fbpx
Ulangan Akhir Semester Gasal 2015-2016

Ulangan Akhir Semester Gasal 2015-2016

Rabu, 25 November 2015 merupakan hari pertama pelaksanaan Ulangan Akhir Semester Gasal T.A 2015-2016 bagi santri-santri Aliyah maupun Tsanawiyah. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya Pesantren Islam Al Iman lebih awal memulai UAS daripada madrasah lainnya di Lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Magelang dikarenakan adanya Ujian Lesan (Syafahi) sebelum Ujian Tertulis.
Kegiatan Ulangan Akhir Semester Gasal T.A 2015-2016 ini dibuka saat apel pagi hari ini dipimpin langsung oleh Pimpinan Pesantren. Dalam tausiyahnya beliau memberikan tips-tips agar santriwan-santriwati dapat memperoleh hasil yang maksimal dan memuaskan. Diantaranya adalah ikhlas dan bersungguh-sungguh,ikhlas dalam artian menjalankan kewajiban sebagai seorang santri/pelajar, ikhlas dalam melaksanakan Ujian, ikhlas dalam mematuhi aturan Pesantren maupun peraturan saat ujian berlangsung.
Bersungguh-sungguh dalam mempelajari maupun memahami mata pelajaran yang sudah disampaikan oleh para asatidz/guru selama 6 bulan ini. Bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam memahami pelajaran. Insya Allah dengan dua hal ini santri akan bisa menghadapi ujian dengan tenang sehingga hasilnya akan memuaskan sesuai dengan harapan.
Tak lupa beliau juga mengingatkan santri agar selalu jujur (tidak mencontek) saat mengerjakan ujian, karena nilai dalam raport bukanlah tujuan utama melainkan akhlaq yang baik. Apalah arti nilai bagus kalau hasil mencontek ?
Seperti yang disampaikan diatas bahwa hari Rabu ini sampai dengan Sabtu, 28 November 2015 adalah ujian syafahi (lesan) yang meliputi Ujian Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Praktek Ibadah dan Hifdzul Qur’an.
Sedangkan Ujian Tertulis (Tahriri) akan dimulai pada hari Senin, 30 November – Kamis, 10 Desember 2015.

Selamat berjuang santri-santriku….
Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kalian untuk menghadapi Ulangan Akhir Semester Gasal T.A 2015-2016 ini, Amin..

