fbpx
Kunjungan Kapolda Jawa Tengah ke Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan

Kunjungan Kapolda Jawa Tengah ke Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan

PESANTREN ISLAM AL IMAN, Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Irjen Pol. Drs. Condro Kirono, M.M., M.Hum. berkunjung ke Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan dalam rangka bersilaturahmi.
Dalam kunjungan ini beliau didampingi Karo SDM Polda Jateng Kombes Pol Edy Murbowo, SIk, M.Si, Karo Rena Polda Jateng Kombes Pol A Sampe Sitorus S.E., Dir Intelkam Polda Jateng Kombes Pol Drs.Yakobus Marjuki, Kapolres se Eks wilayah Kedu, Kasubdit paminal Bid Propam Polda Jateng AKBP Roni Tri Prasetio Nugroho,Kasat PJR Dit Lantas Polda Jateng, Korspripim Polda Jawa Tengah. Hadir juga dalam acara silaturahmi ini Kapolres Magelang,AKBP Zain Dwi Nugroho, S.H., S.I.K., M.Si. dan Kapolres Magelang Kota, AKBP Edi Purwanto, S.I.K., M.H.

Kehadiran Kapolda disambut oleh Pimpinan Pesantren Islam Al Iman, Dr. Muhammad Zuhaery, MA beserta para dewan pengasuh dan pengurus Yayasan. Saat akan memasuki halaman Pesantren, Kapolda dikalungkan sorban berwarna putih oleh Pimpinan Pesantren sebagai simbol selamat datang.

Kunjungan Kapolda Jateng Ke Al Iman
Acara dimulai dengan sambutan selamat datang dari Pimpinan Pesantren, dalam sambutannya beliau menyampaikan terima kasih atas kunjungan Kapolda beserta rombongannya. Tak lupa juga memohon do’a restu agar Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan dapat terus beristiqomah dalam mendidik putra-putri bangsa, mengantarkan pada masa depan yang cerah.

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Kapolda Jateng, beliau berpesan kepada seluruh civitas agar senantiasa ikhlas mendidik santri-santri, memberikan bekal budi pekerti dan akhlak kepada calon-calon pemimpin bangsa di masa depan. Beliau juga menitipkan pesan kepada seluruh tokoh masyarakat yang hadir pada kesempatan ini agar senantiasa ikut menjaga kondusifitas keamanan masyarakat terutama di wilayah kecamatan Muntilan.

Acara kemudian diakhiri dengan do’a bersama yang dipimpin oleh Pimpinan Pesantren dan juga bertukar cinderamata sebagai kenang-kenangan.

Foto bersama Kapolda Jateng

Kapolda Jateng di Pesantren Al Iman

Kapolda Jateng mampir ke Pondok Al Iman

Kapolda Jateng Ke Al Iman Muntilan

Sambutan pesantren Al Iman kepada Kapolda Jateng

Silaturahim Wali Santri untuk Sosialisasi Kriteria Kenaikan Kelas dan Pembagian Hasil UTS

Silaturahim Wali Santri untuk Sosialisasi Kriteria Kenaikan Kelas dan Pembagian Hasil UTS

Ahad, 23 Oktober 2016
Setengah semester telah berjalan untuk tahun pelajaran 2016/2017 di Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan. Selama 3 bulan ini para santri tentu telah mendapat sebagian ilmu dan pelajaran serta menempuh Ulangan Tengah Semester (UTS) Ganjil. Hingga pada hari ini Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan mengadakan pertemuan dalam rangka Silaturahim Wali Santri untuk Sosialisasi Kriteria Kenaikan Kelas dan pembagian hasil UTS Ganjil Tahun 2016/2017. Seluruh wali santri dari kelas 7 MTs hingga kelas 12 MA diundang untuk mengikuti kegiatan ini agar bersama-sama mengevaluasi proses pembelajaran putra-putrinya juga sebagai tola ukur bagi santri untuk terus memperbaiki tingkat prestasi kedepannya.

Pembagian hasil UTS Ganjil pada tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya pembagian hasil UTS langsung dibagikan kepada masing-masing santri, maka hari ini wali santri diundang untuk menerima langsung hasil UTS putra-putrinya.

Acara dibuka oleh Sekretaris Pesantren, Ustadz Muhammad Tohir Ridwan, S.Pd.I sekaligus memberikan ucapan selamat datang dan memberi info seputar agenda pesantren yang akan dilaksanakan di waktu terdekat. Dilanjutkan sambutan dari Ustadz Abdul Rosyid, S.Pd.I selaku Kepala Biro Tarbiyatul Mua’allimin dan Muballighin yang menjelaskan secara rinci mengenai Kriteria Kenaikan Kelas yang harus dipenuhi oleh setiap santri dari masing-masing tingkatan dan jenjangnya. Dengan adanya sosialiasi ini harapannya pesantren mampu memberikan pemahaman kepada para walisantri bahwa agar bisa naik ke tingkat selanjutnya harus memenuhi beberapa kriteria.

Acara diakhiri dengan pembagian hasil UTS Ganjil Tahun Ajaran 2016/2017 oleh masing-masing wali kelas di dalam ruang kelas masing-masing. Dalam kesempatan inilah orang tua/ wali santri dapat menerima info mengenai perkembangan anaknya dalam proses belajar.

Dari Pesantren untuk Bangsa Indonesia

Dari Pesantren untuk Bangsa Indonesia

“Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2016
Santri harus bangkit dan berkemajuan serta berkemandirian untuk kemajuan bangsa Indonesia tercinta”

DR. Muhammad Zuhaery, MA – Pengasuh Pondok Pesantren Islam Al Iman

Sejarah tidak akan memungkiri besarnya kontribusi serta peran Pesantren bersama Kyai dan santri santrinya dalam berbagai kiprahnya dalam pembangunan dan perjuangannya demi bangsa dan negara ini.

Nama nama besar seperti Tuanku Imam Bonjol, Yang merupakan seorang ulama besar, Mujahid dan dicatat sebagai salah seorang Pahlawan Nasional adalah salah satu bukti nyata kontribusi Pesantren bersama Kyai dan santrinya kepada nusa bangsa dan negara ini.
Menurut Wahjoetomo, penulis buku Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan, perlawanan pesantren terhadap Belanda dilakukan dengan tiga cara.
Pertama, uzlah (mengasingkan diri). Mereka menyingkir ke desa-desa dan tempat terpencil yang jauh dari jangkauan kolonial. Tidak aneh, jika pesantren mayoritas berada di daerah pinggiran, pelosok, dan bahkan pedalaman.

Dengan hijrah ke pelosok-pelosok pedesaan, pesantren mengembangkan masyarakat Muslim yang solid, yang pada gilirannya berperan sebagai kubu pertahanan rakyat dalam melawan penjajah. Raffles sendiri dalam bukunya The History of Java mengakui bahaya para kiai terhadap kepentingan Belanda. Sebab, menurutnya, banyak sekali kiai yang aktif dalam berbagai pemberontakan.

