fbpx
Silaturahim Wali Santri untuk Sosialisasi Kriteria Kenaikan Kelas dan Pembagian Hasil UTS

Silaturahim Wali Santri untuk Sosialisasi Kriteria Kenaikan Kelas dan Pembagian Hasil UTS

Ahad, 23 Oktober 2016
Setengah semester telah berjalan untuk tahun pelajaran 2016/2017 di Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan. Selama 3 bulan ini para santri tentu telah mendapat sebagian ilmu dan pelajaran serta menempuh Ulangan Tengah Semester (UTS) Ganjil. Hingga pada hari ini Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan mengadakan pertemuan dalam rangka Silaturahim Wali Santri untuk Sosialisasi Kriteria Kenaikan Kelas dan pembagian hasil UTS Ganjil Tahun 2016/2017. Seluruh wali santri dari kelas 7 MTs hingga kelas 12 MA diundang untuk mengikuti kegiatan ini agar bersama-sama mengevaluasi proses pembelajaran putra-putrinya juga sebagai tola ukur bagi santri untuk terus memperbaiki tingkat prestasi kedepannya.

Pembagian hasil UTS Ganjil pada tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya pembagian hasil UTS langsung dibagikan kepada masing-masing santri, maka hari ini wali santri diundang untuk menerima langsung hasil UTS putra-putrinya.

Acara dibuka oleh Sekretaris Pesantren, Ustadz Muhammad Tohir Ridwan, S.Pd.I sekaligus memberikan ucapan selamat datang dan memberi info seputar agenda pesantren yang akan dilaksanakan di waktu terdekat. Dilanjutkan sambutan dari Ustadz Abdul Rosyid, S.Pd.I selaku Kepala Biro Tarbiyatul Mua’allimin dan Muballighin yang menjelaskan secara rinci mengenai Kriteria Kenaikan Kelas yang harus dipenuhi oleh setiap santri dari masing-masing tingkatan dan jenjangnya. Dengan adanya sosialiasi ini harapannya pesantren mampu memberikan pemahaman kepada para walisantri bahwa agar bisa naik ke tingkat selanjutnya harus memenuhi beberapa kriteria.

Acara diakhiri dengan pembagian hasil UTS Ganjil Tahun Ajaran 2016/2017 oleh masing-masing wali kelas di dalam ruang kelas masing-masing. Dalam kesempatan inilah orang tua/ wali santri dapat menerima info mengenai perkembangan anaknya dalam proses belajar.

Dari Pesantren untuk Bangsa Indonesia

Dari Pesantren untuk Bangsa Indonesia

“Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2016
Santri harus bangkit dan berkemajuan serta berkemandirian untuk kemajuan bangsa Indonesia tercinta”

DR. Muhammad Zuhaery, MA – Pengasuh Pondok Pesantren Islam Al Iman

Sejarah tidak akan memungkiri besarnya kontribusi serta peran Pesantren bersama Kyai dan santri santrinya dalam berbagai kiprahnya dalam pembangunan dan perjuangannya demi bangsa dan negara ini.

Nama nama besar seperti Tuanku Imam Bonjol, Yang merupakan seorang ulama besar, Mujahid dan dicatat sebagai salah seorang Pahlawan Nasional adalah salah satu bukti nyata kontribusi Pesantren bersama Kyai dan santrinya kepada nusa bangsa dan negara ini.
Menurut Wahjoetomo, penulis buku Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan, perlawanan pesantren terhadap Belanda dilakukan dengan tiga cara.
Pertama, uzlah (mengasingkan diri). Mereka menyingkir ke desa-desa dan tempat terpencil yang jauh dari jangkauan kolonial. Tidak aneh, jika pesantren mayoritas berada di daerah pinggiran, pelosok, dan bahkan pedalaman.

Dengan hijrah ke pelosok-pelosok pedesaan, pesantren mengembangkan masyarakat Muslim yang solid, yang pada gilirannya berperan sebagai kubu pertahanan rakyat dalam melawan penjajah. Raffles sendiri dalam bukunya The History of Java mengakui bahaya para kiai terhadap kepentingan Belanda. Sebab, menurutnya, banyak sekali kiai yang aktif dalam berbagai pemberontakan.