Kemuliaan Abu Bakr Ash-Shidiq

Kemuliaan Abu Bakr Ash-Shidiq

Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Kitab Fadha’il ash-Shahabah [Fath al-Bari Juz 7 hal. 15] dengan judul ‘Bab; Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar.” Di dalamnya beliau menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak penuturan Imam Bukhari tersebut. Imam Bukhari berkata: Abdullah bin Muhammad menuturkan kepada kami. [Dia berkata]: Abu ‘Amir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Fulaih menuturkan kepada kami. Dia berkata: Salim Abu Nazhar menuturkan kepadaku dari Busr bin Sa’id dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada orang-orang (para sahabat). Beliau mengatakan, “Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba; antara dunia dengan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.” Beliau -Abu Sa’id- berkata: “Abu Bakar pun menangis. Kami merasa heran karena tangisannya. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan ada seorang hamba yang diberikan tawaran. Ternyata yang dimaksud hamba yang diberikan tawaran itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memang, Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dengan ikatan persahabatan dan dukungan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang Khalil -kekasih terdekat- selain Rabb-ku niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai Khalil-ku. Namun, cukuplah -antara aku dengan Abu Bakar- ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam. Dan tidak boleh ada satu pun pintu yang tersisa di [dinding] masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, di Kitab Fadha’il ash-Shahabah (lihat Syarh Nawawi Juz 8 hal. 7-8) Berikut ini pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari hadits di atas. Kami sarikan dari keterangan al-Hafizh Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi. Semoga bermanfaat. Hadits ini mengandung keistimewaan yang sangat jelas pada diri Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu yang tidak ditandingi oleh siapapun -di antara para sahabat-. Hal itu disebabkan beliau berhak mendapat predikat Khalil -kekasih terdekat- bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kalaulah bukan karena faktor penghalang yang disebutkan oleh Nabi di atas (lihat Fath al-Bari [7/17 dan 19]) Abu Bakar radhiyallahu’anhu mengetahui bahwa seorang hamba yang diberikan tawaran tersebut adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu beliau pun menangis karena sedih akan berpisah dengannya, terputusnya wahyu, dan akibat lain yang akan muncul setelahnya (lihat Syarh Nawawi [8/7]) Hadits ini menunjukkan bahwa semestinya masjid dijaga agar tidak menjadi seperti jalan tempat berlalu-lalangnya manusia kecuali dalam kondisi darurat yang sangat penting (lihat Fath al-Bari [7/19]) Para ulama itu memiliki pemahaman yang bertingkat-tingkat. Setiap orang yang lebih tinggi pemahamannya maka ia layak untuk disebut sebagai a’lam (orang yang lebih tahu) (lihat Fath al-Bari [7/19]) Hadits ini mengandung motivasi untuk lebih memilih pahala akhirat daripada perkara-perkara dunia (lihat Fath al-Bari [7/19]) Hendaknya seorang berterima kasih kepada orang lain yang telah berbuat baik kepadanya dan menyebutkan keutamaannya (lihat Fath al-Bari [7/19]) Saudaraku… Kita bisa melihat bersama bagaimana zuhudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap dunia. Kecintaan kepada akhirat dan kerinduan untuk bertemu dengan Allah jauh lebih beliau utamakan daripada kesenangan dunia. Kita juga bisa melihat bersama bagaimana kedalaman ilmu Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu terhadap hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga ilmu itupun terserap dengan cepat ke dalam hatinya dan membuat air matanya meleleh. Beliau sangat menyadari bahwa kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah para sahabat laksana lentera yang menerangi perjalanan hidup mereka. Nikmat hidayah yang dicurahkan kepada mereka melalui bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah di atas segala-galanya. Kita pun bisa menarik kesimpulan bahwa dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan dengan bantuan dan dukungan para sahabatnya. Beliau -dengan kedudukan beliau yang sangat agung- tidaklah berdakwah sendirian. Terbukti pengakuan beliau terhadap jasa-jasa Abu Bakar yang sangat besar kepadanya. Tentu saja yang beliau maksud bukan semata-mata bantuan Abu Bakar untuk kepentingan pribadi beliau, akan tetapi demi kemaslahatan umat yang itu tak lain adalah dalam rangka dakwah dan berjihad di jalan Allah. Hadits ini juga menunjukkan betapa agungnya kedudukan Abu Bakar di mata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melebihi sahabat-sahabat yang lain. Sehingga sangat keliru pemahaman sekte Syi’ah yang menjelek-jelekkan bahkan sampai mengkafirkan beliau. Hadits ini pun menggambarkan keluhuran akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap para sahabatnya. Bagaimana beliau dengan tanpa malu-malu mengakui keutamaan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Padahal, kedudukan Abu Bakar tentu saja berada di bawah kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun demikian, beliau menyebutkan jasanya dan menyanjungnya di hadapan para sahabat yang lain. Hadits ini juga menunjukkan bahwa memuji orang di hadapannya diperbolehkan selama orang tersebut tidak dikhawatirkan ujub karenanya. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Abu Bakar dari sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memujinya di hadapannya dan di hadapan para sahabat yang lain. Hal itu mengisyaratkan kepada kita bahwa Abu Bakar bukanlah termasuk kategori orang yang dikhawatirkan merasa ujub setelah mendengar pujian tersebut. Hadits ini juga menunjukkan bahwa kecintaan yang terpendam di dalam hati pasti akan membuahkan pengaruh pada gerak-gerik fisik manusia. Kecintaan yang sangat dalam pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Abu Bakar pun tampak dari ucapan dan perbuatan beliau. Kalau kita mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka konsekuensinya kita pun mencintai orang yang beliau cintai. Dan di antara orang yang beliau cintai, bahkan yang paling beliau cintai adalah Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Kecintaan yang berlandaskan Islam dan persaudaraan seagama. Lantas ajaran apakah yang justru mengajarkan kita untuk membenci orang-orang yang paling dicintai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalau bukan ajaran kesesatan?! —

Sumber : muslim.or.id

Tentang Rizki

Tentang Rizki

Saudaraku, mari kita sejenak merenungkan ayat-ayat Al- Qur’an yang menceritakan tentang rezeki semoga keyakinan kita (bahwa semua rezeki itu adalah datang dari Allah Ar Razaq) bertambah semakin kuat dan mendalam.
Firman Allah SWT:

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Jaminan rezeki dari Allah SWT pada mahkluk-Nya adalah jaminan yang pasti lagi benar untuk menunjukkan betapa Maha Kaya Allah yang memiliki segala sifat kebesaran-Nya.

Firman Allah SWT:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

“Dan kepunyaan Allah kepemilikan segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan” (Surat Ali Imran, ayat 109).

Selain dari Allah SWT siapa lagi yang bisa mencukupkan sumber rezeki yang tidak pernah putus-putus untuk menghubungkan siklus kehidupan di alam ini. Bukan satu atau dua hari tetapi ribuan bahkan mungkin jutaan tahun hingga lebih. Hanya Dia saja yang berhak dan layak untuk menurun dan mengeluarkan segala rezeki dari sumber mana yang Dia kehendaki.