Bambu Runcing yang terkenal sebagai senjata para pejuang kemerdekaan adalah inisiatif dari Kiai Subkhi atau Mbah Subkhi atau Kyai Bambu Runcing yang kemudian diabadikan sebagai nama pesantren, yakni Pondok Pesantren Kiai Parak Bambu Runcing, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah.

Kedua, bersikap nonkooperatif dan melakukan perlawanan secara diam-diam. Selain mengaji dan menelaah kitab kuning, para kiai menumbuhkan semangat jihad santri-santrinya. Ketika Jepang memobilisasi tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah.
Ketiga, memberontak dan mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Misalnya, pemberontakan kaum Padri di Sumatra Barat (1821-1828) di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol, Dimana beliau merupakan seorang ulama besar, pemberontakan Pangeran Diponegoro, ( Pangeran Dipenogoropun merupakan seorang Kyai ) di Jawa Tengah (1825-1830), dan pemberontakan di Aceh (1873-1903) yang dipimpin oleh Teuku Umar dan Teuku Cik Ditiro. Di Banjar Kalimantan ada Pangeran Antasari ( Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin ) dengan Jiwa keislamannya yang didapat sejak dari kecil dari bimbingan bimbingan ‘ulama’ didukung para ulama,santri dan rakyat berjuang Kalimantan. semboyannya sangat terkenal adalah haram manyarah waja sampai kaputing (haram menyerah, baja sampai keujung). Maksudnya dalam mengusir penjajah Belanda tidak akan pernah meminta ampun atau menyerah, perjuangan akan diteruskan sampai tenaga yang penghabisan.

” Masihkah kita meragukan peran dan kontribusi institusi pesantren untuk negara dan bangsa ini? Sebaliknya, yang harus dipertanyakan adalah apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintah atau mungkin anda yang secara pribadi telah berkecukupan juga memiliki “power” untuk ikut berkiprah, berkontribusi dan berperan aktif terhadap pembangun dan pengembangkan pesantren-pesantren di Indonesia umumnya atau Pesantren di daerah terdekat anda khususnya.”

Bung Tomo dengan latar belakang kesantriannya terus mengobarkan semangat Zihad “Merdeka Atau Mati..Allahu Akbar”, semanga jihadnya tersebut yang membuat Arek Arek Soroboyo rela mengorbankan nyawa mereka berjuang demi negara. Bung Tomo terlebih dahulu sowan kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama pada saat itu. Bung Tomo izin untuk membacakan pidatonya yang merupakan manifestasi dari resolusi jihad yang sebelumnya telah disepakati oleh para ulama NU, Dan Tahukah anda bahwa Jendral Besar Panglima Besar Tentara Nasional Kita Jendral Soedirman (alm ) merupakan didikan dan gemblengan dari Kyai Haji Busyro di sebuah Pondok Pesantren di Binorong..Jend Soedirman juga bekerja sama dengan pondok pesantren yang dipimpin Kyai Siraj. Pondok Pesantren ini banyak menggiring santrinya untuk berjihad dalam pertempuran Ambarawa. dan masih banyak sekali peran serta serta kiprah dari para ulama, dan santri tokoh tokoh Islam dalam perjuangan mereka demi bangsa dan negara ini.

Semangat jihad yang dimiliki muslim dengan teriakan “Allahu Akbar”, yang telah dikobarkan oleh para Kyai, Ulama dan santri itulah yang menempatkan kita pada era sekarang ini, yaitu kemerdekaan”. karena Semangat dan mentalitas jihad pasti dimiliki oleh mayoritas ummat Islam..

Bahkan, besarnya pengaruh kiai tidak hanya terbatas pada masyarakat awam, tapi juga menjangkau istana-istana. Kiai Hasan Besari, dari pesantren Tegalsari Ponorogo, misalnya berperan besar dalam meleraikan pemberontakan di Keraton Kartasura. Bukan hanya itu, pesantren dulu juga mampu melahirkan pujangga. Raden Ngabehi Ronggowarsito adalah santri Kiai Hasan Besari yang berhasil menjadi Pujangga Jawa terkenal.

Secara historis, keberadaan pesantren hampir bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia. Alasannya sangat sederhana. Islam, sebagai agama dakwah, disebarkan secara efektif melalui proses transformasi ilmu dari ulama ke masyarakat (tarbiyah wa ta’lim, atau ta’dib). Proses ini di Indonesia berlangsung melalui pesantren.

Secara bahasa, pesantren tidak sepenuhnya merujuk pada kata dalam bahasa Arab. Sebutan untuk pelajar yang mencari ilmu bukan murid seperti dalam tradisi sufi, thalib atau tilmidh seperti dalam bahasa Arab, tapi santri yang berasal dari bahasa Sanskerta. San berarti orang baik, dan tra berarti suka menolong.
Sedangkan lembaga tempat belajar itu pun kemudian mengikuti akar kata santri dan menjadi pe-santri-an atau “pesantren”. Di Sumatra, pesantren disebut rangkang, meunasah, atau surau. Ini menunjukkan bahwa pendekatan dakwah para ulama yang permisif terhadap tradisi lokal.

Di Malaysia dan Thailand, lembaga ini dikenal dengan nama pondok. Kata ini merujuk pada bahasa Arab fundukyang berarti hotel atau penginapan, yang maksudnya adalah asrama. Jadi, meskipun istilah “pesantren” tidak memiliki akar kata dari tradisi Islam, tapi substansi pendidikannya tetap Islam.

Menurut KH. Imam Zarkasyi, dalam buku Pekan Perkenalan Pondok Modern Gontor, pesantren didefinisikan sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, di mana kiai sebagai sentral figurnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam di bawah bimbingan kiai yang diikuti santri sebagai kegiatannya.

Jadi, ada empat ciri utama pesantren. Pertama, pondok harus berbentuk asrama. Kedua, kiai sebagai sentral figur yang berfungsi sebagai guru, pendidik, dan pembimbing. Ketiga, masjid sebagai pusat kegiatan. Dan keempat, materi yang diajarkan tidak terbatas kepada kitab kuning saja.

Menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Penulis Peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization(INSIST), dengan catur-pusat inilah, pendidikan pesantren berfungsi sebagai “melting pot”, yaitu tempat untuk mengolah potensi-potensi dalam diri santri agar dapat berproses menjadi manusia seutuhnya (insan kamil).

Dengan demikian, karakter pendidikan pesantren bersifat menyeluruh. Artinya, seluruh potensi pikir dan zikir, rasa dan karsa, jiwa dan raga dikembangkan melalui berbagai media pendidikan yang terbentuk dalam suatu komunitas yang sengaja didesain secara integral untuk tujuan pendidikan.

“Di tengah gencarnya kampanye dan program pendidikan berkarakter dari pemerintah belakangan ini, pesantren justru jauh jauh hari sejak dari awal keberadaannya sudah menerapkan pola tersebut dengan pembelajaran Adab Dan Ahlaq”. Tujuan pendidikan pesantren pada hakekatnya seperti halnya tujuan kehidupan manusia di dunia ini adalah ibadah, yang spektrumnya seluas pengertian ibadah itu sendiri. Santri tidak hanya disiapkan untuk mengejar kehidupan dunia, tapi juga mempersiapkan kehidupan akhirat.