Bambu Runcing yang terkenal sebagai senjata para pejuang kemerdekaan adalah inisiatif dari Kiai Subkhi atau Mbah Subkhi atau Kyai Bambu Runcing yang kemudian diabadikan sebagai nama pesantren, yakni Pondok Pesantren Kiai Parak Bambu Runcing, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah.

Kedua, bersikap nonkooperatif dan melakukan perlawanan secara diam-diam. Selain mengaji dan menelaah kitab kuning, para kiai menumbuhkan semangat jihad santri-santrinya. Ketika Jepang memobilisasi tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah.
Ketiga, memberontak dan mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Misalnya, pemberontakan kaum Padri di Sumatra Barat (1821-1828) di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol, Dimana beliau merupakan seorang ulama besar, pemberontakan Pangeran Diponegoro, ( Pangeran Dipenogoropun merupakan seorang Kyai ) di Jawa Tengah (1825-1830), dan pemberontakan di Aceh (1873-1903) yang dipimpin oleh Teuku Umar dan Teuku Cik Ditiro. Di Banjar Kalimantan ada Pangeran Antasari ( Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin ) dengan Jiwa keislamannya yang didapat sejak dari kecil dari bimbingan bimbingan ‘ulama’ didukung para ulama,santri dan rakyat berjuang Kalimantan. semboyannya sangat terkenal adalah haram manyarah waja sampai kaputing (haram menyerah, baja sampai keujung). Maksudnya dalam mengusir penjajah Belanda tidak akan pernah meminta ampun atau menyerah, perjuangan akan diteruskan sampai tenaga yang penghabisan.

” Masihkah kita meragukan peran dan kontribusi institusi pesantren untuk negara dan bangsa ini? Sebaliknya, yang harus dipertanyakan adalah apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintah atau mungkin anda yang secara pribadi telah berkecukupan juga memiliki “power” untuk ikut berkiprah, berkontribusi dan berperan aktif terhadap pembangun dan pengembangkan pesantren-pesantren di Indonesia umumnya atau Pesantren di daerah terdekat anda khususnya.”

Bung Tomo dengan latar belakang kesantriannya terus mengobarkan semangat Zihad “Merdeka Atau Mati..Allahu Akbar”, semanga jihadnya tersebut yang membuat Arek Arek Soroboyo rela mengorbankan nyawa mereka berjuang demi negara. Bung Tomo terlebih dahulu sowan kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama pada saat itu. Bung Tomo izin untuk membacakan pidatonya yang merupakan manifestasi dari resolusi jihad yang sebelumnya telah disepakati oleh para ulama NU, Dan Tahukah anda bahwa Jendral Besar Panglima Besar Tentara Nasional Kita Jendral Soedirman (alm ) merupakan didikan dan gemblengan dari Kyai Haji Busyro di sebuah Pondok Pesantren di Binorong..Jend Soedirman juga bekerja sama dengan pondok pesantren yang dipimpin Kyai Siraj. Pondok Pesantren ini banyak menggiring santrinya untuk berjihad dalam pertempuran Ambarawa. dan masih banyak sekali peran serta serta kiprah dari para ulama, dan santri tokoh tokoh Islam dalam perjuangan mereka demi bangsa dan negara ini.

Semangat jihad yang dimiliki muslim dengan teriakan “Allahu Akbar”, yang telah dikobarkan oleh para Kyai, Ulama dan santri itulah yang menempatkan kita pada era sekarang ini, yaitu kemerdekaan”. karena Semangat dan mentalitas jihad pasti dimiliki oleh mayoritas ummat Islam..

Bahkan, besarnya pengaruh kiai tidak hanya terbatas pada masyarakat awam, tapi juga menjangkau istana-istana. Kiai Hasan Besari, dari pesantren Tegalsari Ponorogo, misalnya berperan besar dalam meleraikan pemberontakan di Keraton Kartasura. Bukan hanya itu, pesantren dulu juga mampu melahirkan pujangga. Raden Ngabehi Ronggowarsito adalah santri Kiai Hasan Besari yang berhasil menjadi Pujangga Jawa terkenal.

Secara historis, keberadaan pesantren hampir bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia. Alasannya sangat sederhana. Islam, sebagai agama dakwah, disebarkan secara efektif melalui proses transformasi ilmu dari ulama ke masyarakat (tarbiyah wa ta’lim, atau ta’dib). Proses ini di Indonesia berlangsung melalui pesantren.

