fbpx
Pesona Samarkand

Pesona Samarkand

PONPES AL IMAN – Ketika Ibnu Batutah mengunjungi Samarkand pada 1330, pelancong Muslim yang masyhur itu menggambarkannya sebagai salah satu kota teragung, terbaik, dan paling sempurna dalam hal keindahnnya. Ibnu Batutah memang benar! Sebab, keindahan yang ditawarkan Samarkand memang sangat memesona. Bangunan masjid, istana, taman, dan beragam mahakarya arsitektur nan menawan lainnya yang terdapat di kota ini bakal mengingatkan orangorang pada negeri dongeng seperti yang dituturkan oleh tokoh fiktif Ratu Syahrazad dalam kisah Seribu Satu Malam. “Bahkan, keindahan Samarkand boleh disebut bagian dari surga Allah di bumi,” ungkap Afifa Thabet dalam artikel berjudul “Samarkand is an Astonishing City Where Islamic Treasures and Eastern Beauty Meet”, yang dilansir laman Mvslim.com, belum lama ini.

Samarkand adalah kota terbesar kedua di Uzbekistan, setelah Tashkent. Keberadaan kota ini setidaknya telah melalui perjalanan sejarah selama 2.750 tahun. Samarkand juga dianggap sebagai salah satu kota tertua di dunia karena didirikan pertama kali pada zaman peradaban kuno negeri Sogdiana (sekitar 600 SM). Lokasinya yang berada di Jalur Sutra menjadikan Samarkand salah satu kota paling subur di Asia Tengah selama berabad-abad, baik sebelum maupun sesudah penaklukan oleh bangsa Arab Muslim. Kota ini tumbuh sebagai pusat perdagangan internasional terpenting di Asia Tengah. Di kota ini pula, para pedagang dari berbagai negara bertemu dan saling bertukar pikiran sehingga membentuk asimilasi kebudayaan di antara mereka. Alexander Agung dari Makedonia, yang menaklukkan Samarkand pada 329 SM, berkata: “Yang saya dengar tentang keindahan kota ini memang benar adanya. Bahkan, kota ini jauh lebih indah dalam kenyataan.” Pada abad ke8, Samarkand ditaklukkan oleh bangsa Arab dan Muslim. Selama berada di bawah pemerintahan Dinasti Umayyah, kota ini tumbuh makmur menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan rute antara Baghdad dan Cina.

Selanjutnya, pada masa pe merintahan Dinasti Abbasiyah, posisi Samar kand sebagai ibu kota Asia Tengah terus berkembang menjadi pusat per adab an Islam yang sangat penting. Di kota inilah, salah satu ulama hadis terbesar dalam sejarah Islam, Imam alBu khari, dimakamkan pada 870 M/256 H. Saat berada di bawah kekuasaan Dinasti Samaniyah Khurasan (862–999), Dinasti Turki Seljuk (1037–1194), dan kemudian Dinasti Shah Khawarazmi (1212–1220), Samarkand terus berkembang menjadi kota yang maju. Namun, peradaban agung yang sudah dibangun selama berabadabad di kota ini langsung runtuh seketika tatkala pasukan Mongol yang dipimpin oleh Jengis Khan menginvasi Samarkand pada 1220. Kemegahan peradaban di Samarkand mulai bangkit kembali ketika Kekaisaran Timuriyah menaklukkan kota ini pada abad ke14.

Setelah berhasil menguasai Transoksiana pada 1370, Timur Lenk (sang pendiri Dinasti Timuri yah—Red) mulai membangun kerajaannya dan menetapkan Samarkand sebagai pusat pemerintahannya. Hanya dalam tempo 35 tahun, dia berhasil menaklukk an seluruh Asia Tengah yang mencakup wilayah Iran, Irak, bagian selatan Rusia, hingga wilayah utara India. Timur Lenk memiliki minat yang ting gi terhadap dunia seni. Bahkan, semasa hidupnya, sang raja kerap membawa sejumlah perajin atau seniman dari berbagai daerah yang ditaklukkannya ke Samarkand. Karena itu, tidak mengherankan bila pada kemudian hari Dinasti Timuriyah juga tercatat sebagai salah satu kerajaan yang paling cemerlang dalam se jarah seni Islam. “Kesenian dan arsitektur Timuriyah memberikan inspirasi kepada daerah-daerah yang membentang dari Anatolia sampai ke India,” ung kap peneliti dari Museum Kesenian Met ro politan, Suzan Yalman, dalam arti kel nya, “The Art of the Timurid Period” (ca. 1370–1507). Setelah kematian Timur Lenk, pengaruh Kekaisaran Timuriyah segera melemah dalam waktu singkat dan akhirnya benarbenar kehilangan kekuatannya pada akhir abad ke15. Samar kand lalu diperintah oleh bangsa Uzbek selama empat abad berikutnya. Kota ini sempat pula menjadi bagian dari Emirat Bukhara sebelum jatuh ke tangan ten tara Rusia pada 1868. Samarkand kemudian ditetapkan sebagai ibu kota Republik Sosialis Soviet Uzbekistan pada 1925. Namun, sejak 1930, ibu kota negara itu akhirnya dipindahkan ke Tashkent. Saat ini, Samarkand tercatat sebagai salah satu kota tua yang masuk dalam daftar warisan budaya dunia UNESCO. Dengan segala kemegahan peradaban yang dimilikinya, Samarkand layak disebut sebagai harta karun dunia Islam di Jalur Sutra—yang wajib dijaga kelestariannya.

sumber : Republika.co.id

Redupnya Pesona Iskandariyah

Redupnya Pesona Iskandariyah

Redupnya Pesona Iskandariyah

PONPES AL IMAN – Perang Salib berlangsung antara 1096 dan 1291 M. Dalam periode tersebut, ada delapan pertempuran yang memperhadapkan tidak hanya Kristen dan Muslim, tetapi juga antara sekte-sekte tertentu di internal umat Nasrani. Menjelang akhir abad ke-13, Kesultanan Mamluk berhasil menguasai basis terakhir pasukan Salib di Akre, kini sebuah kota di Palestina Utara. Namun, sisa-sisa kekuatan mereka terus bertahan di sejumlah wilayah.

Paul Crawford dalam the Crusades An Encyclopediamenjelaskan, Peter I dari Siprus bersama dengan kanselir Philip pe de Mezieres, dan utusan kepausan Peter Thomas, berupaya menghidupkan lagi pasukan Salib pada pertengahan abad ke-14. Kalangan sejarawan belum satu suara dalam menentukan, apakah semata-mata faktor agama, hasrat merebut Yerusalem dari tangan Muslimin, ataukah raja Siprus itu memiliki alasan-alasan lain yang lebih sosial-politis di balik rencananya. Pada 1365, Peter I berhasil mengumpulkan pasukan Kristen dari Siprus, Prancis, dan Inggris. Jumlahnya mencapai 10 ribu orang, yang dilengkapi dengan 165 unit kapal dan 1.400 ekor kuda. Mereka semua berkumpul di Pulau Rhodes (Yunani). Sasaran awalnya adalah Iskandariah, kota pelabuhan terpenting di Mesir.Untuk kemudian, rencananya pasukan Salib terba rukan ini hendak memasuki Yerusalem dari arah selatan.

Gerombolan ini tiba di Iskandariah pada 9 Oktober 1365. Langsung saja mereka menyerbu rumah-rumah penduduk setempat dan pelbagai fasilitas publik yang ada. Keadaan kota tersebut sesungguhnya dalam masa damai. Oleh karena itu, sejumlah benteng kota tidak cukup siap dalam menghadapi serangan yang amat mendadak. Hanya dalam beberapa jam, Peter I dan pasukannya dapat menduduki seluruh Iskandariah. Ratusan orang tewas. Tidak kurang dari lima ribu orang dijadikan budak. Pasukan Salib membakar hampir seluruh masjid, gereja, kuil, dan perpustakaan kota. Seluruh harta benda yang dirampoknya sangat banyak. Lebih dari 70 unit kapal bermuatan sesak dengan barang-barang berharga yang mereka rampas dari penduduk setempat. Adapun kapal-kapal sisanya digunakan untuk mengangkut para tawanan. Kerajaan Mamluk tidak tinggal diam begitu menerima kabar nahas tersebut.