Di sisi lain, saat ini sedang banyak dikembangkan sekolah-sekolah yang diberi label Sekolah Berstandar Internasional (SBI), sebagian dengan pola boarding house school yang mengadopsi pola pendidikan pesantren . Tetapi jika kita melihatnya lebih dekat, sekolah-sekolah dengan label internasional tersebut hanyalah sekolah yang bertarif mahal (internasional), dan bukan sekolah yang berbahasa Inggris.
Ibaratnya, kita ingin anak kita menjadi artis, maka yang kita lakukan adalah mendandani anak kita dengan pakaian artis, bukan melatih vokal atau acting anak tersebut. Sekolah berstandar internasional yang sedang dirintis pemerintah juga dievaluasi dengan ujian nasional. Lalu, apa bedanya dengan sekolah berstandar nasional atau berstandar lokal?

Jika Anda ingin melihat sekolah berstandar internasional, eksistensi Pondok Modern Gontor adalah salah satu bukti konkretnya. Tidak hanya santri wajib berbahasa Arab dan Inggris, Gontor juga mampu menarik siswa dari luar negeri, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Brunai Darussalam, Jepang, Amerika Serikat, Australia, dan berbagai negara lainnya. Inilah sekolah bertaraf internasional, walaupun tanpa embel embel sekolah internasional.

Bahkan, jauh sebelum Indonesia merdeka dan jauh sebelum sistem pendidikannya mapan, pesantren dan alumni-alumninya telah banyak berperan—baik di nusantara maupun kancah dunia. Pada abad ke-17 hingga awal abad ke-19, tercatat nama-nama sekaliber Nuruddin Ar-Raniri, Hamzah al-Fansuri, Abdul Rauf al-Sinkili, Syekh Yusuf al-Makassari, Abdussamad al-Falimbani, Khatib Minangkabawi, Nawawi al-Bantani, Muhammad Arsyad al-Banjari, dan lain-lain.

Sosok-sosok alumni pesantren dan Timur-Tengah ini telah melahirkan karya-karya besar di bidang fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf. Citra intelektual dan ekspansi karya sosok-sosok ini bukan hanya sebatas taraf domestik nusantara, tapi juga sampai diakui di kawasan Timur Tengah dan Afrika. Nama nanama besar beliaupun masih terkenang dengan segala jejak jejaknya sampai sekarang.

Di zaman pergerakan pra-kemerdekaan, peran pesantren juga sangat menonjol, lagi-lagi melalui alumninya. HOS Cokroaminoto pendiri gerakan Syarikat Islam dan guru pertama Soekarno di Surabaya, adalah juga alumni pesantren. KH. Mas Mansur, KH. Hasyim Ash’ari, KH. Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, KH. Kahar Muzakkir adalah alumni pesantren yang menjadi tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh.

Sesudah kemerdekaan, alumni-alumni pesantren terus memainkan perannya dalam mengisi kemerdekaan. Di antaranya, H.M. Rasyidi (alumni Pondok Jamsaren, Menteri Agama RI pertama), Mohammad Natsir (alumni Pesantren Persis menjadi Perdana Menteri), KH. Wahid Hasyim (alumni pondok Tebuireng), KH. Muslih Purwokerto dan KH. Imam Zarkasyi (alumni Jamsaren, anggota Dewan Perancang Nasional), KH. Idham Khalid (alumni Pondok Gontor, wakil Perdana Menteri dan Ketua MPRS).

Di era Orde Baru, di tengah maraknya pembangunan fisik yang disertai dengan proses marginalisasi peran politik umat Islam, kiai dan pesantren tetap memiliki perannya dalam membangun bangsa. Dampak pembangunan fisik yang tidak berangkat dari konsep character building adalah dekadensi moral, korupsi, tindak kekerasan dan lain-lain.

Akibatnya, pendidikan, khususnya sistem sekolah di kota-kota besar tidak lagi menjanjikan kesalehan moral dan sosial anak didik. Dalam kondisi seperti inilah pesantren muncul menjadi sebagai alternatif penting. Dengan jiwa ukhuwwah Islamiyah, belum pernah di pesantren terjadi “tawuran”, atau terdengar adu jotos antar santri pondok A dengan pondok B dengan membawa senjata tajam, seperti yang sering kita lihat dan dengar di media. Dan karena jiwa kemandirian di pesantren, tidak sedikit dari santri drop out justru sukses sebagai pengusaha dan social entrepeneur.
Ketika terjadi upaya konvergensi ilmu pengetahuan agama dan umum, medan distribusi alumni pesantren menjadi semakin luas.

Penyeberangan santri ke perguruan tinggi umum menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Para santri ini kemudian mengembangkan kajian-kajian agama secara informal dan intensif yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa yang tidak memilik background agama.

Saat ini, peran pesantren tidak lagi langsung dimainkan oleh alumninya, tapi oleh murid-murid alumninya. Pergerakan mahasiswa, seperti HMI, PMII, IMM yang marak pada dekade 1970-an dan 1980-an, dan juga gerakan LDK, usrah-usrah dan intensifikasi aktivitas masjid kampus dan lain-lain, tidak dapat dipisahkan dari peran dan kontribusi alumni-alumni pesantren.

Di ITB ( Institute Technology Bandung ) Para Penggagas Mesjid Salman yang tentunya jiwa ke Islaman sudah melekat kuat dalam diri mereka, karena didikan Pondok, salah seorang Penggagasnya adalah Bang Imad ( alm ) Ayahnya, Haji Abdulrahim, adalah seorang ulama di Sumatera Utara. Sedangkan ibunya, Syaifiatul Akmal, seorang wanita yang merupakan cucu dari sekretaris Sultan Langkat, yang mana sejak dari kecil sudah mendidik Bang Imad (alm) dengan pondasi – pondasi Islami, bersama Mahasiswa dan masyarakat sekitarnyanya merintisnya sejak 50 tahunan yang lalu bersama Pengajian Mesjid Salman ITB-nya dalam berbagai kegiatan positif, terutama pembinaan guna menghasilkan generasi Islami yang mumpuni, yang berakidah kokoh,santun dalam ahlak serta luas wawasan keilmuannya. Salman ITB bersama komunitasnya aktif pula dalam berbagai kegiatan – kegiatan Sosial lainnya, secara tidak langsung Mesjid Salman menjadi central Da’wah dan Syiar dalam Kampus ITB, khususnya buat Mahasiswa-mahasiswa ITB dan di luar ITB juga umum dan Masyrakat sekitar kampus, dan tentunya masih banyak kiprah kiprah ormas dan organisasi organisasi Islam lainnya di kota kota besar terutama yang dimotori alumnus anak anak Pondok Pesantren, pada era sekarang.