Secara bahasa, pesantren tidak sepenuhnya merujuk pada kata dalam bahasa Arab. Sebutan untuk pelajar yang mencari ilmu bukan murid seperti dalam tradisi sufi, thalib atau tilmidh seperti dalam bahasa Arab, tapi santri yang berasal dari bahasa Sanskerta. San berarti orang baik, dan tra berarti suka menolong.
Sedangkan lembaga tempat belajar itu pun kemudian mengikuti akar kata santri dan menjadi pe-santri-an atau “pesantren”. Di Sumatra, pesantren disebut rangkang, meunasah, atau surau. Ini menunjukkan bahwa pendekatan dakwah para ulama yang permisif terhadap tradisi lokal.

Di Malaysia dan Thailand, lembaga ini dikenal dengan nama pondok. Kata ini merujuk pada bahasa Arab fundukyang berarti hotel atau penginapan, yang maksudnya adalah asrama. Jadi, meskipun istilah “pesantren” tidak memiliki akar kata dari tradisi Islam, tapi substansi pendidikannya tetap Islam.

Menurut KH. Imam Zarkasyi, dalam buku Pekan Perkenalan Pondok Modern Gontor, pesantren didefinisikan sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, di mana kiai sebagai sentral figurnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam di bawah bimbingan kiai yang diikuti santri sebagai kegiatannya.

Jadi, ada empat ciri utama pesantren. Pertama, pondok harus berbentuk asrama. Kedua, kiai sebagai sentral figur yang berfungsi sebagai guru, pendidik, dan pembimbing. Ketiga, masjid sebagai pusat kegiatan. Dan keempat, materi yang diajarkan tidak terbatas kepada kitab kuning saja.

Menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Penulis Peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization(INSIST), dengan catur-pusat inilah, pendidikan pesantren berfungsi sebagai “melting pot”, yaitu tempat untuk mengolah potensi-potensi dalam diri santri agar dapat berproses menjadi manusia seutuhnya (insan kamil).

Dengan demikian, karakter pendidikan pesantren bersifat menyeluruh. Artinya, seluruh potensi pikir dan zikir, rasa dan karsa, jiwa dan raga dikembangkan melalui berbagai media pendidikan yang terbentuk dalam suatu komunitas yang sengaja didesain secara integral untuk tujuan pendidikan.

“Di tengah gencarnya kampanye dan program pendidikan berkarakter dari pemerintah belakangan ini, pesantren justru jauh jauh hari sejak dari awal keberadaannya sudah menerapkan pola tersebut dengan pembelajaran Adab Dan Ahlaq”. Tujuan pendidikan pesantren pada hakekatnya seperti halnya tujuan kehidupan manusia di dunia ini adalah ibadah, yang spektrumnya seluas pengertian ibadah itu sendiri. Santri tidak hanya disiapkan untuk mengejar kehidupan dunia, tapi juga mempersiapkan kehidupan akhirat.

Di sisi lain, saat ini sedang banyak dikembangkan sekolah-sekolah yang diberi label Sekolah Berstandar Internasional (SBI), sebagian dengan pola boarding house school yang mengadopsi pola pendidikan pesantren . Tetapi jika kita melihatnya lebih dekat, sekolah-sekolah dengan label internasional tersebut hanyalah sekolah yang bertarif mahal (internasional), dan bukan sekolah yang berbahasa Inggris.
Ibaratnya, kita ingin anak kita menjadi artis, maka yang kita lakukan adalah mendandani anak kita dengan pakaian artis, bukan melatih vokal atau acting anak tersebut. Sekolah berstandar internasional yang sedang dirintis pemerintah juga dievaluasi dengan ujian nasional. Lalu, apa bedanya dengan sekolah berstandar nasional atau berstandar lokal?

Jika Anda ingin melihat sekolah berstandar internasional, eksistensi Pondok Modern Gontor adalah salah satu bukti konkretnya. Tidak hanya santri wajib berbahasa Arab dan Inggris, Gontor juga mampu menarik siswa dari luar negeri, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Brunai Darussalam, Jepang, Amerika Serikat, Australia, dan berbagai negara lainnya. Inilah sekolah bertaraf internasional, walaupun tanpa embel embel sekolah internasional.