Sultan al-Ashraf Shaban segera menggerakkan pasukannya ke Iskandariah. Menyadari hal itu, para pimpinan pasukan Salib bersilang pendapat. Philippe de Mezieres ingin agar Iskandariah dipertahankan dari serangan balasan balatentara Muslim. Namun, mayoritas pasukan Salib ingin lekas pergi dari kota itu. Peter I pun memerintahkan seluruh jajarannya agar meninggalkan Iskandariah pada 12 Oktober 1365. Bubar sudah rencana mereka untuk melanjutkan konvoi ke Yerusalem. Walaupun berlangsung hanya be berapa hari, penaklukan atas Iskan dariah itu menandakan awal redupnya kota tersebut. Ensiklopedia Historic Cities of the Islamic World menjelaskan, sultan-sultan Mamluk amat jarang mengunjungi wilayah di pesisir utara Mesir itu. Iskandariah justru dicitrakan sebagai daerah pembuangan bagi para tahanan politik. Pada 1447, Sultan Qaitbay menambah luas benteng-benteng pertahanan kota serta melengkapinya dengan senjata meriam.

Seorang pengelana Eropa menulis kesannya terhadap Iskandariah pada 1507, Tidak ada (pemandangan berkesan) yang didapati kecuali tumpukan batu dan jarang sekali jalan-jalan yang besar. Sejak 1453, ibu kota Byzantium jatuh ke tangan Kesultanan Utsmaniyah. Namanya berubah dari Konstan tinopel menjadi Istanbul. Mulai saat itu, kerajaan-kerajaan Kristen di Eropa mengalami kesulitan dalam memeroleh komoditas-komoditas impor dari Asia. Sebab, banyak kota pelabuhan yang strategis di pesisir Asia Barat dan Afrika Utara telah menjadi wilayah Utsmaniyah. Hal itu mendorong para pedagang Eropa Kristen untuk menemukan rute maritim baru yang dapat membawa mereka sampai ke India dan Maluku, produsen utama rempah- rempah. Pada 1519, Utsmaniyah melebarkan kekuasaannya hingga Iskandariah. Bandar kota tersebut sejak berabad-abad silam berfungsi sebagai pemasok rempah-rempah untuk pasar Eropa di Laut Tengah. Dengan jatuhnya Iskan dariah, orang-orang Eropa- Kristen makin terkendala dalam memenuhi impor dari Asia. Padahal, kebutuhannya terhadap rempah-rempah meningkat pesat, terutama sejak akhir Perang Salib. Pertempuran dua abad lamanya itu tidak melulu konflik, tetapi juga perjumpaan budaya antara Barat dan Timur. Alhasil, masyarakat Eropa mulai mengenal sajian yang lebih beragam dengan racikan bumbu-bumbu penyedap khas Asia. Beberapa penjelajah Eropa mulai merintis jalur laut yang menuju India dan Nusantara pada abad ke-15. Itulah awal dari Zaman Penjelajahan, yang akhirnya memunculkan kolonialisme modern seiring dengan revolusi industri pada akhir abad ke-18. Sementara itu, Iskandariah tidak begitu ramai bila dibandingkan masa-masa sebelumnya.

sumber : Republika.co.id

Dari Pesantren untuk Bangsa Indonesia

Dari Pesantren untuk Bangsa Indonesia

“Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2016
Santri harus bangkit dan berkemajuan serta berkemandirian untuk kemajuan bangsa Indonesia tercinta”

DR. Muhammad Zuhaery, MA – Pengasuh Pondok Pesantren Islam Al Iman

Sejarah tidak akan memungkiri besarnya kontribusi serta peran Pesantren bersama Kyai dan santri santrinya dalam berbagai kiprahnya dalam pembangunan dan perjuangannya demi bangsa dan negara ini.

Nama nama besar seperti Tuanku Imam Bonjol, Yang merupakan seorang ulama besar, Mujahid dan dicatat sebagai salah seorang Pahlawan Nasional adalah salah satu bukti nyata kontribusi Pesantren bersama Kyai dan santrinya kepada nusa bangsa dan negara ini.
Menurut Wahjoetomo, penulis buku Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan, perlawanan pesantren terhadap Belanda dilakukan dengan tiga cara.
Pertama, uzlah (mengasingkan diri). Mereka menyingkir ke desa-desa dan tempat terpencil yang jauh dari jangkauan kolonial. Tidak aneh, jika pesantren mayoritas berada di daerah pinggiran, pelosok, dan bahkan pedalaman.

Dengan hijrah ke pelosok-pelosok pedesaan, pesantren mengembangkan masyarakat Muslim yang solid, yang pada gilirannya berperan sebagai kubu pertahanan rakyat dalam melawan penjajah. Raffles sendiri dalam bukunya The History of Java mengakui bahaya para kiai terhadap kepentingan Belanda. Sebab, menurutnya, banyak sekali kiai yang aktif dalam berbagai pemberontakan.

Bambu Runcing yang terkenal sebagai senjata para pejuang kemerdekaan adalah inisiatif dari Kiai Subkhi atau Mbah Subkhi atau Kyai Bambu Runcing yang kemudian diabadikan sebagai nama pesantren, yakni Pondok Pesantren Kiai Parak Bambu Runcing, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah.

Kedua, bersikap nonkooperatif dan melakukan perlawanan secara diam-diam. Selain mengaji dan menelaah kitab kuning, para kiai menumbuhkan semangat jihad santri-santrinya. Ketika Jepang memobilisasi tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah.
Ketiga, memberontak dan mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Misalnya, pemberontakan kaum Padri di Sumatra Barat (1821-1828) di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol, Dimana beliau merupakan seorang ulama besar, pemberontakan Pangeran Diponegoro, ( Pangeran Dipenogoropun merupakan seorang Kyai ) di Jawa Tengah (1825-1830), dan pemberontakan di Aceh (1873-1903) yang dipimpin oleh Teuku Umar dan Teuku Cik Ditiro. Di Banjar Kalimantan ada Pangeran Antasari ( Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin ) dengan Jiwa keislamannya yang didapat sejak dari kecil dari bimbingan bimbingan ‘ulama’ didukung para ulama,santri dan rakyat berjuang Kalimantan. semboyannya sangat terkenal adalah haram manyarah waja sampai kaputing (haram menyerah, baja sampai keujung). Maksudnya dalam mengusir penjajah Belanda tidak akan pernah meminta ampun atau menyerah, perjuangan akan diteruskan sampai tenaga yang penghabisan.

” Masihkah kita meragukan peran dan kontribusi institusi pesantren untuk negara dan bangsa ini? Sebaliknya, yang harus dipertanyakan adalah apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintah atau mungkin anda yang secara pribadi telah berkecukupan juga memiliki “power” untuk ikut berkiprah, berkontribusi dan berperan aktif terhadap pembangun dan pengembangkan pesantren-pesantren di Indonesia umumnya atau Pesantren di daerah terdekat anda khususnya.”

Bung Tomo dengan latar belakang kesantriannya terus mengobarkan semangat Zihad “Merdeka Atau Mati..Allahu Akbar”, semanga jihadnya tersebut yang membuat Arek Arek Soroboyo rela mengorbankan nyawa mereka berjuang demi negara. Bung Tomo terlebih dahulu sowan kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama pada saat itu. Bung Tomo izin untuk membacakan pidatonya yang merupakan manifestasi dari resolusi jihad yang sebelumnya telah disepakati oleh para ulama NU, Dan Tahukah anda bahwa Jendral Besar Panglima Besar Tentara Nasional Kita Jendral Soedirman (alm ) merupakan didikan dan gemblengan dari Kyai Haji Busyro di sebuah Pondok Pesantren di Binorong..Jend Soedirman juga bekerja sama dengan pondok pesantren yang dipimpin Kyai Siraj. Pondok Pesantren ini banyak menggiring santrinya untuk berjihad dalam pertempuran Ambarawa. dan masih banyak sekali peran serta serta kiprah dari para ulama, dan santri tokoh tokoh Islam dalam perjuangan mereka demi bangsa dan negara ini.