Jadi apalagi yang diragukan dengan kontribusi “ulama, Ajengan ( Kyai ) Dan Santri serta generasi generasi Islam” Pada Bangsa dan Negara ini..?? terus apakah Pemerintah sudah memberikan perhatian dan kontribusi yang cukup pada pondok pondok Pesantren ..?? terutama Pondok Pondok Pesantren di daerah daerah Terpencil..yang masih terkesan “kumuh”, gak bermutu, gak menjamin masa depan, dengan tatapan sebelah mata dan senyum sinis dsb, yang membuat orang tua anak enggan mengamanahkan anaknya ke sebuah Pondok Pesantren karena imagenya tersebut..?? atau sibuk dengan berinvestasi pada Sekolah Bertaraf Internasional ( SBI ) dan Boarding house boarding house school….dengan alasan skeptis”penjaminan mutu kompetensi kelulusan” sementara banyak Pondok Pondok Pesantren terutama di pelosok yang tertatih tatih dengan dana mandiri dan seadanya berusaha bertahan demi syiar Islam..dan menghasilkan generasi generasi berkarakter yang memang sudah sejak dari dahulu adab serta ahlak merupakan salah satu pendidikan dasar di Pesantren…??? Bagaimana dengan anda sendiri yang sudah berkecukupan..apakah sudah ada pula peran aktif anda demi kemajuan Di’enul Islam yang diawali dari Pendidikan di Pondok Pondok Pesantren…
Masih akan sulitkah bagi alumnus-alumnus Pondok Pesantren untuk turut andil bela negara masuk dalam dunia militer dengan alasan “tidak memiliki ijazah formal..” ??? ataukah blusukannya penguasa atau calon calon penguasa ke Pondok-Pondok Pesantren untuk sowan ke kyai, hanya untuk mendapatkan simpati dengan di expose di media guna dukungan kekuasaan saja..menjelang PILKADA..??

wallahu’alam…

Makna Tahun Baru Hijriyah 1438 H

Makna Tahun Baru Hijriyah 1438 H

Kaum Muslimin kembali memperingati pergantian tahun baru Hijriyah, yaitu 1437 H berganti 1438 H. Peristiwa ini mengingatkan kembali bahwa jatah hidup di dunia berkurang meskipun secara matematika usia bertambah.

Seorang ulama besar Imam Hasan al-Basri mengingatkan, “Wahai anak Adam, sesungguhnya Anda bagian dari hari, apabila satu hari berlalu, berlalu pulalah sebagian hidupmu.”

Dengan pemaknaan seperti itu seharusnya setiap pergantian tahun –baik Hijriyah maupun Masehi– dimanfaatkan untuk mengevaluasi diri (muhasabah) sejauh mana bekal yang sudah kita siapkan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian, bukan untuk berhura-hura hingga menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Khalifah Umar bin Khatab pernah menyatakan, “Evaluasilah diri kalian sebelum kalian dievaluasi. Timbanglah amal-amal kalian sebelum ditimbang. Bersiaplah untuk menghadapi hari yang amat dahsyat. Pada hari itu segala sesuatu yang ada pada diri kalian menjadi jelas, tidak ada yang tersembunyi.”

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah melangkah kaki seorang anak Adam di hari kiamat sebelum dievaluasi empat hal: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dihabiskan, dan tentang ilmunya untuk apa dimanfaatkan.” (HR Tirmidzi).

Terkait usia, Rasulullah SAW menegaskan, “Sebaik-baiknya manusia ialah yang panjang umurnya dan baik amalnya, sedangkan seburuk-buruknya manusia adalah yang panjang umurnya, tetapi buruk amal perbuatannya.” (HR Tirmidzi).

Selain itu, pergantian tahun juga mengingatkan tentang hakikat waktu. Imam Syahid Hasan al-Banna berkata, “Siapa yang mengetahui arti waktu berarti mengetahui arti kehidupan. Sebab, waktu adalah kehidupan itu sendiri.”

Dengan begitu, manusia yang selalu menyia-nyiakan waktu dan umurnya berarti tidak memahami arti kehidupan. Ulama kharismatik Dr Yusuf Qaradhawi dalam bukunya Al-Waqtu fi Hayatil Muslim menjelaskan tentang tiga ciri waktu, yaitu cepat berlalu, tidak akan kembali lagi, dan sebagai harta yang paling mahal.

Pertanyaannya, jika waktu itu cepat berlalu dan tidak mungkin kembali lagi, serta harta yang paling mahal, apakah pantas kita menyia-nyiakannya?

Karena itu, agar dalam pergantian tahun baru Hijriyah kali ini memberi manfaat berharga dalam kehidupan, maka ada baiknya kita renungkan kembali berbagai keutamaan berhijrah di jalan Allah SWT. “…. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, barang siapa berhijrahnya karena dunia yang ingin diperoleh atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ganjarannya sekadar apa yang diniatkan dalam hijrahnya.” (HR Bukhari).

Dalam berhijrah, Allah memberikan dua pilihan, yaitu berhijrah menuju kebaikan (al-khair) atau keburukan (asy-syar). Dr Ahzami Samiun Jazuli dalam bukunya Hijrah dalam Pandangan Alquran menyatakan, hijrah bukan berarti perpindahan tempat dari satu negeri ke negeri yang lain. Hijrah juga bukan perjalanan mencari sesuap nasi dari negeri yang gersang menuju negeri yang subur.

Lanjut Ahzami, sesungguhnya hijrah adalah perjalanan yang dilakukan oleh setiap Mukmin karena kebenciannya terhadap berbagai bentuk penjajahan, belenggu yang menghalangi kebebasan untuk mengekspresikan keimanan, serta untuk kemaslahatan.

Semangat hijrah hendaknya tetap hidup dalam jiwa setiap manusia, menjulang tinggi dalam hatinya, dan menghiasi setiap pandangan matanya. Berhijrah dari kejahatan menuju kebaikan, dari kebodohan menuju ilmu, dari kekerasan menuju keramahan, dari kebohongan menuju kejujuran, dari kesewenang-wenangan menuju keadilan, dari kelembekan menuju ketegasan.

Kemudian, dari arogansi menuju kelemahlembutan, dari permusuhan menuju perdamaian, dari saling menjatuhkan menuju saling membangun, dari yang biasanya minta selalu dilayani menuju berlomba saling melayani, dan seterusnya. Intinya, berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik dan memberi manfaat yang lebih besar kepada umat, bangsa, dan negara.

Dan, dengan berhijrah di jalan Allah dan Rasul-Nya maka seseorang akan memperoleh banyak keutamaan. Di antaranya, pertama, akan diberikan keluasan rezeki. “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nisa’ [4]: 100).

Kedua, dihapuskan kesalahan-kesalahannya. “Maka, orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Kuhapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS Ali Imran [3]: 195).

Ketiga, ditinggikan derajatnya di sisi Allah dan mendapatkan jaminan surga-Nya. “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda, dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripadanya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS at-Taubah [9]: 20-22).

Keempat, diberikan kemenangan dan meraih keridhaan-Nya. “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah [9]: 100).