Bahkan, jauh sebelum Indonesia merdeka dan jauh sebelum sistem pendidikannya mapan, pesantren dan alumni-alumninya telah banyak berperan—baik di nusantara maupun kancah dunia. Pada abad ke-17 hingga awal abad ke-19, tercatat nama-nama sekaliber Nuruddin Ar-Raniri, Hamzah al-Fansuri, Abdul Rauf al-Sinkili, Syekh Yusuf al-Makassari, Abdussamad al-Falimbani, Khatib Minangkabawi, Nawawi al-Bantani, Muhammad Arsyad al-Banjari, dan lain-lain.

Sosok-sosok alumni pesantren dan Timur-Tengah ini telah melahirkan karya-karya besar di bidang fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf. Citra intelektual dan ekspansi karya sosok-sosok ini bukan hanya sebatas taraf domestik nusantara, tapi juga sampai diakui di kawasan Timur Tengah dan Afrika. Nama nanama besar beliaupun masih terkenang dengan segala jejak jejaknya sampai sekarang.

Di zaman pergerakan pra-kemerdekaan, peran pesantren juga sangat menonjol, lagi-lagi melalui alumninya. HOS Cokroaminoto pendiri gerakan Syarikat Islam dan guru pertama Soekarno di Surabaya, adalah juga alumni pesantren. KH. Mas Mansur, KH. Hasyim Ash’ari, KH. Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, KH. Kahar Muzakkir adalah alumni pesantren yang menjadi tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh.

Sesudah kemerdekaan, alumni-alumni pesantren terus memainkan perannya dalam mengisi kemerdekaan. Di antaranya, H.M. Rasyidi (alumni Pondok Jamsaren, Menteri Agama RI pertama), Mohammad Natsir (alumni Pesantren Persis menjadi Perdana Menteri), KH. Wahid Hasyim (alumni pondok Tebuireng), KH. Muslih Purwokerto dan KH. Imam Zarkasyi (alumni Jamsaren, anggota Dewan Perancang Nasional), KH. Idham Khalid (alumni Pondok Gontor, wakil Perdana Menteri dan Ketua MPRS).

Di era Orde Baru, di tengah maraknya pembangunan fisik yang disertai dengan proses marginalisasi peran politik umat Islam, kiai dan pesantren tetap memiliki perannya dalam membangun bangsa. Dampak pembangunan fisik yang tidak berangkat dari konsep character building adalah dekadensi moral, korupsi, tindak kekerasan dan lain-lain.

Akibatnya, pendidikan, khususnya sistem sekolah di kota-kota besar tidak lagi menjanjikan kesalehan moral dan sosial anak didik. Dalam kondisi seperti inilah pesantren muncul menjadi sebagai alternatif penting. Dengan jiwa ukhuwwah Islamiyah, belum pernah di pesantren terjadi “tawuran”, atau terdengar adu jotos antar santri pondok A dengan pondok B dengan membawa senjata tajam, seperti yang sering kita lihat dan dengar di media. Dan karena jiwa kemandirian di pesantren, tidak sedikit dari santri drop out justru sukses sebagai pengusaha dan social entrepeneur.
Ketika terjadi upaya konvergensi ilmu pengetahuan agama dan umum, medan distribusi alumni pesantren menjadi semakin luas.

Penyeberangan santri ke perguruan tinggi umum menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Para santri ini kemudian mengembangkan kajian-kajian agama secara informal dan intensif yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa yang tidak memilik background agama.

Saat ini, peran pesantren tidak lagi langsung dimainkan oleh alumninya, tapi oleh murid-murid alumninya. Pergerakan mahasiswa, seperti HMI, PMII, IMM yang marak pada dekade 1970-an dan 1980-an, dan juga gerakan LDK, usrah-usrah dan intensifikasi aktivitas masjid kampus dan lain-lain, tidak dapat dipisahkan dari peran dan kontribusi alumni-alumni pesantren.