Semangat jihad yang dimiliki muslim dengan teriakan “Allahu Akbar”, yang telah dikobarkan oleh para Kyai, Ulama dan santri itulah yang menempatkan kita pada era sekarang ini, yaitu kemerdekaan”. karena Semangat dan mentalitas jihad pasti dimiliki oleh mayoritas ummat Islam..

Bahkan, besarnya pengaruh kiai tidak hanya terbatas pada masyarakat awam, tapi juga menjangkau istana-istana. Kiai Hasan Besari, dari pesantren Tegalsari Ponorogo, misalnya berperan besar dalam meleraikan pemberontakan di Keraton Kartasura. Bukan hanya itu, pesantren dulu juga mampu melahirkan pujangga. Raden Ngabehi Ronggowarsito adalah santri Kiai Hasan Besari yang berhasil menjadi Pujangga Jawa terkenal.

Secara historis, keberadaan pesantren hampir bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia. Alasannya sangat sederhana. Islam, sebagai agama dakwah, disebarkan secara efektif melalui proses transformasi ilmu dari ulama ke masyarakat (tarbiyah wa ta’lim, atau ta’dib). Proses ini di Indonesia berlangsung melalui pesantren.

Secara bahasa, pesantren tidak sepenuhnya merujuk pada kata dalam bahasa Arab. Sebutan untuk pelajar yang mencari ilmu bukan murid seperti dalam tradisi sufi, thalib atau tilmidh seperti dalam bahasa Arab, tapi santri yang berasal dari bahasa Sanskerta. San berarti orang baik, dan tra berarti suka menolong.
Sedangkan lembaga tempat belajar itu pun kemudian mengikuti akar kata santri dan menjadi pe-santri-an atau “pesantren”. Di Sumatra, pesantren disebut rangkang, meunasah, atau surau. Ini menunjukkan bahwa pendekatan dakwah para ulama yang permisif terhadap tradisi lokal.

Di Malaysia dan Thailand, lembaga ini dikenal dengan nama pondok. Kata ini merujuk pada bahasa Arab fundukyang berarti hotel atau penginapan, yang maksudnya adalah asrama. Jadi, meskipun istilah “pesantren” tidak memiliki akar kata dari tradisi Islam, tapi substansi pendidikannya tetap Islam.

Menurut KH. Imam Zarkasyi, dalam buku Pekan Perkenalan Pondok Modern Gontor, pesantren didefinisikan sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, di mana kiai sebagai sentral figurnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam di bawah bimbingan kiai yang diikuti santri sebagai kegiatannya.

Jadi, ada empat ciri utama pesantren. Pertama, pondok harus berbentuk asrama. Kedua, kiai sebagai sentral figur yang berfungsi sebagai guru, pendidik, dan pembimbing. Ketiga, masjid sebagai pusat kegiatan. Dan keempat, materi yang diajarkan tidak terbatas kepada kitab kuning saja.

Menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Penulis Peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization(INSIST), dengan catur-pusat inilah, pendidikan pesantren berfungsi sebagai “melting pot”, yaitu tempat untuk mengolah potensi-potensi dalam diri santri agar dapat berproses menjadi manusia seutuhnya (insan kamil).

Dengan demikian, karakter pendidikan pesantren bersifat menyeluruh. Artinya, seluruh potensi pikir dan zikir, rasa dan karsa, jiwa dan raga dikembangkan melalui berbagai media pendidikan yang terbentuk dalam suatu komunitas yang sengaja didesain secara integral untuk tujuan pendidikan.

“Di tengah gencarnya kampanye dan program pendidikan berkarakter dari pemerintah belakangan ini, pesantren justru jauh jauh hari sejak dari awal keberadaannya sudah menerapkan pola tersebut dengan pembelajaran Adab Dan Ahlaq”. Tujuan pendidikan pesantren pada hakekatnya seperti halnya tujuan kehidupan manusia di dunia ini adalah ibadah, yang spektrumnya seluas pengertian ibadah itu sendiri. Santri tidak hanya disiapkan untuk mengejar kehidupan dunia, tapi juga mempersiapkan kehidupan akhirat.

Di sisi lain, saat ini sedang banyak dikembangkan sekolah-sekolah yang diberi label Sekolah Berstandar Internasional (SBI), sebagian dengan pola boarding house school yang mengadopsi pola pendidikan pesantren . Tetapi jika kita melihatnya lebih dekat, sekolah-sekolah dengan label internasional tersebut hanyalah sekolah yang bertarif mahal (internasional), dan bukan sekolah yang berbahasa Inggris.
Ibaratnya, kita ingin anak kita menjadi artis, maka yang kita lakukan adalah mendandani anak kita dengan pakaian artis, bukan melatih vokal atau acting anak tersebut. Sekolah berstandar internasional yang sedang dirintis pemerintah juga dievaluasi dengan ujian nasional. Lalu, apa bedanya dengan sekolah berstandar nasional atau berstandar lokal?

Jika Anda ingin melihat sekolah berstandar internasional, eksistensi Pondok Modern Gontor adalah salah satu bukti konkretnya. Tidak hanya santri wajib berbahasa Arab dan Inggris, Gontor juga mampu menarik siswa dari luar negeri, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Brunai Darussalam, Jepang, Amerika Serikat, Australia, dan berbagai negara lainnya. Inilah sekolah bertaraf internasional, walaupun tanpa embel embel sekolah internasional.

Bahkan, jauh sebelum Indonesia merdeka dan jauh sebelum sistem pendidikannya mapan, pesantren dan alumni-alumninya telah banyak berperan—baik di nusantara maupun kancah dunia. Pada abad ke-17 hingga awal abad ke-19, tercatat nama-nama sekaliber Nuruddin Ar-Raniri, Hamzah al-Fansuri, Abdul Rauf al-Sinkili, Syekh Yusuf al-Makassari, Abdussamad al-Falimbani, Khatib Minangkabawi, Nawawi al-Bantani, Muhammad Arsyad al-Banjari, dan lain-lain.

Sosok-sosok alumni pesantren dan Timur-Tengah ini telah melahirkan karya-karya besar di bidang fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf. Citra intelektual dan ekspansi karya sosok-sosok ini bukan hanya sebatas taraf domestik nusantara, tapi juga sampai diakui di kawasan Timur Tengah dan Afrika. Nama nanama besar beliaupun masih terkenang dengan segala jejak jejaknya sampai sekarang.

Di zaman pergerakan pra-kemerdekaan, peran pesantren juga sangat menonjol, lagi-lagi melalui alumninya. HOS Cokroaminoto pendiri gerakan Syarikat Islam dan guru pertama Soekarno di Surabaya, adalah juga alumni pesantren. KH. Mas Mansur, KH. Hasyim Ash’ari, KH. Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, KH. Kahar Muzakkir adalah alumni pesantren yang menjadi tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh.

Sesudah kemerdekaan, alumni-alumni pesantren terus memainkan perannya dalam mengisi kemerdekaan. Di antaranya, H.M. Rasyidi (alumni Pondok Jamsaren, Menteri Agama RI pertama), Mohammad Natsir (alumni Pesantren Persis menjadi Perdana Menteri), KH. Wahid Hasyim (alumni pondok Tebuireng), KH. Muslih Purwokerto dan KH. Imam Zarkasyi (alumni Jamsaren, anggota Dewan Perancang Nasional), KH. Idham Khalid (alumni Pondok Gontor, wakil Perdana Menteri dan Ketua MPRS).

Di era Orde Baru, di tengah maraknya pembangunan fisik yang disertai dengan proses marginalisasi peran politik umat Islam, kiai dan pesantren tetap memiliki perannya dalam membangun bangsa. Dampak pembangunan fisik yang tidak berangkat dari konsep character building adalah dekadensi moral, korupsi, tindak kekerasan dan lain-lain.

Akibatnya, pendidikan, khususnya sistem sekolah di kota-kota besar tidak lagi menjanjikan kesalehan moral dan sosial anak didik. Dalam kondisi seperti inilah pesantren muncul menjadi sebagai alternatif penting. Dengan jiwa ukhuwwah Islamiyah, belum pernah di pesantren terjadi “tawuran”, atau terdengar adu jotos antar santri pondok A dengan pondok B dengan membawa senjata tajam, seperti yang sering kita lihat dan dengar di media. Dan karena jiwa kemandirian di pesantren, tidak sedikit dari santri drop out justru sukses sebagai pengusaha dan social entrepeneur.
Ketika terjadi upaya konvergensi ilmu pengetahuan agama dan umum, medan distribusi alumni pesantren menjadi semakin luas.