Untuk itu, pada momentum pergantian tahun baru Islam kali ini, hendaknya kita jadikan sebagai titik tolak untuk merancang dan menjalani kehidupan secara lebih baik. Selamat tinggal tahun 1437 H dan selamat datang tahun baru 1438 H

9 Cara meraih Lailatul Qadar

9 Cara meraih Lailatul Qadar

S

ubhanallah, seorang mukmin yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya pasti sangat merindukan Lailatul Qadar. Karena malam itu teramat istimewa, malam dengan kadar lebih baik dari 1.000 bulan, atau 83 tahun 3 bulan, khoirun min alfi syahrin; malam turunnya para Malaikat dengan dipimpin langsung Malaikat Jibril atas izin-Nya, tanazzalul Malaaikatu warruuhu; malam penuh kedamaian hingga terbit fajar, salaamun hiya hatta mathla’il fajri.

Malam ini sungguh tidak ternafikan sebagai malam yang sangat terasa nikmat. Apalagi jika menikmatinya dengan beriktikaf di masjid. Tercecaplah puncak kedekatan diri dengan Allah, sehingga air mata pun tidak terbendung lagi. Surah Al-Qodar [97] turun karena menunjukkan keistimewaan malam yang terjadinya pada Asyrul Awaakhir, 10 akhir Ramadhan ini.

Adapun untuk mengenali malam indah ini, Rasul SAW bersabda, ”Malam Lailatul Qadar bersih, tidak sejuk, tidak panas, tidak berawan padanya, tidak hujan, tidak ada angin, tidak bersinar bintang dan daripada alamat siangnya terbit matahari dan tiada cahaya padanya (suram).” (HR Muslim).

Berikut ini kiat untuk menjemputnya. Pertama, benar-benar bersemangat untuk meraihnya diawali dengan meluruskan niat semata ingin ridha Allah SWT. ”Barang siapa melaksanakan ibadah pada malam Lailatul Qadar dengan didasari keimanan dan harapan untuk mendapatkan keridhaan Allah, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.” (HR Bukhari Muslim).

Kedua, bermujahadah dalam ibadah, ”Sungguh, Rasul tercinta pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan, lebih bermujahadah melebihi kesungguhan beliau di waktu lainnya.” (HR Muslim). Seperti berpuasa dengan tanpa maksiat, membaca Alquran dengan pemahaman dan penghayatan dan menunaikan shalat Tarawih tanpa putus dan dengan tumaninah.

Ketiga, melaksanakan kewajiban Syariat Allah, seperti zakat maal bagi hartawan, jika wanita taatlah dengan berjlibab. Keempat, beriktikaf di masjid. Abu Said menceritakan tentang iktikaf Rasulullah di masjid yang ketika itu berlantaikan tanah dan tergenang air. “Aku melihat pada kening Rasulullah ada bekas lumpur pada pagi hari Ramadhan.” (HR Muslim).

Kelima, dengan selalu terjaga dalam kekhusyukan ibadah, tidak banyak tidur dan ngobrol. Justru memburai air mata yang mengalir tak terbendung karena rindu perjumpaan dengan-Nya, takut murka-Nya dan karena merasa banyak dosa.

Keenam, berazam dan bersumpah untuk taubatan nashuha; tidak kembali maksiat dan tidak akan menzalimi dan menyakiti siapapun lagi. Ketujuh, wajib minta maaf kepada siapa pun termasuk kepada keluarga atau sahabat yang pernah ia sakiti. Karena jika tidak, akan menjadi hijab (penghalang) bagi doa dan ibadahnya.

Kedelapan, tiada waktu berlalu sia-sia kecuali banyak berzikir, istighfar, shalawat, wudhu terjaga dan kesenangan bersedekah. Kesembilan, berdoalah sungguh sungguh, yakin penuh harap.

“Wahai Rasulullah,” tanya Aisyah, “Bagaimana menurutmu andai aku mendapatkan Lailatul Qadar? Doa apa saja yang harus aku baca?” Beliau bersabda, “Ucapkanlah, Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Mulia, dan Engkau menyukai ampunan. Maka ampunilah aku,” (HR Tirmidzi).

Allahu Akbar, akankah kita yang meraihnya? Kepastiannya hanya milik Allah. Tapi, teruslah meniti jalan ketaatan kepada-Nya. Karena boleh jadi kita adalah di antaranya. Jika setelah malam indah itu berlalu kita adalah yang semakin kuat akidahnya, semakin rajin dan menikmati ibadahnya, akhlak yang semakin mulia.

Dalam hal ihyaaus sunnah (menghidupkan amal sunnah) kita semakin bersemangat, kepada keluarga dan umat manusia selalu berkasih sayang, ketakwaan kita semakin tampak dan dirasakan oleh diri, keluarga dan sahabat kita, dan air mata kita mudah meleleh karena liqoouhu, kerinduan berjumpa dengan-Nya. Jika ya, boleh jadi kita adalah yang telah berhasil meraihnya.

Allahumma ya Allah, ampunilah seluruh dosa kami dari mulai akil baligh hingga waktu Engkau wafatkan kami, terimalah amal ibadah kami, tobat kami, berkahi sisa-sisa umur kami dalam aktivitas Syariat dan Sunnah Nabi-Mu, berilah pada kami keistimewaan Lailatul Qodar, dan wafatkan kami semua husnul khootimah. Aamiin.

Lomba Seni Tingkat TK/RA, SD/MI dan SMP/MTs Se-Kabupaten & Kota Magelang

Lomba Seni Tingkat TK/RA, SD/MI dan SMP/MTs Se-Kabupaten & Kota Magelang

[vc_row][vc_column][vc_row_inner][vc_column_inner][vc_single_image image=”5184″ alignment=”center” onclick=”img_link_large” img_filter=”grayscale”][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_column_text]

Dalam rangka memeriahkan Milad Ke-74 Pesantren Islam Al Iman akan menyelenggarakan kegiatan Lomba seni untuk siswa-siswi TK/RA, SD/MI dan SMP/MTs se Kabupaten & Kota Magelang. Perlombaan ini bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah, sehingga dengan kegiatan tersebut para siswa termotivasi untuk terus menggali potensi diri, berpartisifasi aktif, berkreativitas dan mandiri, memiliki semangat belajar dan sportifitas yang tinggi. Selain dari pada itu, kegiatan perlombaan ini untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang sehingga dapat menjadi insan yang berkualitas dan dapat mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tujuan :
1. Untuk mempererat tali silaturahmi di kalangan pelajar.
2. Meningkatkan semangat belajar siswa.
3. Meningkatkan kualitas serta talenta para pelajar di berbagai bidang ilmu pengetahuan.
4. Menjadi insan yang cerdas, cepat dan tepat dalam mengambil keputusan yang disertai akhlakul karimah.
5. Memupuk dan mempererat persaudaraan, solidaritas dan sportivitas antara pelajar khususnya Sekolah Dasar

