fbpx
Kunjungan Kapolda Jawa Tengah ke Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan

Kunjungan Kapolda Jawa Tengah ke Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan

PESANTREN ISLAM AL IMAN, Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Irjen Pol. Drs. Condro Kirono, M.M., M.Hum. berkunjung ke Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan dalam rangka bersilaturahmi.
Dalam kunjungan ini beliau didampingi Karo SDM Polda Jateng Kombes Pol Edy Murbowo, SIk, M.Si, Karo Rena Polda Jateng Kombes Pol A Sampe Sitorus S.E., Dir Intelkam Polda Jateng Kombes Pol Drs.Yakobus Marjuki, Kapolres se Eks wilayah Kedu, Kasubdit paminal Bid Propam Polda Jateng AKBP Roni Tri Prasetio Nugroho,Kasat PJR Dit Lantas Polda Jateng, Korspripim Polda Jawa Tengah. Hadir juga dalam acara silaturahmi ini Kapolres Magelang,AKBP Zain Dwi Nugroho, S.H., S.I.K., M.Si. dan Kapolres Magelang Kota, AKBP Edi Purwanto, S.I.K., M.H.

Kehadiran Kapolda disambut oleh Pimpinan Pesantren Islam Al Iman, Dr. Muhammad Zuhaery, MA beserta para dewan pengasuh dan pengurus Yayasan. Saat akan memasuki halaman Pesantren, Kapolda dikalungkan sorban berwarna putih oleh Pimpinan Pesantren sebagai simbol selamat datang.

Kunjungan Kapolda Jateng Ke Al Iman
Acara dimulai dengan sambutan selamat datang dari Pimpinan Pesantren, dalam sambutannya beliau menyampaikan terima kasih atas kunjungan Kapolda beserta rombongannya. Tak lupa juga memohon do’a restu agar Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan dapat terus beristiqomah dalam mendidik putra-putri bangsa, mengantarkan pada masa depan yang cerah.

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Kapolda Jateng, beliau berpesan kepada seluruh civitas agar senantiasa ikhlas mendidik santri-santri, memberikan bekal budi pekerti dan akhlak kepada calon-calon pemimpin bangsa di masa depan. Beliau juga menitipkan pesan kepada seluruh tokoh masyarakat yang hadir pada kesempatan ini agar senantiasa ikut menjaga kondusifitas keamanan masyarakat terutama di wilayah kecamatan Muntilan.

Acara kemudian diakhiri dengan do’a bersama yang dipimpin oleh Pimpinan Pesantren dan juga bertukar cinderamata sebagai kenang-kenangan.

Foto bersama Kapolda Jateng

Kapolda Jateng di Pesantren Al Iman

Kapolda Jateng mampir ke Pondok Al Iman

Kapolda Jateng Ke Al Iman Muntilan

Sambutan pesantren Al Iman kepada Kapolda Jateng

Makna Tahun Baru Hijriyah 1438 H

Makna Tahun Baru Hijriyah 1438 H

Kaum Muslimin kembali memperingati pergantian tahun baru Hijriyah, yaitu 1437 H berganti 1438 H. Peristiwa ini mengingatkan kembali bahwa jatah hidup di dunia berkurang meskipun secara matematika usia bertambah.

Seorang ulama besar Imam Hasan al-Basri mengingatkan, “Wahai anak Adam, sesungguhnya Anda bagian dari hari, apabila satu hari berlalu, berlalu pulalah sebagian hidupmu.”

Dengan pemaknaan seperti itu seharusnya setiap pergantian tahun –baik Hijriyah maupun Masehi– dimanfaatkan untuk mengevaluasi diri (muhasabah) sejauh mana bekal yang sudah kita siapkan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian, bukan untuk berhura-hura hingga menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Khalifah Umar bin Khatab pernah menyatakan, “Evaluasilah diri kalian sebelum kalian dievaluasi. Timbanglah amal-amal kalian sebelum ditimbang. Bersiaplah untuk menghadapi hari yang amat dahsyat. Pada hari itu segala sesuatu yang ada pada diri kalian menjadi jelas, tidak ada yang tersembunyi.”