Penyeberangan santri ke perguruan tinggi umum menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Para santri ini kemudian mengembangkan kajian-kajian agama secara informal dan intensif yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa yang tidak memilik background agama.

Saat ini, peran pesantren tidak lagi langsung dimainkan oleh alumninya, tapi oleh murid-murid alumninya. Pergerakan mahasiswa, seperti HMI, PMII, IMM yang marak pada dekade 1970-an dan 1980-an, dan juga gerakan LDK, usrah-usrah dan intensifikasi aktivitas masjid kampus dan lain-lain, tidak dapat dipisahkan dari peran dan kontribusi alumni-alumni pesantren.

Di ITB ( Institute Technology Bandung ) Para Penggagas Mesjid Salman yang tentunya jiwa ke Islaman sudah melekat kuat dalam diri mereka, karena didikan Pondok, salah seorang Penggagasnya adalah Bang Imad ( alm ) Ayahnya, Haji Abdulrahim, adalah seorang ulama di Sumatera Utara. Sedangkan ibunya, Syaifiatul Akmal, seorang wanita yang merupakan cucu dari sekretaris Sultan Langkat, yang mana sejak dari kecil sudah mendidik Bang Imad (alm) dengan pondasi – pondasi Islami, bersama Mahasiswa dan masyarakat sekitarnyanya merintisnya sejak 50 tahunan yang lalu bersama Pengajian Mesjid Salman ITB-nya dalam berbagai kegiatan positif, terutama pembinaan guna menghasilkan generasi Islami yang mumpuni, yang berakidah kokoh,santun dalam ahlak serta luas wawasan keilmuannya. Salman ITB bersama komunitasnya aktif pula dalam berbagai kegiatan – kegiatan Sosial lainnya, secara tidak langsung Mesjid Salman menjadi central Da’wah dan Syiar dalam Kampus ITB, khususnya buat Mahasiswa-mahasiswa ITB dan di luar ITB juga umum dan Masyrakat sekitar kampus, dan tentunya masih banyak kiprah kiprah ormas dan organisasi organisasi Islam lainnya di kota kota besar terutama yang dimotori alumnus anak anak Pondok Pesantren, pada era sekarang.

Jadi apalagi yang diragukan dengan kontribusi “ulama, Ajengan ( Kyai ) Dan Santri serta generasi generasi Islam” Pada Bangsa dan Negara ini..?? terus apakah Pemerintah sudah memberikan perhatian dan kontribusi yang cukup pada pondok pondok Pesantren ..?? terutama Pondok Pondok Pesantren di daerah daerah Terpencil..yang masih terkesan “kumuh”, gak bermutu, gak menjamin masa depan, dengan tatapan sebelah mata dan senyum sinis dsb, yang membuat orang tua anak enggan mengamanahkan anaknya ke sebuah Pondok Pesantren karena imagenya tersebut..?? atau sibuk dengan berinvestasi pada Sekolah Bertaraf Internasional ( SBI ) dan Boarding house boarding house school….dengan alasan skeptis”penjaminan mutu kompetensi kelulusan” sementara banyak Pondok Pondok Pesantren terutama di pelosok yang tertatih tatih dengan dana mandiri dan seadanya berusaha bertahan demi syiar Islam..dan menghasilkan generasi generasi berkarakter yang memang sudah sejak dari dahulu adab serta ahlak merupakan salah satu pendidikan dasar di Pesantren…??? Bagaimana dengan anda sendiri yang sudah berkecukupan..apakah sudah ada pula peran aktif anda demi kemajuan Di’enul Islam yang diawali dari Pendidikan di Pondok Pondok Pesantren…
Masih akan sulitkah bagi alumnus-alumnus Pondok Pesantren untuk turut andil bela negara masuk dalam dunia militer dengan alasan “tidak memiliki ijazah formal..” ??? ataukah blusukannya penguasa atau calon calon penguasa ke Pondok-Pondok Pesantren untuk sowan ke kyai, hanya untuk mendapatkan simpati dengan di expose di media guna dukungan kekuasaan saja..menjelang PILKADA..??

wallahu’alam…

Makna Tahun Baru Hijriyah 1438 H

Makna Tahun Baru Hijriyah 1438 H

Kaum Muslimin kembali memperingati pergantian tahun baru Hijriyah, yaitu 1437 H berganti 1438 H. Peristiwa ini mengingatkan kembali bahwa jatah hidup di dunia berkurang meskipun secara matematika usia bertambah.

Seorang ulama besar Imam Hasan al-Basri mengingatkan, “Wahai anak Adam, sesungguhnya Anda bagian dari hari, apabila satu hari berlalu, berlalu pulalah sebagian hidupmu.”

Dengan pemaknaan seperti itu seharusnya setiap pergantian tahun –baik Hijriyah maupun Masehi– dimanfaatkan untuk mengevaluasi diri (muhasabah) sejauh mana bekal yang sudah kita siapkan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian, bukan untuk berhura-hura hingga menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Khalifah Umar bin Khatab pernah menyatakan, “Evaluasilah diri kalian sebelum kalian dievaluasi. Timbanglah amal-amal kalian sebelum ditimbang. Bersiaplah untuk menghadapi hari yang amat dahsyat. Pada hari itu segala sesuatu yang ada pada diri kalian menjadi jelas, tidak ada yang tersembunyi.”

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah melangkah kaki seorang anak Adam di hari kiamat sebelum dievaluasi empat hal: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dihabiskan, dan tentang ilmunya untuk apa dimanfaatkan.” (HR Tirmidzi).

Terkait usia, Rasulullah SAW menegaskan, “Sebaik-baiknya manusia ialah yang panjang umurnya dan baik amalnya, sedangkan seburuk-buruknya manusia adalah yang panjang umurnya, tetapi buruk amal perbuatannya.” (HR Tirmidzi).

Selain itu, pergantian tahun juga mengingatkan tentang hakikat waktu. Imam Syahid Hasan al-Banna berkata, “Siapa yang mengetahui arti waktu berarti mengetahui arti kehidupan. Sebab, waktu adalah kehidupan itu sendiri.”

Dengan begitu, manusia yang selalu menyia-nyiakan waktu dan umurnya berarti tidak memahami arti kehidupan. Ulama kharismatik Dr Yusuf Qaradhawi dalam bukunya Al-Waqtu fi Hayatil Muslim menjelaskan tentang tiga ciri waktu, yaitu cepat berlalu, tidak akan kembali lagi, dan sebagai harta yang paling mahal.

Pertanyaannya, jika waktu itu cepat berlalu dan tidak mungkin kembali lagi, serta harta yang paling mahal, apakah pantas kita menyia-nyiakannya?

Karena itu, agar dalam pergantian tahun baru Hijriyah kali ini memberi manfaat berharga dalam kehidupan, maka ada baiknya kita renungkan kembali berbagai keutamaan berhijrah di jalan Allah SWT. “…. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, barang siapa berhijrahnya karena dunia yang ingin diperoleh atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ganjarannya sekadar apa yang diniatkan dalam hijrahnya.” (HR Bukhari).

Dalam berhijrah, Allah memberikan dua pilihan, yaitu berhijrah menuju kebaikan (al-khair) atau keburukan (asy-syar). Dr Ahzami Samiun Jazuli dalam bukunya Hijrah dalam Pandangan Alquran menyatakan, hijrah bukan berarti perpindahan tempat dari satu negeri ke negeri yang lain. Hijrah juga bukan perjalanan mencari sesuap nasi dari negeri yang gersang menuju negeri yang subur.

Lanjut Ahzami, sesungguhnya hijrah adalah perjalanan yang dilakukan oleh setiap Mukmin karena kebenciannya terhadap berbagai bentuk penjajahan, belenggu yang menghalangi kebebasan untuk mengekspresikan keimanan, serta untuk kemaslahatan.