[/vc_column_text][vcex_spacing size=”40px”][vc_text_separator title=”Ketentuan Umum” color=”green” style=”double” border_width=”4″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vcex_list_item text_align=”left” icon=”fa fa-child”]Peserta merupakan pelajar TK/RA, SD/MI (maksimal 9 tahun), SMP/MTs/ di Kabupaten & Kota Magelang yang dibuktikan dengan kartu pelajar atau surat keterangan dari kepala sekolah.[/vcex_list_item][vcex_list_item text_align=”left” icon=”fa fa-child”]Mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan panitia[/vcex_list_item][vcex_list_item text_align=”left” icon=”fa fa-child”]Setiap sekolah diperbolehkan mengikuti satu jenis, beberapa atau semua jenis lomba[/vcex_list_item][vcex_list_item text_align=”left” icon=”fa fa-child”]Pendaftaran GRATIS untuk semua cabang perlombaan[/vcex_list_item][vcex_list_item text_align=”left” icon=”fa fa-child”]Setiap peserta diwajibkan daftar ulang sebelum perlombaan dimulai, bagi yang tidak melakukan daftar ulang dianggap gugur[/vcex_list_item][vcex_list_item text_align=”left” icon=”fa fa-child”]Setiap cabang Perlombaan diambil juara I, II, III[/vcex_list_item][vcex_list_item text_align=”left” icon=”fa fa-child”]Hadiah: Juara I : Piala + sertifikat + Uang Pembinaan | Juara II : Piala + Sertifikat + Uang Pembinaan | Juara III : Piala + Sertifikat + Uang Pembinaan[/vcex_list_item][vcex_list_item text_align=”left” icon=”fa fa-child”]Penyerahan hadiah untuk juara dilaksanakan pada Hari Kamis tanggal 24 Maret 2016[/vcex_list_item][vcex_list_item text_align=”left” icon=”fa fa-child”]Keputusan Juri tidak dapat diganggu gugat[/vcex_list_item][vcex_list_item text_align=”left” icon=”fa fa-child”]Petunjuk teknis (Juknis) setiap dapat diunduh di halaman ini[/vcex_list_item][vcex_list_item text_align=”left” icon=”fa fa-child”]Setiap peserta dianggap menyetujui semua ketentuan perlombaan[/vcex_list_item][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_text_separator title=”Jenis Lomba” color=”green” style=”double” border_width=”4″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/3″][vcex_pricing plan=”LOMBA” cost=”TK/RA” button_text=”DOWNLOAD JUKNIS” button_transform=”lowercase” button_wrap_bg=”#0e5e14″]

  • Mewarnai
  • Hafalan Juz Amma
  • Peragaan Busana Muslim

[/vcex_pricing][vcex_spacing][vc_btn title=”DOWNLOAD JUKNIS” style=”flat” shape=”square” color=”sky” size=”lg” align=”center” i_icon_fontawesome=”fa fa-download” css_animation=”bottom-to-top” link=”url:https%3A%2F%2Fdrive.google.com%2Ffile%2Fd%2F0B2xOk-FYdNhsbE9NMk9ZZHFTWGc%2Fview%3Fusp%3Dsharing|title:JUKNIS|target:%20_blank” button_block=”true” add_icon=”true”][/vc_column][vc_column width=”1/3″][vcex_pricing plan=”LOMBA” cost=”SD/MI” button_text=”DOWNLOAD JUKNIS” button_transform=”lowercase” button_wrap_bg=”#0e5e14″]

  • Mewarnai
  • Hafalan Juz Amma
  • Peragaan Busana Muslim

[/vcex_pricing][vcex_spacing][vc_btn title=”DOWNLOAD JUKNIS” style=”flat” shape=”square” color=”sky” size=”lg” align=”center” i_icon_fontawesome=”fa fa-download” css_animation=”bottom-to-top” link=”url:https%3A%2F%2Fdrive.google.com%2Ffile%2Fd%2F0B2xOk-FYdNhsbE9NMk9ZZHFTWGc%2Fview%3Fusp%3Dsharing|title:JUKNIS|target:%20_blank” button_block=”true” add_icon=”true”][/vc_column][vc_column width=”1/3″][vcex_pricing plan=”LOMBA” cost=”SMP/MTs” button_text=”DOWNLOAD JUKNIS” button_transform=”lowercase” button_wrap_bg=”#0e5e14″]

  • Melukis
  • Kaligrafi
  • Cerdas-cermat
  • Hadroh
  • Pop Song Religi
  • Pidato Bahasa Arab
  • Pidato Bahasa Indonesia
  • Pidato Bahasa Inggris
  • Pidato Bahasa Jawa

[/vcex_pricing][vcex_spacing][vc_btn title=”DOWNLOAD JUKNIS” style=”flat” shape=”square” color=”sky” size=”lg” align=”center” i_icon_fontawesome=”fa fa-download” css_animation=”bottom-to-top” link=”url:https%3A%2F%2Fdrive.google.com%2Ffile%2Fd%2F0B2xOk-FYdNhsbE9NMk9ZZHFTWGc%2Fview%3Fusp%3Dsharing|title:JUKNIS|target:%20_blank” button_block=”true” add_icon=”true”][/vc_column][/vc_row][vc_row match_column_height=”yes” column_spacing=”0px”][vc_column][vc_text_separator title=”Waktu Pelaksanaan” color=”green” style=”double” border_width=”4″][vcex_spacing][/vc_column][/vc_row][vc_row full_width=”stretch_row”][vc_column width=”1/3″][vc_icon type=”entypo” icon_entypo=”entypo-icon entypo-icon-calendar” color=”custom” background_style=”rounded-outline” size=”lg” align=”center” css_animation=”left-to-right” custom_color=”#790fe2″][vc_custom_heading text=”Selasa, 22 Maret 2016″ font_container=”tag:h2|font_size:20|text_align:center|color:%23790fe2″ google_fonts=”font_family:Droid%20Sans%3Aregular%2C700|font_style:400%20regular%3A400%3Anormal”][vc_custom_heading text=”SMP/MTs” font_container=”tag:h2|font_size:20|text_align:center|color:%2363d611″ google_fonts=”font_family:Droid%20Sans%3Aregular%2C700|font_style:400%20regular%3A400%3Anormal”][/vc_column][vc_column width=”1/3″][vc_widget_sidebar sidebar_id=”milad”][vc_text_separator title=”LAGI” color=”mulled_wine” border_width=”2″][/vc_column][vc_column width=”1/3″][vc_icon type=”entypo” icon_entypo=”entypo-icon entypo-icon-calendar” color=”custom” background_style=”rounded-outline” size=”lg” align=”center” css_animation=”left-to-right” custom_color=”#790fe2″][vc_custom_heading text=”Rabu, 23 Maret 2016″ font_container=”tag:h2|font_size:20|text_align:center|color:%23790fe2″ google_fonts=”font_family:Droid%20Sans%3Aregular%2C700|font_style:400%20regular%3A400%3Anormal”][vc_custom_heading text=”TK/RA, SD/MI” font_container=”tag:h2|font_size:20|text_align:center|color:%2363d611″ google_fonts=”font_family:Droid%20Sans%3Aregular%2C700|font_style:400%20regular%3A400%3Anormal”][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_text_separator title=”Pendaftaran” i_icon_fontawesome=”fa fa-pencil” i_background_style=”rounded” color=”green” style=”double” border_width=”2″ add_icon=”true”][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vcex_icon_box style=”five” heading=”10 – 18 MARET 2016″ heading_type=”h2″ heading_font_family=”Aladin” heading_weight=”800″ heading_transform=”capitalize” icon=”fa fa-calendar” heading_color=”#dd0606″ heading_size=”20″ icon_color=”#dd0d0d”]Pendaftaran bisa melalui