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah melangkah kaki seorang anak Adam di hari kiamat sebelum dievaluasi empat hal: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dihabiskan, dan tentang ilmunya untuk apa dimanfaatkan.” (HR Tirmidzi).

Terkait usia, Rasulullah SAW menegaskan, “Sebaik-baiknya manusia ialah yang panjang umurnya dan baik amalnya, sedangkan seburuk-buruknya manusia adalah yang panjang umurnya, tetapi buruk amal perbuatannya.” (HR Tirmidzi).

Selain itu, pergantian tahun juga mengingatkan tentang hakikat waktu. Imam Syahid Hasan al-Banna berkata, “Siapa yang mengetahui arti waktu berarti mengetahui arti kehidupan. Sebab, waktu adalah kehidupan itu sendiri.”

Dengan begitu, manusia yang selalu menyia-nyiakan waktu dan umurnya berarti tidak memahami arti kehidupan. Ulama kharismatik Dr Yusuf Qaradhawi dalam bukunya Al-Waqtu fi Hayatil Muslim menjelaskan tentang tiga ciri waktu, yaitu cepat berlalu, tidak akan kembali lagi, dan sebagai harta yang paling mahal.

Pertanyaannya, jika waktu itu cepat berlalu dan tidak mungkin kembali lagi, serta harta yang paling mahal, apakah pantas kita menyia-nyiakannya?

Karena itu, agar dalam pergantian tahun baru Hijriyah kali ini memberi manfaat berharga dalam kehidupan, maka ada baiknya kita renungkan kembali berbagai keutamaan berhijrah di jalan Allah SWT. “…. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, barang siapa berhijrahnya karena dunia yang ingin diperoleh atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ganjarannya sekadar apa yang diniatkan dalam hijrahnya.” (HR Bukhari).

Dalam berhijrah, Allah memberikan dua pilihan, yaitu berhijrah menuju kebaikan (al-khair) atau keburukan (asy-syar). Dr Ahzami Samiun Jazuli dalam bukunya Hijrah dalam Pandangan Alquran menyatakan, hijrah bukan berarti perpindahan tempat dari satu negeri ke negeri yang lain. Hijrah juga bukan perjalanan mencari sesuap nasi dari negeri yang gersang menuju negeri yang subur.

Lanjut Ahzami, sesungguhnya hijrah adalah perjalanan yang dilakukan oleh setiap Mukmin karena kebenciannya terhadap berbagai bentuk penjajahan, belenggu yang menghalangi kebebasan untuk mengekspresikan keimanan, serta untuk kemaslahatan.

Semangat hijrah hendaknya tetap hidup dalam jiwa setiap manusia, menjulang tinggi dalam hatinya, dan menghiasi setiap pandangan matanya. Berhijrah dari kejahatan menuju kebaikan, dari kebodohan menuju ilmu, dari kekerasan menuju keramahan, dari kebohongan menuju kejujuran, dari kesewenang-wenangan menuju keadilan, dari kelembekan menuju ketegasan.

Kemudian, dari arogansi menuju kelemahlembutan, dari permusuhan menuju perdamaian, dari saling menjatuhkan menuju saling membangun, dari yang biasanya minta selalu dilayani menuju berlomba saling melayani, dan seterusnya. Intinya, berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik dan memberi manfaat yang lebih besar kepada umat, bangsa, dan negara.

Dan, dengan berhijrah di jalan Allah dan Rasul-Nya maka seseorang akan memperoleh banyak keutamaan. Di antaranya, pertama, akan diberikan keluasan rezeki. “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nisa’ [4]: 100).

Kedua, dihapuskan kesalahan-kesalahannya. “Maka, orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Kuhapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS Ali Imran [3]: 195).

Ketiga, ditinggikan derajatnya di sisi Allah dan mendapatkan jaminan surga-Nya. “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda, dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripadanya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS at-Taubah [9]: 20-22).

Keempat, diberikan kemenangan dan meraih keridhaan-Nya. “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah [9]: 100).

Untuk itu, pada momentum pergantian tahun baru Islam kali ini, hendaknya kita jadikan sebagai titik tolak untuk merancang dan menjalani kehidupan secara lebih baik. Selamat tinggal tahun 1437 H dan selamat datang tahun baru 1438 H