Semangat hijrah hendaknya tetap hidup dalam jiwa setiap manusia, menjulang tinggi dalam hatinya, dan menghiasi setiap pandangan matanya. Berhijrah dari kejahatan menuju kebaikan, dari kebodohan menuju ilmu, dari kekerasan menuju keramahan, dari kebohongan menuju kejujuran, dari kesewenang-wenangan menuju keadilan, dari kelembekan menuju ketegasan.

Kemudian, dari arogansi menuju kelemahlembutan, dari permusuhan menuju perdamaian, dari saling menjatuhkan menuju saling membangun, dari yang biasanya minta selalu dilayani menuju berlomba saling melayani, dan seterusnya. Intinya, berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik dan memberi manfaat yang lebih besar kepada umat, bangsa, dan negara.

Dan, dengan berhijrah di jalan Allah dan Rasul-Nya maka seseorang akan memperoleh banyak keutamaan. Di antaranya, pertama, akan diberikan keluasan rezeki. “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nisa’ [4]: 100).

Kedua, dihapuskan kesalahan-kesalahannya. “Maka, orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Kuhapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS Ali Imran [3]: 195).

Ketiga, ditinggikan derajatnya di sisi Allah dan mendapatkan jaminan surga-Nya. “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda, dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripadanya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS at-Taubah [9]: 20-22).

Keempat, diberikan kemenangan dan meraih keridhaan-Nya. “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah [9]: 100).

Untuk itu, pada momentum pergantian tahun baru Islam kali ini, hendaknya kita jadikan sebagai titik tolak untuk merancang dan menjalani kehidupan secara lebih baik. Selamat tinggal tahun 1437 H dan selamat datang tahun baru 1438 H

9 Cara meraih Lailatul Qadar

9 Cara meraih Lailatul Qadar

S

ubhanallah, seorang mukmin yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya pasti sangat merindukan Lailatul Qadar. Karena malam itu teramat istimewa, malam dengan kadar lebih baik dari 1.000 bulan, atau 83 tahun 3 bulan, khoirun min alfi syahrin; malam turunnya para Malaikat dengan dipimpin langsung Malaikat Jibril atas izin-Nya, tanazzalul Malaaikatu warruuhu; malam penuh kedamaian hingga terbit fajar, salaamun hiya hatta mathla’il fajri.

Malam ini sungguh tidak ternafikan sebagai malam yang sangat terasa nikmat. Apalagi jika menikmatinya dengan beriktikaf di masjid. Tercecaplah puncak kedekatan diri dengan Allah, sehingga air mata pun tidak terbendung lagi. Surah Al-Qodar [97] turun karena menunjukkan keistimewaan malam yang terjadinya pada Asyrul Awaakhir, 10 akhir Ramadhan ini.

Adapun untuk mengenali malam indah ini, Rasul SAW bersabda, ”Malam Lailatul Qadar bersih, tidak sejuk, tidak panas, tidak berawan padanya, tidak hujan, tidak ada angin, tidak bersinar bintang dan daripada alamat siangnya terbit matahari dan tiada cahaya padanya (suram).” (HR Muslim).

Berikut ini kiat untuk menjemputnya. Pertama, benar-benar bersemangat untuk meraihnya diawali dengan meluruskan niat semata ingin ridha Allah SWT. ”Barang siapa melaksanakan ibadah pada malam Lailatul Qadar dengan didasari keimanan dan harapan untuk mendapatkan keridhaan Allah, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.” (HR Bukhari Muslim).

Kedua, bermujahadah dalam ibadah, ”Sungguh, Rasul tercinta pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan, lebih bermujahadah melebihi kesungguhan beliau di waktu lainnya.” (HR Muslim). Seperti berpuasa dengan tanpa maksiat, membaca Alquran dengan pemahaman dan penghayatan dan menunaikan shalat Tarawih tanpa putus dan dengan tumaninah.

Ketiga, melaksanakan kewajiban Syariat Allah, seperti zakat maal bagi hartawan, jika wanita taatlah dengan berjlibab. Keempat, beriktikaf di masjid. Abu Said menceritakan tentang iktikaf Rasulullah di masjid yang ketika itu berlantaikan tanah dan tergenang air. “Aku melihat pada kening Rasulullah ada bekas lumpur pada pagi hari Ramadhan.” (HR Muslim).

Kelima, dengan selalu terjaga dalam kekhusyukan ibadah, tidak banyak tidur dan ngobrol. Justru memburai air mata yang mengalir tak terbendung karena rindu perjumpaan dengan-Nya, takut murka-Nya dan karena merasa banyak dosa.

Keenam, berazam dan bersumpah untuk taubatan nashuha; tidak kembali maksiat dan tidak akan menzalimi dan menyakiti siapapun lagi. Ketujuh, wajib minta maaf kepada siapa pun termasuk kepada keluarga atau sahabat yang pernah ia sakiti. Karena jika tidak, akan menjadi hijab (penghalang) bagi doa dan ibadahnya.

Kedelapan, tiada waktu berlalu sia-sia kecuali banyak berzikir, istighfar, shalawat, wudhu terjaga dan kesenangan bersedekah. Kesembilan, berdoalah sungguh sungguh, yakin penuh harap.

“Wahai Rasulullah,” tanya Aisyah, “Bagaimana menurutmu andai aku mendapatkan Lailatul Qadar? Doa apa saja yang harus aku baca?” Beliau bersabda, “Ucapkanlah, Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Mulia, dan Engkau menyukai ampunan. Maka ampunilah aku,” (HR Tirmidzi).

Allahu Akbar, akankah kita yang meraihnya? Kepastiannya hanya milik Allah. Tapi, teruslah meniti jalan ketaatan kepada-Nya. Karena boleh jadi kita adalah di antaranya. Jika setelah malam indah itu berlalu kita adalah yang semakin kuat akidahnya, semakin rajin dan menikmati ibadahnya, akhlak yang semakin mulia.

Dalam hal ihyaaus sunnah (menghidupkan amal sunnah) kita semakin bersemangat, kepada keluarga dan umat manusia selalu berkasih sayang, ketakwaan kita semakin tampak dan dirasakan oleh diri, keluarga dan sahabat kita, dan air mata kita mudah meleleh karena liqoouhu, kerinduan berjumpa dengan-Nya. Jika ya, boleh jadi kita adalah yang telah berhasil meraihnya.

Allahumma ya Allah, ampunilah seluruh dosa kami dari mulai akil baligh hingga waktu Engkau wafatkan kami, terimalah amal ibadah kami, tobat kami, berkahi sisa-sisa umur kami dalam aktivitas Syariat dan Sunnah Nabi-Mu, berilah pada kami keistimewaan Lailatul Qodar, dan wafatkan kami semua husnul khootimah. Aamiin.

“Surga” di Balik Gelombang Suara Ibu

“Surga” di Balik Gelombang Suara Ibu

Penelitian terbaru dari Universitas Stanford menemukan bahwa suara seorang ibu ternyata berfungsi lebih dari sekadar untuk menenangkan anaknya, demikian laman kantor berita IINA melaporkan pada Kamis (19/05/2016) lalu.

Para peneliti mengungkapkan bahwa beberapa area dalam otak seorang anak mengalami aktivasi ketika mendengar ibunya berbicara. Area-area tersebut termasuk bagian yang melibatkan pemrosesan emosi dan sistem penghargaan, fungsi-fungsi sosial, pengenalan wajah, serta pendeteksian hal-hal yang relevan secara personal.

Bahkan lebih jauh lagi, reaksi neurologis yang tinggi itu ternyata cuma bisa dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri, bukan oleh perempuan lain, demikian menurut temuan para peneliti tersebut.

“(Sudah lazim diketahui–red) banyak dari proses sosial, kebahasaan, dan emosional kita, dipelajari dengan mendengarkan suara ibunda kita,” kata Daniel Abrams, penulis hasil penelitian, seorang instruktur di bidang ilmu psikiatri dan perilaku Universitas Stanford, dalam rilis berita yang dilansir perguruan tingginya.

“Tetapi mengejutkannya, baru sedikit saja yang diketahui soal bagaimana otak mengorganisir diri terhadap sumber suara yang penting itu. Kami sebelumnya tidak menyadari bahwa ternyata suara seorang ibu dapat memiliki akses sedemikian cepat terhadap begitu banyak ragam sistem otak anak,” kata Abrams menambahkan.