  • Download Formulir di www.pesantrenaliman.or.id diisi data peserta dan dikirim via email : pondokiman@gmail.com (formulir dicetak dan dibawa saat registrasi)
  • SMS dengan format : Nama Sekolah – Jenis lomba yang diikuti – nama peserta (formulir tetap diisi dan dibawa saat registrasi)
  • Datang langsung ke sekretariat diwakilkan Koordinator setiap Sekolah
  • [/vcex_icon_box][/vc_column][vc_column width=”1/4″][vc_icon type=”entypo” icon_entypo=”entypo-icon entypo-icon-mobile” color=”grey” background_style=”rounded” background_color=”green” size=”lg” align=”center” css_animation=”left-to-right”][vc_custom_heading text=”0856 4321 0567″ font_container=”tag:h2|font_size:20|text_align:center|color:%2381d742″ google_fonts=”font_family:Droid%20Sans%3Aregular%2C700|font_style:400%20regular%3A400%3Anormal”][vc_custom_heading text=”USTADZ ALFATCHU” font_container=”tag:h2|font_size:20|text_align:center|color:%2363d611″ google_fonts=”font_family:Droid%20Sans%3Aregular%2C700|font_style:400%20regular%3A400%3Anormal”][vcex_spacing size=”60px”][vc_btn title=”DOWNLOAD FORMULIR” color=”peacoc” align=”center” link=”url:https%3A%2F%2Fdrive.google.com%2Ffile%2Fd%2F0B2xOk-FYdNhsNGExNEx6aUxXRE0%2Fview%3Fusp%3Dsharing|title:DOWNLOAD|”][/vc_column][vc_column width=”1/4″][vc_icon type=”entypo” icon_entypo=”entypo-icon entypo-icon-mobile” color=”grey” background_style=”rounded” background_color=”blue” size=”lg” align=”center” css_animation=”left-to-right”][vc_custom_heading text=”0819 0388 3288″ font_container=”tag:h2|font_size:20|text_align:center|color:%231e73be” google_fonts=”font_family:Droid%20Sans%3Aregular%2C700|font_style:400%20regular%3A400%3Anormal”][vc_custom_heading text=”USTADZ TAUFIK” font_container=”tag:h2|font_size:20|text_align:center|color:%231e73be” google_fonts=”font_family:Droid%20Sans%3Aregular%2C700|font_style:400%20regular%3A400%3Anormal”][vcex_spacing size=”60px”][vc_btn title=”INFO KEGIATAN MILAD” color=”peacoc” align=”center” link=”url:http%3A%2F%2Fmilad.pesantrenaliman.or.id|title:MILAD|target:%20_blank”][/vc_column][/vc_row]

    Pimpinan Pesantren Jalani Sidang Promosi Doktoral

    Pimpinan Pesantren Jalani Sidang Promosi Doktoral

    Usia boleh bertambah tapi semangat belajar boleh dibilang muda, terbukti pada saat ini Pimpinan Pesantren Islam Al Iman, Kyai Muhamad Zuhaery, MA dianugerahi gelar Doktor Psikologi Islam di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.Sidang promosi Doktor ini diselenggarakan pada Sabtu, 5 Desember 2015 bertempat di Gedung Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
    Disertasi yang diujikan berjudul “Pola Asuh Kyai dan Kemandirian Santri”

    Kami seluruh civitas academica mengucapkan Selamat dan sukses kepada Kyai Dr. Muhammad Zuhaery, semoga dengan ilmu yang semakin luas mampu berkontribusi lebih luas kepada Pesantren dan Ummat pada umumnya.
    Amin.

    Ulangan Akhir Semester Gasal 2015-2016

    Ulangan Akhir Semester Gasal 2015-2016

    Rabu, 25 November 2015 merupakan hari pertama pelaksanaan Ulangan Akhir Semester Gasal T.A 2015-2016 bagi santri-santri Aliyah maupun Tsanawiyah. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya Pesantren Islam Al Iman lebih awal memulai UAS daripada madrasah lainnya di Lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Magelang dikarenakan adanya Ujian Lesan (Syafahi) sebelum Ujian Tertulis.
    Kegiatan Ulangan Akhir Semester Gasal T.A 2015-2016 ini dibuka saat apel pagi hari ini dipimpin langsung oleh Pimpinan Pesantren. Dalam tausiyahnya beliau memberikan tips-tips agar santriwan-santriwati dapat memperoleh hasil yang maksimal dan memuaskan. Diantaranya adalah ikhlas dan bersungguh-sungguh,ikhlas dalam artian menjalankan kewajiban sebagai seorang santri/pelajar, ikhlas dalam melaksanakan Ujian, ikhlas dalam mematuhi aturan Pesantren maupun peraturan saat ujian berlangsung.
    Bersungguh-sungguh dalam mempelajari maupun memahami mata pelajaran yang sudah disampaikan oleh para asatidz/guru selama 6 bulan ini. Bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam memahami pelajaran. Insya Allah dengan dua hal ini santri akan bisa menghadapi ujian dengan tenang sehingga hasilnya akan memuaskan sesuai dengan harapan.
    Tak lupa beliau juga mengingatkan santri agar selalu jujur (tidak mencontek) saat mengerjakan ujian, karena nilai dalam raport bukanlah tujuan utama melainkan akhlaq yang baik. Apalah arti nilai bagus kalau hasil mencontek ?
    Seperti yang disampaikan diatas bahwa hari Rabu ini sampai dengan Sabtu, 28 November 2015 adalah ujian syafahi (lesan) yang meliputi Ujian Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Praktek Ibadah dan Hifdzul Qur’an.
    Sedangkan Ujian Tertulis (Tahriri) akan dimulai pada hari Senin, 30 November – Kamis, 10 Desember 2015.

    Selamat berjuang santri-santriku….
    Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kalian untuk menghadapi Ulangan Akhir Semester Gasal T.A 2015-2016 ini, Amin..

    Berbagi Kebahagiaan dengan Berqurban

    Berbagi Kebahagiaan dengan Berqurban

    [vc_row][vc_column][vc_column_text]Idul Adha menjadi salah satu agenda yang senantiasa ditunggu oleh santriwan santriwati Pesantren Islam Al Iman. Meskipun tidak diberikan perizinan pulang kerumah, mereka ikhlas untuk berbagi kebahagiaan merayakan Idul Adha 1436 H ini di pesantren. Dan setiap tahun selalu tercipta pengalaman dan cerita seru terutama bagi santri kelas VII dan Takhassus yang baru pertama mengikuti kegiatan Idul Adha di pesantren.

    Kamis, 24 September 2015 / 10 Dzulhijjah 1436 H pagi dilaksanakan shalat Idul Adha 1436H di lapangan pesantren setelah sehari sebelumnya secara gotong royong dibersihkan dan dipersiapkan oleh para santri. Gema takbir berkumandang sejak semalam sampai menjelang dilaksanakannya shalat ‘Id, sekitar jam 06.00 seluruh santri sudah berkumpul di lapangan pesantren bersama dewan asatidz, warga sekitar dan wali santri. Bertindak sebagai Imam dan Khotib Pimpinan Pesantren Islam Al Iman yakni Kyai Muhammad Zuhaery, MA shalat “id dimulai pukul 06.30. Dengan khusyu’ jama’ah mengikuti shalat dan mendengarkan khutbah.

