yang menuju India dan Nusantara pada abad ke-15. Itulah awal dari Zaman Penjelajahan, yang akhirnya memunculkan kolonialisme modern seiring dengan revolusi industri pada akhir abad ke-18. Sementara itu, Iskandariah tidak begitu ramai bila dibandingkan masa-masa sebelumnya.

sumber : Republika.co.id

Hafal Al Qur’an Tanpa Menghafal ? Insya Allah bisa

Hafal Al Qur’an Tanpa Menghafal ? Insya Allah bisa

HAFAL AL QUR’AN 30 JUZ ? Siapa yang tidak mau menjadi penghafal Al Qur’an ? Pasti setiap muslim yang beriman dan taat menginginkan dan bercita-cita menjadi Hafizh Al Qur’an.
Rasulullah bersabda:
“Penghafal Al Qur’an akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Qur’an akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Qur’an kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu diapakaikan jubah karamah. Kemudian Al Qur’an memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu: bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan” (HR Tirmizi)

Dari ‘Ali bin Abi Thalib bahwaBanyak metode dalam menghapal Alquran untuk menjadikan keluarga dengan generasi yang qurani. Dari Utsman bin Affan , Rasulullah bersabda, “Yang terbaik di antara kamu adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya”. Pernyataan ini menjadi salah satu langkah semangat bagi generasi dan orang tua untuk tetap semangat dalam menghapal dan mengamalkan Al Quran.

Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan bekerja sama dengan Syaamil Quran mengadakan pelatihan menghafal Alquran metode tikrar, Ahad (12/03) di Masjid Ki Ageng Wiroreno. Pelatihan yang bertajuk “Hafal Quran Tanpa Menghafal” ini dibawakan oleh Ustadz M Ulin Nuha, M.S.I
Acara ini diselenggarakan dalam rangka menyambut milad ke 75 Al Iman/30 tahun Pondok Pesantren Islam Al Iman. Pelatihan itu dimaksudkan untuk membantu umat Islam yang kesulitan dalam menentukan metode menghafal Al-Quran, khususnya bagi mereka yang baru memulai untuk menghafal Al-Quran. Diikuti oleh sekitar 150 muslimin & muslimat dari berbagai daerah di Kabupaten Magelang
Metode tikrar ini diklaim dapat membuat orang bisa menghafal Alquran tanpa perlu menghafalnya. Metode tikrar ini mengedepankan pentingnya pengulangan. Para pembaca Alquran diharuskan untuk mengulang terus bacaan Al Qur’an-nya sampai minimal 40 kali sampai ia hafal betul di luar kepala.