Penelitian sebelumnya memang menunjukkan, bahwa anak-anak lebih cenderung dengan suara ibundanya, tapi mekanisme yang mendasari preferensi itu masih belum jelas.

“Belum ada seorang pun yang benar-benar mengamati sirkuit otak mana saja yang mungkin terlibat,” ujar peneliti senior Vinod Menon, profesor ilmu psikiatri dan perilaku di Stanford. “Kami jadi ingin mengetahui: apakah itu cuma area pendengaran dan suara yang selektif dan merespon secara berbeda, ataukah melibatkan bagian lebih luas lagi dalam hal engagement, reaktivitas emosi, dan deteksi atas rangsangan tertentu yang menonjol?”

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, para peneliti Universitas Stanford itu menganalisis hasil pindaian otak anak-anak yang sedang mendengarkan suara ibu mereka masing-masing. Penelitian melibatkan 24 orang anak usia 7 hingga 12 tahun. Kesemua anak itu memiliki IQ sekurangnya 80 dan tidak satupun dari mereka yang mengidap kelainan perkembangan.

Orang tua anak-anak itu juga diminta menjawab tentang bagaimana kondisi kecakapan komunikasi anak mereka masing-masing, termasuk kemampuan mereka untuk berinteraksi dan terhubung dengan orang lain.

Lalu para orang tua mengucapkan tiga kata yang tidak ada arti apa-apa (nonsense words) sembari direkam.

“Dalam rentang usia ini, di mana sebagian besar anak-anak memiliki kemampuan berbahasa yang bagus, kami memang tidak mau memakai kata-kata yang memiliki arti, karena hal itu bakal memengaruhi keseluruhan rangkaian sirkuit dalam otaknya,” ujar menon menerangkan.

Kemudian dua orang ibu yang anaknya tidak ikut dalam penelitian, serta tidak mengetahui partisipan manapun, juga merekam suara mereka sedang mengucapkan tiga kata tanpa arti tersebut.

Ketika si anak mendengarkan klip rekaman baik itu dari ibu kandung sendiri atau dari perempuan asing tadi, otak anak-anak itu dipindai menggunakan MRI.

Para peneliti pun menemukan bahwa si anak dapat mengidentifikasi suara ibunda mereka dengan akurasi 97 persen, bahkan setelah hanya mendengarkan rekaman kurang dari 1 detik.

Beberapa bagian otak anak tampak lebih aktif (engaged) oleh suara ibu kandung mereka daripada suara perempuan asing.

“Luasnya daerah yang teraktifkan dan terbangkitkan (engaged) benar-benar cukup mengejutkan,” kata Menon.

Bagian-bagian otak yang menikmati akibatnya mencakup bagian pendengaran, emosi, pemrosesan penghargaan (reward), pemrosesan informasi tentang diri (self), serta persepsi dan pemrosesan penglihatan atas wajah.

“Kami (sebelumnya) mengetahui bahwa mendengar suara ibu dapat menjadi sumber emosional yang penting untuk menentramkan anak,” ujar Abrams. “Melalui penelitian ini, kami juga berhasil menunjukkan bagaimana rerangkai biologis yang mendasari hal tersebut.”

“(Temuan) ini merupakan templat baru yang penting dalam upaya penyelidikan mengenai kurangnya komunikasi sosial pada diri anak-anak dengan kelainan seperti autisme,” ujar Menon.

“Suara adalah satu di antara alat-alat isyarat teramat penting dalam komunikasi sosial,” kata Menon. “Sungguh mengesankan melihat bagaimana gema suara seorang ibu ternyata hidup di dalam begitu banyak sistem otak (anak).”

Sumber : Islamedia

Hikmah Berkurban

Hikmah Berkurban

Disampaikan pada khutbah Shalat idul Adha 1436 H / 24 september 2015
oleh : Kyai Muhammad Zuhaery, MA

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ َعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّراَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Di pagi hari yang penuh barokah ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat ‘Idul Adha. Baru saja kita laksanakan ruku’ dan sujud sebagai manifestasi perasaan taqwa kita kepada Allah SWT. Kita agungkan nama-Nya, kita gemakan takbir dan tahmid sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagungan Allah. Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti.Tetapi merupakan pengakuan dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman. Allah Maha Besar.
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Idul adha dikenal dengan sebutan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang di sebut pakaian ihram, melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai persamaan dalam segala segi bidang kehidupan. Tidak dapat dibedakan antara mereka, semuanya merasa sederajat. Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa, sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah.
لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
Disamping Idul Adha dinamakan hari raya haji, juga dinamakan “Idul Qurban”, karena merupakan hari raya yang menekankan pada arti berkorban. Qurban itu sendiri artinya dekat, sehingga Qurban ialah menyembelih hewan ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, diberikan kepada fuqoro’ wal masaakiin.
Masalah pengorbanan, dalam lembaran sejarah kita diingatkan pada beberapa peristiwa yang menimpa Nabiyullah Ibrahim AS beserta keluarganya Ismail dan Siti Hajar.Lembah yang dulunya gersang, mempunyai persediaan air yang melimpah-limpah. Datanglah manusia dari berbagai pelosok terutama para pedagang ke tempat Siti Hajar dan Nabi Ismail, untuk membeli air. Datang rejeki dari berbagai penjuru, dan makmurlah tempat sekitarnya. Akhirnya lembah itu hingga saat ini terkenal dengan kota mekkah, sebuah kota yang aman dan makmur, berkat do’a Nabi Ibrahim dan berkat kecakapan seorang ibu dalam mengelola kota dan masyarakat. Kota mekkah yang aman dan makmur dilukiskan oleh Allah dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
Artinya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdo’a: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, sebagai negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kiamat.” (QS Al-Baqarah: 126)
Dari ayat tersebut, kita memperoleh bukti yang jelas bahwa kota Makkah hingga saat ini memiliki kemakmuran yang melimpah. Jamaah haji dari seluruh penjuru dunia, memperoleh fasilitas yang cukup, selama melakukan ibadah haji maupun umrah.Hal itu membuktikan tingkat kemakmuran modern, dalam tata pemerintahan dan ekonomi, serta keamanan hukum, sebagai faktor utama kemakmuran rakyat yang mengagumkan. Yang semua itu menjadi dalil, bahwa do’a Nabi Ibrahim dikabulkan Allah SWT. Semua kemakmuran tidak hanya dinikmati oleh orang Islam saja. Orang-orang yang tidak beragama Islam pun ikut menikmati.Allah SWT berfirman:
قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Artinya: Allah berfirman: “Dan kepada orang kafirpun, aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka. Dan itulah seburuk buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 126)
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Idul Adha yang kita peringati saat ini, dinamai juga “Idul Nahr” artinya hari cara memotong kurban binatang ternak. Sejarahnya adalah bermula dari ujian paling berat yang menimpa Nabiyullah Ibrahim. Disebabkan kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan “Khalilullah” (kekasih Allah).Setelah titel Al-khalil disandangnya, Malaikat bertanya kepada Allah: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasihmu.
Padahal ia disibukkan oleh urusan kekayaannya dan keluarganya?” Allah berfirman: “Jangan menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hatinya dan amal bhaktinya!”
Kemudian Allah SWT mengizinkan para malaikat menguji keimanan serta ketaqwaan Nabi Ibrahim.
Ternyata, kekayaan dan keluarganya dan tidak membuatnya lalai dalam taatnya kepada Allah.Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul ‘adzim mengemukakan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji Iman dan Taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! Peristiwa itu dinyatakan dalam Al-Qur’an:
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya: Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS As-shaffat: 102).
Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah. Iblis datang menggoda sang ayah, sang ibu dan sang anak silih berganti. Akan tetapi Nabi Ibrahim, Siti hajar dan Nabi Ismail tidak tergoyah oleh bujuk rayuan iblis yang menggoda agar membatalkan niatnya. Bahkan siti hajarpun mengatakan, : ”jika memang benar perintah Allah, akupun siap untuk di sembelih sebagai gantinya ismail.” Mereka melempar iblis dengan batu, mengusirnya pergi dan Iblispun lari tunggang langgang. Dan ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah; jumrotul ula, wustho, dan aqobah yang dilaksanakan di mina.
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Dalam pada itu Allah SWT memerintahkan jibril untuk mengambil seekor kibasy dari surga sebagai gantinya. Dan Allah swt berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannya, tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridloi ayah dan anak memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Shaffat
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”“Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril menyaksikan ketaatan keduanya, setelah kembali dari syurga dengan membawa seekor kibasy, kagumlah ia seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menyambutnya “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian di sambung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Inilah sejarah pertamanya korban di Hari Raya Qurban. Yang kita peringati pada pagi hari ini. Allah Maha pengasih dan Penyayang. Korban yang diperintahkan tidak usah anak kita, cukup binatang ternak, baik kambing, sapi, kerbau maupun lainnya. Sebab Allah tahu, kita tidak akan mampu menjalaninya, jangankan memotong anak kita, memotong sebagian harta kita untuk menyembelih hewan qurban, kita masih terlalu banyak berfikir. memotong 2,5 % harta kita untuk zakat, kita masih belum menunaikannya. Memotong sedikit waktu kita untuk sholat lima waktu, kita masih keberatan. Menunda sebentar waktu makan kita untuk berpuasa, kita tak mampu melaksanakannya, dan sebagainya. Begitu banyak dosa dan pelanggaran yang kita kerjakan, yang membuat kita jauh dari Rahmat Allah SWT.
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Hikmah yang dapat diambil dari pelaksanaan shalat Idul Adha ini adalah, bahwa hakikat manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah taqwanya. Dan bagi yang menunaikan ibadah haji, pada waktu wukuf di Arafah memberi gambaran bahwa kelak manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar untuk dimintai pertanggung jawaban.
Di samping itu, kesan atau i’tibar yang dapat diambil dari peristiwa tersebut adalah:
Pertama Hendaknya kita sebagai orang tua, mempunyai upaya yang kuat membentuk anak yang sholih, menciptakan pribadi anak yang agamis, anak yang berbakti kepada orang tua, lebih-lebih berbakti terhadap Allah dan Rosul-Nya.
Kedua perintah dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT, harus dilaksanakan. Harus disambut dengan tekad sami’na wa ‘atha’na. Karena sesungguhnya, ketentuan-ketentuan Allah SWT pastilah manfaatnya kembali kepada kita sendiri.
Ketiga adalah kegigihan syaitan yang terus menerus mengganggu manusia, agar membangkang dari ketentuan Allah SWT.
Keempat jenis sembelihan berupa bahimah (binatang ternak), artinya dengan matinya hayawan ternak, kita buang kecongkaan dan kesombongan kita, hawa nafsu hayawaniyah harus dikendalikan, jangan dibiarkan tumbuh subur dalam hati kita.
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Akhirnya dalam kondisi seperti ini kita banyak berharap, berusaha dan berdoa, mudah-mudahan kita semua, para pemimpin kita, elit-elit kita, dalam berjuang tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok, tapi berjuang untuk kepentingan dan kemakmuran masyarakat, bangsa dan negara. Kendatipun perjuangan itu tidaklah mudah, memerlukan pengorbanan yang besar. Hanya orang-orang bertaqwa lah yang sanggup melaksanakan perjuangan dan pengorbanan ini dengan sebaik-baiknya.
Mudah-mudahan perayaan Idul Adha kali ini, mampu menggugah kita untuk terus bersemangat, rela berkorban demi kepentingan agama, bangsa dan negara amiin ya robbal alamin.
Khutbah kedua:
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Raih Keutamaan di Hari Arafah