Inilah antara makna “ilah” yang terkandung di dalam kalimat syahadat yaitu “la ilah haillallah”. Dalam permasalahan rezeki, kalimat syahadat ini mengajar kita i’tiqad “Tidak ada yang memberi rezeki selain Allah”. Jika seseorang mengakui bahwa ada makhluk yang memberi selain Allah berarti dia telah beri’tiqad dengan i’tiqad yang salah dan berakibat syirik.

Majikan atau tempat kita kerja adalah ibarat tukang pos yang mengirim surat kepada seseorang. Bukannya surat itu darinya sendiri, karena rezeki yang berada ditangannya itu juga datang dari Allah. Bagaimana jika Allah menahan rezeki kepadanya?

Firman Allah SWT:

أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ

“Siapakah yang dapat memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki” (Surah Al-Mulk, ayat 21).

Pada waktu pagi kita dianjurkan membaca doa ini:

اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ ، لا شَرِيكَ لَكَ ، فَلَكَ الْحَمْدُ ، وَلَكَ الشُّكْرُ

“Ya Allah, pada pagi ini apakah ini nikmat yang ada padaku atau setiap makhluk-Mu, semuanya dari-Mu.Tidak ada sekutu bagi-Mu. Milik-Mu segala pujian dan kepada-Mu terima kasih kami “(Zikir al-Ma’surat. Riwayat Imam an-Nasai dari Abdullah bin Ghannam ra).

Ini membawa pengertian agar akidah tauhid kita diperbaiki sebelum kita memulai aktivitas mencari rezeki di awal-awal pagi. Manusia hanyalah makhluk yang sangat lemah sehingga tidak mampu membuat sebuah nasi pun di atas bumi ini dan tergantung pada pohon padi dari ciptaan Allah SWT

Allah SWT menjamin rezeki pada semua mahluk tetapi kenapa ada yang mati kelaparan. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah timbul berbagai kerusakan dan bencana di darat dan di laut, karena yang telah dilakukan oleh tangan manusia; (timbulnya yang demikian) karena Allah merasakan kepada mereka sebagian dari balasan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka telah lakukan, agar mereka kembali (insaf dan bertobat) “(Surat ar-Rum, ayat 41).

Kematian dan kelaparan 26 ribu orang di Euthopia bukti sebuah kebinasaan akibat dari pendurhakaan manusia. Bumi dirusak oleh tangan-tangan manusia seperti tubuh yang dirusak oleh obatan kimia yang bernama drugs. Tubuh yang disertakan dengan sistem kekebalan juga hancur akibat dari narkoba yang diambilnya pada setiap hari. Inilah sebabnya Allah menurunkan aturan hidup .

Hal kedua dari ayat awal pada dipahami bahwa rezeki itu juga perlu dicari sebagaimana Allah menyatakan dengan kalimat “makhluk bergerak” bukan hanya menanti yang bulat datang bergolek dan yang pipih datang melayang. Lihatlah rezeki seekor burung yang setiap hari keluar dari sarangnya dan kembali ke sarangnya dengan membawa makanan (rezeki)..

Ini terkecuali dengan tes/ujian dari Allah yang berupa kekurangan makanan dan buah-buahan seperti firman Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasakan) kelaparan, dan (dengan berlakunya) kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar “(QS Al-Baqarah, ayat 155).

Ujian adalah hak Allah sama seperti rezeki. Hikmah dari ujian akan menjadikan suatu ummat itu bertambah kuat bukannya melemah. Ia tergantung bagaimana sikap yang diambil terhadap ujian yang menimpanya. Ibarat anak sekolah yang mau naik kelas harus ada tes/ujian. Jika ujian itu mematikan jiwa dan semangatnya, itu tandanya Allahlah yang mempersempit kehidupannya seperti asma ‘Allah yang bernama “Al Qobidh”.

وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Allah-lah yang menyempit dan yang meluaskan (pemberian rezeki) dan kepada kamu dikembalikan” (Surah al-Baqarah, ayat 245).

Bangsa-bangsa yang terus “bergerak” telah menguasai dunia dibandingkan dengan bangsa yang suka berpeluk tubuh. Mereka menguasai semua bidang keilmuan pada pokok perubahan yang dilakukan pada setiap detik. Rezeki itu kuncinya ilmu karena itulah ia harus bergerak untuk mencarinya.

Firman Allah SWT:

إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (Surat ar-Ra’du, ayat 11).

Semoga bermanfaat… Amini Yaa Rabb