fbpx
Berbagi Kebahagiaan dengan Berqurban

Berbagi Kebahagiaan dengan Berqurban

[vc_row][vc_column][vc_column_text]Idul Adha menjadi salah satu agenda yang senantiasa ditunggu oleh santriwan santriwati Pesantren Islam Al Iman. Meskipun tidak diberikan perizinan pulang kerumah, mereka ikhlas untuk berbagi kebahagiaan merayakan Idul Adha 1436 H ini di pesantren. Dan setiap tahun selalu tercipta pengalaman dan cerita seru terutama bagi santri kelas VII dan Takhassus yang baru pertama mengikuti kegiatan Idul Adha di pesantren.

Kamis, 24 September 2015 / 10 Dzulhijjah 1436 H pagi dilaksanakan shalat Idul Adha 1436H di lapangan pesantren setelah sehari sebelumnya secara gotong royong dibersihkan dan dipersiapkan oleh para santri. Gema takbir berkumandang sejak semalam sampai menjelang dilaksanakannya shalat ‘Id, sekitar jam 06.00 seluruh santri sudah berkumpul di lapangan pesantren bersama dewan asatidz, warga sekitar dan wali santri. Bertindak sebagai Imam dan Khotib Pimpinan Pesantren Islam Al Iman yakni Kyai Muhammad Zuhaery, MA shalat “id dimulai pukul 06.30. Dengan khusyu’ jama’ah mengikuti shalat dan mendengarkan khutbah.

Para Jama'ah khusyuk mendengkan khutbah
Para Jama’ah khusyuk mendengkan khutbah

Selepas mengikuti shalat Id para santri berkumpul di halaman belakang untuk mengikuti proses pemotongan hewan qurban. Pada tahun ini alhamdulillah pesantren bisa menyembelih 6 ekor domba (kambing gembel yang berasal dari iuran santri sebagai bentuk latihan berqurban, alumni, wali santri dan donatur pesantren. Sebagian santri tingkat akhir ditugaskan untuk membantu pemotongan daging qurban dan sesuai dengan tradisi pesantren daging qurban dibagikan kepada seluruh santri untuk diolah atau dimasak secara berkelompok. Tentunya bukan sekedar memasak biasa namun diperlombakan (lomba memasak daging kambing) jadi santri semakin bersemangat, dari lomba memasak inilah santri mengamalkan ilmu yang diajarkan di kegiatan ekstrakurikuler tata boga berlatih banyak hal.
Pertama, santri berlatih mandiri, mulai dari menyiapkan alat masak santri harus mencari berbagai peralatan sendiri karena panitia hanya menyiapkan daging dan bumbu-bumbu. Biasanya para santri meminjam alat masak dari para asatidz, peralatan pramuka hingga meminjam dari masyarakat sekitar.
Kedua, Gotong royong, dalam proses menyiapkan olahan daging qurban diperlukan kerjasama antar santri. Setiap kelompok membagi tugas antara santri diantaranya menyiapkan memotong-motong daging, menyiapkan bumbu, menyiapkan api, memasak hingga menyiapkan hidangan untuk diserahkan ke dewan juri.
Ketiga, santri dilatih untuk berbagi antar sesama, daging yang dibagikan pada masing-masing kelompok setelah diolah harus dibagi rata kepada setiap anggota kelompok. Pembagian kelompok disengaja mencampur antar santri tingkat awal hingga akhir dengan harapan munculnya rasa kasih sayang antara santri berbagai tingkatan. Santri besar tidak boleh menang sendiri dan harus berbagi secara adil pada seluruh santri anggotanya.
Keempat santri juga berlatih tanggung jawab terhadap peralatan memasak yang dipinjam dan menjaga kebersihan lingkungan yang digunakan sebagai “dapur” untuk memasak daging qurban.

Sebagian santri putra terlihat kompak memasak daging qurban
Sebagian santri putra terlihat kompak memasak daging qurban
Sebagian santri putri sedang menyiapkan bumbu untuk masakannya
Sebagian santri putri sedang menyiapkan bumbu untuk masakannya

Setelah semua kelompok selesai memasak, sekira jam 12.00 seluruh masakan daging qurban hasil karya santri sudah terkumpul di meja penjurian, berbagai macam masakan terhidang menggoda lidah para juri yang terdiri dari dewan asatidz untuk segera mencicipi. Dari tahun ketahun masakan yang disajikan santri selalu meningkat baik dari rasa, menu sampai cara penyajian yang unik. Dari 20 kelompok tersaji 40 masakan dengan rasa yang berbeda-beda karena setiap kelompok diharuskan memasak 2 jenis masakan, dewan juri pun dibuat galau untuk menentukan 4 pemenang lomba memasak, 2 dari kelompok putra dan 2 dari putri.
Sebagian hasil masakan santri Pesantren Islam Al Iman sedang dinilai dewan asatidz
Sebagian hasil masakan santri Pesantren Islam Al Iman sedang dinilai dewan asatidz

Selain dibagikan kepada santri untuk diolah santri, sebagian daging dibagikan kepada keluarga pesantren dan warga sekitar untuk mempererat tali silaturahim juga syiar pesantren. Betapa serunya ber-Idul Adha di Pesantren Islam Al Iman ini, karena santri bisa belajar banyak hal selain mengaji, santri juga belajar mengabdi, mandiri, gotong royong, bertanggung jawab dan tentunya santri mengerti indahnya saling berbagi dan mengerti makna kebersamaan yang sebenarnya. Dan pastinya pengalaman berharga ini tidak mmungkin dirasakan oleh mereka yang tidak belajar di pesantren.

Selamat Idul Adha 1436 H bagi seluruh warga pesantren dan kaum muslimin.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]