Di ITB ( Institute Technology Bandung ) Para Penggagas Mesjid Salman yang tentunya jiwa ke Islaman sudah melekat kuat dalam diri mereka, karena didikan Pondok, salah seorang Penggagasnya adalah Bang Imad ( alm ) Ayahnya, Haji Abdulrahim, adalah seorang ulama di Sumatera Utara. Sedangkan ibunya, Syaifiatul Akmal, seorang wanita yang merupakan cucu dari sekretaris Sultan Langkat, yang mana sejak dari kecil sudah mendidik Bang Imad (alm) dengan pondasi – pondasi Islami, bersama Mahasiswa dan masyarakat sekitarnyanya merintisnya sejak 50 tahunan yang lalu bersama Pengajian Mesjid Salman ITB-nya dalam berbagai kegiatan positif, terutama pembinaan guna menghasilkan generasi Islami yang mumpuni, yang berakidah kokoh,santun dalam ahlak serta luas wawasan keilmuannya. Salman ITB bersama komunitasnya aktif pula dalam berbagai kegiatan – kegiatan Sosial lainnya, secara tidak langsung Mesjid Salman menjadi central Da’wah dan Syiar dalam Kampus ITB, khususnya buat Mahasiswa-mahasiswa ITB dan di luar ITB juga umum dan Masyrakat sekitar kampus, dan tentunya masih banyak kiprah kiprah ormas dan organisasi organisasi Islam lainnya di kota kota besar terutama yang dimotori alumnus anak anak Pondok Pesantren, pada era sekarang.

Jadi apalagi yang diragukan dengan kontribusi “ulama, Ajengan ( Kyai ) Dan Santri serta generasi generasi Islam” Pada Bangsa dan Negara ini..?? terus apakah Pemerintah sudah memberikan perhatian dan kontribusi yang cukup pada pondok pondok Pesantren ..?? terutama Pondok Pondok Pesantren di daerah daerah Terpencil..yang masih terkesan “kumuh”, gak bermutu, gak menjamin masa depan, dengan tatapan sebelah mata dan senyum sinis dsb, yang membuat orang tua anak enggan mengamanahkan anaknya ke sebuah Pondok Pesantren karena imagenya tersebut..?? atau sibuk dengan berinvestasi pada Sekolah Bertaraf Internasional ( SBI ) dan Boarding house boarding house school….dengan alasan skeptis”penjaminan mutu kompetensi kelulusan” sementara banyak Pondok Pondok Pesantren terutama di pelosok yang tertatih tatih dengan dana mandiri dan seadanya berusaha bertahan demi syiar Islam..dan menghasilkan generasi generasi berkarakter yang memang sudah sejak dari dahulu adab serta ahlak merupakan salah satu pendidikan dasar di Pesantren…??? Bagaimana dengan anda sendiri yang sudah berkecukupan..apakah sudah ada pula peran aktif anda demi kemajuan Di’enul Islam yang diawali dari Pendidikan di Pondok Pondok Pesantren…
Masih akan sulitkah bagi alumnus-alumnus Pondok Pesantren untuk turut andil bela negara masuk dalam dunia militer dengan alasan “tidak memiliki ijazah formal..” ??? ataukah blusukannya penguasa atau calon calon penguasa ke Pondok-Pondok Pesantren untuk sowan ke kyai, hanya untuk mendapatkan simpati dengan di expose di media guna dukungan kekuasaan saja..menjelang PILKADA..??

wallahu’alam…

Ulangan Akhir Semester Gasal 2015-2016

Ulangan Akhir Semester Gasal 2015-2016

Rabu, 25 November 2015 merupakan hari pertama pelaksanaan Ulangan Akhir Semester Gasal T.A 2015-2016 bagi santri-santri Aliyah maupun Tsanawiyah. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya Pesantren Islam Al Iman lebih awal memulai UAS daripada madrasah lainnya di Lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Magelang dikarenakan adanya Ujian Lesan (Syafahi) sebelum Ujian Tertulis.
Kegiatan Ulangan Akhir Semester Gasal T.A 2015-2016 ini dibuka saat apel pagi hari ini dipimpin langsung oleh Pimpinan Pesantren. Dalam tausiyahnya beliau memberikan tips-tips agar santriwan-santriwati dapat memperoleh hasil yang maksimal dan memuaskan. Diantaranya adalah ikhlas dan bersungguh-sungguh,ikhlas dalam artian menjalankan kewajiban sebagai seorang santri/pelajar, ikhlas dalam melaksanakan Ujian, ikhlas dalam mematuhi aturan Pesantren maupun peraturan saat ujian berlangsung.
Bersungguh-sungguh dalam mempelajari maupun memahami mata pelajaran yang sudah disampaikan oleh para asatidz/guru selama 6 bulan ini. Bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam memahami pelajaran. Insya Allah dengan dua hal ini santri akan bisa menghadapi ujian dengan tenang sehingga hasilnya akan memuaskan sesuai dengan harapan.
Tak lupa beliau juga mengingatkan santri agar selalu jujur (tidak mencontek) saat mengerjakan ujian, karena nilai dalam raport bukanlah tujuan utama melainkan akhlaq yang baik. Apalah arti nilai bagus kalau hasil mencontek ?
Seperti yang disampaikan diatas bahwa hari Rabu ini sampai dengan Sabtu, 28 November 2015 adalah ujian syafahi (lesan) yang meliputi Ujian Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Praktek Ibadah dan Hifdzul Qur’an.
Sedangkan Ujian Tertulis (Tahriri) akan dimulai pada hari Senin, 30 November – Kamis, 10 Desember 2015.