Raih Keutamaan di Hari Arafah

Hari Arafah, jatuh setiap tanggal 9 Dzulhijjah merupakan hari yang sangat istimewa bagi kaum muslimin, terutama bagi bagi jama’ah haji. Pada hari tersebut jama’ah haji berkumpul di padang arafah untuk memohon rahmat Allah, berlindung dari adzab-Nya dan memohon karunia-Nya.
Di antara keutamaan hari Arafah disebutkan dalam hadits berikut, “Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah di hari Arofah (yaitu untuk orang yang berada di Arafah). Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” [HR. Muslim no. 1348, dari ‘Aisyah]
Keutamaan yang lainnya, hari arofah adalah waktu mustajabnya do’a. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah.” [ HR. Tirmidzi no. 3585. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan] Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan. Jadi hendaklah kaum muslimin memanfaatkan waktu ini untuk banyak berdoa pada Allah. Do’a ketika ini adalah do’a yang mustajab karena dilakukan pada waktu yang utama.

Salah satu amalan utama di awal Dzulhijjah adalah puasa Arafah, pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ini memiliki keutamaan yang semestinya tidak ditinggalkan seorang muslim pun. Puasa ini dilaksanakan bagi kaum muslimin yang tidak melaksanakan ibadah haji.
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
“Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”[HR. Muslim]
Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arafah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arafah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. Keutamaan puasa Arafah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat.

Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa Arofah. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa beliau ditanya mengenai puasa hari Arofah di Arofah. Beliau mengatakan, “Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak menunaikan puasa pada hari Arofah. Aku pun pernah berhaji bersama Abu Bakr, beliau pun tidak berpuasa ketika itu. Begitu pula dengan ‘Utsman, beliau tidak berpuasa ketika itu. Aku pun tidak mengerjakan puasa Arofah ketika itu. Aku pun tidak memerintahkan orang lain untuk melakukannya. Aku pun tidak melarang jika ada yang melakukannya.” [HR. Tirmidzi]

Tidak mau ketinggalan untuk meraih keutamaan tersebut, pada hari ini 9 Dzulhijjah 1436 H atau bertepatan dengan tanggal 23 September 2015 para santri beserta seluruh civitas Pesantren Islam Al Iman melaksanakan puasa Arafah. Selain itu untuk menambah kekhusyukan santri dalam berpuasa kegiatan belajar mengajar (KBM) dinonaktifkan namun dimanfaatkan untuk menyetor hafalan Al-Qur’an kepada masing-masing pembimbing hafalan.

Setelah kita mengetahui keutamaan puasa hari Arafah ini, maka yang tersisa adalah pengamalannya. Karena setiap manusia nanti akan ditanya tentang ilmunya, apa yang telah dia amalkan. Semoga Allah selalu memberikan kepada kita untuk berada di atas jalan yang lurus. Mari raih keutamaan di hari Arafah.

Teladan Nabi Ibrahim, Renungan Idul Adha

Teladan Nabi Ibrahim, Renungan Idul Adha

Sepatutnya bagi kita meneladani Nabi Ibrahim, karena beliau adalah Khalilurrahman, Sang Kekasih Allah Ta’ala. Jika kita hendak dicintai oleh Allah Ta’ala, maka contohlah Nabi Ibrahim

 

Hari raya ‘Idul Adha merupakan hari raya bagi umat Islam selain hari raya ‘Idul Fitri. Hari dimana umat Islam yang berada di Masjidil Haram melaksanakan ibadah haji. Hari dimana berbagi kebahagiaan di antara kaum muslimin. Dan yang paling berkesan adalah saat penyembelihan hewan kurban. Umat islam bergotong royong, saling membantu satu sama lain. Hal ini terlihat ketika penyembelihan dimulai hingga pembagian daging hasil sembelihan.

Jika kita telisik lebih dalam, sejarah penyembelihan kurban itu sendiri berasal dari kisah Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail ‘alaihimash shalatu wa sallam. Jika kita mau mengambil pelajaran, banyak sekali keteladanan yang dapat kita ambil dari Nabi Ibrahim.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang Imam (yang dapat dijadikan teladan), qaanitan(patuh kepada Allah), dan hanif, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang menyekutukan Allah).” (QS. An-Nahl: 120)

Sebagai Teladan

Nabi Ibrahim disebut dengan Abul Anbiya (bapaknya para Nabi). Tidaklah seorang nabi setelah Nabi Ibrahim kecuali semuanya berasal dari keturunan Beliau. Nabi Ibrahim disebut juga seorang Imam karena beliau menjadi teladan bagi kita semua. Sebagaimana yang AllahTa’ala firmankan di surat Al-Furqan ayat 74,

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan jadikanlah kami sebagai Imam (pemimpin) bagi orang yang bertakwa.”

Para ahli tafsir menjelaskan, yang dimaksud “imam” pada ayat di atas adalah dijadikan sebagai teladan bagi orang-orang yang hidup sesudahnya.

Patuh kepada Allah

Nabi Ibrahim adalah seorang hamba yang patuh. Dimana ia mendahulukan perintah Allah dengan cara mantaati-Nya. Siapa yang tidak kenal dengan kisah Beliau yang meninggalkan istrinya (Hajar) dan putranya (Nabi Ismail), di tanah yang gersang tanpa meninggalkan bekal apa pun. Hal ini menunjukkan bahwa rasa cinta Beliau kepada Allah melebihi rasa cintanya terhadap istri dan anaknya. Padahal kita tahu bahwa istri dan anak adalah salah satu godaan terbesar di dunia yang bisa menyebabkan seseorang terlalu mencintai dunia dan melalaikan akhiratnya.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati/waspadalah kalian dari mereka.” (At-Taghabun: 14).

Nabi Ibrahim juga melaksanakan perintah Allah, bahkan mendapat dukungan dari anaknya sendiri, tatkala Allah perintahkan Beliau untuk menyembelih anaknya sendiri, yaitu Nabi Ismail. Padahal Beliau telah lama merindukan untuk memiliki buah hati.

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ اْلسَعْىَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّى أَرَى فِى اْلمَنَامِ أَنِّى أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku sedang menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar””. (QS. Ash Shaffat: 102)

Orang Yang Hanif

Hanif artinya bertekad mengikuti kebenaran dan jalan yang lurus. Nabi Ibrahim adalah seorang yang berpegang teguh terhadap kebenaran, tidak berpaling untuk meninggalkannya, dan memiliki pemahaman agama yang lurus. Tidak pernah terlintas di pikiran beliau untuk meninggalkan agama yang benar ini. Jadi sudah sepantasnya dan seharusnya kita meneladani beliau dalam berpegang teguh pada ajaran yang benar ini.

Bukanlah Seorang Musyrik

Nabi Ibrahim bukanlah termasuk orang yang menyekutukan Allah. Bahkan beliau secara tegas mendakwahkan tauhid. Ada anggapan keliru bahwa Nabi Ibrahim pernah bingung terhadap Rabb-nya. Ayat ini membantah bahwa Beliau tidaklah pernah sama sekali menyekutukan Allah. Namun kita lihat praktik umat Islam jaman sekarang, masih banyak di antara umat Islam yang melakukan amalan menuju kesyirikan, bahkan telah mencapai derajat kesyirikan itu sendiri. Padahal kesyirikan adalah dosa yang tak terampuni dan pelakunya akan kekal di dalam neraka jika pelakunya tidak bertaubat sebelum meninggal.

Penutup

Sungguh ayat yang telah disebutkan di atas menunjukkan keteladanan seorang Nabi Ibrahim. Kita sebagai umat Islam yang mengaku beriman kepada Beliau, hendaknya menjadikan Beliau sebagai teladan kita. Oleh karena itu, sepatutnya bagi kita mencontoh Beliau, karena Beliau adalah Khalilurrahman, Sang Kekasih Allah Ta’ala. Jika kita hendak dicintai oleh Allah Ta’ala, maka contohlah Nabi Ibrahim. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Wallahu Muwaffiq

 

Sube

 

Dahsyatnya 2 kalimat Syahadat

Dahsyatnya 2 kalimat Syahadat

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, hampir sebagian besar sahabat Nabi mengalami siksaan yang amat pedih. Salah satunya adalah budak berkulit hitam yang bernama Zunairah, dialah budak Abu Jahal.
Meskipun sebagai budak, Zunairah mampu mengimani apa yang didakwahkan Rasulullah SAW. Namun karena masih berstatus budak, dirinya diam-diam melakukan ibadah seolah tidak ingin diketahui oleh majikannya yang teramat menentang dakwah Rasulullah SAW.

Akhirnya, pada suatu hari, Abu Jahal mengetahui perihal keimanan Zunairah. Abu Jahal marah sekali,
”Aku baru saja mendengar kabar bahwa kamu baru masuk Islam?” kata Abu Jahal sambil menampar pipi budaknya itu. ”Memang benar, mulai saat ini aku percaya pada seruan Nabi Muhammad SAW, karena itu aku mengikutinya,” jawab Zunairah dengan tenang.

Jawaban yang jelas dan tegas itu telah membuat Abu Jahal semakin marah. Tangannya langsung menuju muka Zunairah, bahkan kakinya juga ikut menendang, sehingga budak itu jatuh tersungkur di tanah. Meskipun disiksa sedemikan itu, namun iman Zunairah tetap tegar.

Setelah lelah menyiksa budaknya, Abu Jahal kemudian membawa budaknya ke tanah lapang. Abu Jahal kemudian menghajar Zunairah lagi, padahal Zunairah sudah buta karena terkena pukulan keras sebelumnya. Melihat keadaan yang demikian itu, Abu Jahal tertawa keras dan mengejek.
”Matamu menjadi buta itu karena akibat kau masuk islam,” ejek Abu Jahal.
Betap sakitnya hati Zunairah mendengar olok-olokan yang dilontarkan oleh Abu Jahal itu. Meskipun demikian, Zunairah tidak ingin kembali ke agamanya yang dahulu. Ia tetap yakin bahwa hanya Allah SWT saja yang berhak disembah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.
”Kalian semua pembohong dan tak bermoral. lata dan uzza yang kalian sembah itu tidak akan bisa berbuat apa-apa, apalagi memberi manfaat kepada kalian,” ujar Zunairah.

Mendapat jawaban yang demikian itu, tentu saja Abu Jahal semakin merah padam.
”Wahai Zunairah, ingatlah kepada lata dan uzza. Itu adalah berhala sembahan kita sejak nenek moyang. Tak takutkah jika mereka nanti murka kepadamu? Tinggalkanlah segera agama Muhammad yang melecehkan kita,” ajak Abu Jahal sambil menarik rambut Zunairah.
Zunairah tetap saja pada keyakinannya meskipun sudah menderita lahir dan batin, dia tetap tidak mau dengan ajakan Abu Jahal dan teman-temannya.
”Wahai Abu Jahal, sebenarnya lata dan uzza itu buta. Lebih buta daripada mataku yang buta ini. Meskipun mataku buta, Allah tidak akan sulit mengembalikannya menjadi terang, tidak seperti tuhanmu lata dan uzza itu,” jelas Zunairah.

Karena hari sudah menjelang malam, siksaan terhadap Zunairah untuk sementara dihentikan. Zunairah diperintahkan pulang ke rumah Abu Jahal. Tak lama kemudian, Zunairah membaca syahadat. Sungguh ajaib, setelah membaca syahadat, tiba-tiba saja mata Zunairah kembali dapat melihat dan semua bekas siksaan yang ada di tubuhnya hilang.
Menjelang pagi hari, Abu Jahal ingin menyiksa lagi Zunairah.
”Hai Zunairah, cepatlah kemari,” seru Abu Jahal.

Begitu melihat wajah Zunairah bersih, memar-memar bekas pukulan juga hilang, apalagi ditambah kedua mata Zunairah telah sembuh, hal itu membuat Abu Jahal semakin sakit hati.
”Kamu apakan wajahmu, padahal matamu kemarin buta dan bedarah, tapi sekarang kok bisa sembuh. Aku yakin ini pasti ulah sihir Muhammad karena dia pandai main sihir,” ujar Abu Jahal.
”Tuan jangan salah paham. Ini semua berkat kekuasaan Allah SWT. Hanya Dialah yang bisa membuat manusia sehat, hidup, mati dan masih banyak lagi. Sedangkan Muhammad itu hanya manusia biasa, dia cumaa utusan Allah SWT,” jawab Zunairah.

Setelah itu, Abu Jahal segera saja menarik tubuh Zunairah ke lapangan. Siksaan pun dilakukannya.
Untungnya, ada Abu Bakar yang lewat dan datang mendekatinya. Tak lama kemudian, Abu Bakar menebus Zunairah, dan akhirnya dia bebas tidak menjadi budak lagi.