Selamat berjuang santri-santriku….
Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kalian untuk menghadapi Ulangan Akhir Semester Gasal T.A 2015-2016 ini, Amin..

Perbedaan UN 2013 dan 2014

Perbedaan UN 2013 dan 2014

Ujian Nasional adalah hajatan besar yang harus dilewati siswa untuk menunjukkan  dan membuktikan kompetensi yang telah diraihnya selama  belajar  pada jenjang satuan pendidikan tingkat SMP/MTS dan SMA/SMK /MA. Tujuan unas adalah menilai pencapaian standar kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu. Manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan unas menurut PP No 19/2005 adalah: hasil ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk: pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan, dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan, pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Ujian nasional yang akan digelar pada April 2014 jauh berbeda dengan ujian nasional pada tahun 2013 lalu:

Aspek Ujian Nasional Tahun 2013 Ujian Nasional Tahun 2014
Komposisi nilai sekolah Komposisi nilai sekolah terdiriatas 40% nilai rata-rata rapor, dan60% nilai ujian sekolah. Komposisi nilai sekolah terdiriatas 70% nilai rata-rata rapor, dan30% nilai ujian sekolah.
Peran BSNP Penyelenggara dan Pelaksana Penyelenggara
Pemanfaatan Hasil UN Belum sepenuhnya dijadikanpertimbangan masuk  PTN  Sepenuhnya dijadikan pertimbanganmasuk  PTN
UN SD/MI Dilaksanakan oleh BSNP Dilaksanakan oleh Pemerintah Daerahdalam bentuk Ujian Sekolah/Madrasah
Jumlah Pengawas Satuan Pendidikan Satu orang pengawas setiap satuan pendidikan Jumlah pengawas satuan pendidikan  dari peguruan tinggi atau LPMP  diatur  sebagai berikut:• Jumlah ruang UN: 1 s.d 4 ruang sebanyak   satu orang• Jumlah ruang UN: 5 s.d 10 ruang sebanyak 2 orang• Jumlah ruang UN: > 10 ruang,• sebanyak 3 orang.

itulah beberapa perbedaan UN tahun 2013 dan 2014

Santri Kelas XII ikuti UN 2014

Santri Kelas XII ikuti UN 2014

Hari ini Senin, 14 April 2014 siswa-siswi SMA, MA, SMK serentak mengikuti Ujian Nasional tahun 2014. Tak ketinggalan santri kelas XII MA Pon-Pes Al Iman Muntilan juga mengikuti UN dengan penuh semangat. Mereka yakin bisa mengerjakan soal UN dengan baik karena dari jauh-jauh hari sudah mempersiapkan untuk ini.

Pelaksanaan UN di hari pertama ini berjalan lancar, Untuk menyukseskan dan pengamankan pelaksanaan UN selama berlangsung Pihak MA Pon-Pes Al Iman melakukan pelarangan terhadap siswa dan para pengawas tidak membawa barang- barang yang dilarang seperti Handphone dan Kalkulator.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan Ujian Nasional 2014 berintegrasi dengan universitas. Dengan demikian, perguruan tinggi pun dilibatkan dalam proses pelaksanaan termasuk dalam pembuatan soal, proses pembuatan soal akan berpacu pada Programme for International Student Assessment (PISA), yakni mengacu pada standar sekolah internasional dengan komposisi tingkat kesulitan 20 persen soal kategori sulit, 10 persen soal kategori mudah, dan 70 persen sisanya dalam ketegori sedang. Tahun ini pelaksanaan UN pertama kali terintegrasi vertikal, yaitu hasil UN dipertimbangkan untuk masuk ke Perguruan Tinggi.

Untuk melihat perbedaan UN tahun 2013 dan tahun 2014 bisa dibaca disini