    Para Jama'ah khusyuk mendengkan khutbah
    Para Jama’ah khusyuk mendengkan khutbah

    Selepas mengikuti shalat Id para santri berkumpul di halaman belakang untuk mengikuti proses pemotongan hewan qurban. Pada tahun ini alhamdulillah pesantren bisa menyembelih 6 ekor domba (kambing gembel yang berasal dari iuran santri sebagai bentuk latihan berqurban, alumni, wali santri dan donatur pesantren. Sebagian santri tingkat akhir ditugaskan untuk membantu pemotongan daging qurban dan sesuai dengan tradisi pesantren daging qurban dibagikan kepada seluruh santri untuk diolah atau dimasak secara berkelompok. Tentunya bukan sekedar memasak biasa namun diperlombakan (lomba memasak daging kambing) jadi santri semakin bersemangat, dari lomba memasak inilah santri mengamalkan ilmu yang diajarkan di kegiatan ekstrakurikuler tata boga berlatih banyak hal.
    Pertama, santri berlatih mandiri, mulai dari menyiapkan alat masak santri harus mencari berbagai peralatan sendiri karena panitia hanya menyiapkan daging dan bumbu-bumbu. Biasanya para santri meminjam alat masak dari para asatidz, peralatan pramuka hingga meminjam dari masyarakat sekitar.
    Kedua, Gotong royong, dalam proses menyiapkan olahan daging qurban diperlukan kerjasama antar santri. Setiap kelompok membagi tugas antara santri diantaranya menyiapkan memotong-motong daging, menyiapkan bumbu, menyiapkan api, memasak hingga menyiapkan hidangan untuk diserahkan ke dewan juri.
    Ketiga, santri dilatih untuk berbagi antar sesama, daging yang dibagikan pada masing-masing kelompok setelah diolah harus dibagi rata kepada setiap anggota kelompok. Pembagian kelompok disengaja mencampur antar santri tingkat awal hingga akhir dengan harapan munculnya rasa kasih sayang antara santri berbagai tingkatan. Santri besar tidak boleh menang sendiri dan harus berbagi secara adil pada seluruh santri anggotanya.
    Keempat santri juga berlatih tanggung jawab terhadap peralatan memasak yang dipinjam dan menjaga kebersihan lingkungan yang digunakan sebagai “dapur” untuk memasak daging qurban.

    Sebagian santri putra terlihat kompak memasak daging qurban
    Sebagian santri putra terlihat kompak memasak daging qurban
    Sebagian santri putri sedang menyiapkan bumbu untuk masakannya
    Sebagian santri putri sedang menyiapkan bumbu untuk masakannya

    Setelah semua kelompok selesai memasak, sekira jam 12.00 seluruh masakan daging qurban hasil karya santri sudah terkumpul di meja penjurian, berbagai macam masakan terhidang menggoda lidah para juri yang terdiri dari dewan asatidz untuk segera mencicipi. Dari tahun ketahun masakan yang disajikan santri selalu meningkat baik dari rasa, menu sampai cara penyajian yang unik. Dari 20 kelompok tersaji 40 masakan dengan rasa yang berbeda-beda karena setiap kelompok diharuskan memasak 2 jenis masakan, dewan juri pun dibuat galau untuk menentukan 4 pemenang lomba memasak, 2 dari kelompok putra dan 2 dari putri.
    Sebagian hasil masakan santri Pesantren Islam Al Iman sedang dinilai dewan asatidz
    Sebagian hasil masakan santri Pesantren Islam Al Iman sedang dinilai dewan asatidz

    Selain dibagikan kepada santri untuk diolah santri, sebagian daging dibagikan kepada keluarga pesantren dan warga sekitar untuk mempererat tali silaturahim juga syiar pesantren. Betapa serunya ber-Idul Adha di Pesantren Islam Al Iman ini, karena santri bisa belajar banyak hal selain mengaji, santri juga belajar mengabdi, mandiri, gotong royong, bertanggung jawab dan tentunya santri mengerti indahnya saling berbagi dan mengerti makna kebersamaan yang sebenarnya. Dan pastinya pengalaman berharga ini tidak mmungkin dirasakan oleh mereka yang tidak belajar di pesantren.

    Selamat Idul Adha 1436 H bagi seluruh warga pesantren dan kaum muslimin.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

    Hikmah Berkurban

    Hikmah Berkurban

    Disampaikan pada khutbah Shalat idul Adha 1436 H / 24 september 2015
    oleh : Kyai Muhammad Zuhaery, MA

    اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
    اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ َعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّراَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن
    Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
    Di pagi hari yang penuh barokah ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat ‘Idul Adha. Baru saja kita laksanakan ruku’ dan sujud sebagai manifestasi perasaan taqwa kita kepada Allah SWT. Kita agungkan nama-Nya, kita gemakan takbir dan tahmid sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagungan Allah. Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti.Tetapi merupakan pengakuan dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman. Allah Maha Besar.
    Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
    Idul adha dikenal dengan sebutan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang di sebut pakaian ihram, melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai persamaan dalam segala segi bidang kehidupan. Tidak dapat dibedakan antara mereka, semuanya merasa sederajat. Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa, sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah.
    لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
    Disamping Idul Adha dinamakan hari raya haji, juga dinamakan “Idul Qurban”, karena merupakan hari raya yang menekankan pada arti berkorban. Qurban itu sendiri artinya dekat, sehingga Qurban ialah menyembelih hewan ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, diberikan kepada fuqoro’ wal masaakiin.
    Masalah pengorbanan, dalam lembaran sejarah kita diingatkan pada beberapa peristiwa yang menimpa Nabiyullah Ibrahim AS beserta keluarganya Ismail dan Siti Hajar.Lembah yang dulunya gersang, mempunyai persediaan air yang melimpah-limpah. Datanglah manusia dari berbagai pelosok terutama para pedagang ke tempat Siti Hajar dan Nabi Ismail, untuk membeli air. Datang rejeki dari berbagai penjuru, dan makmurlah tempat sekitarnya. Akhirnya lembah itu hingga saat ini terkenal dengan kota mekkah, sebuah kota yang aman dan makmur, berkat do’a Nabi Ibrahim dan berkat kecakapan seorang ibu dalam mengelola kota dan masyarakat. Kota mekkah yang aman dan makmur dilukiskan oleh Allah dalam Al-Qur’an:
    وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
    Artinya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdo’a: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, sebagai negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kiamat.” (QS Al-Baqarah: 126)
    Dari ayat tersebut, kita memperoleh bukti yang jelas bahwa kota Makkah hingga saat ini memiliki kemakmuran yang melimpah. Jamaah haji dari seluruh penjuru dunia, memperoleh fasilitas yang cukup, selama melakukan ibadah haji maupun umrah.Hal itu membuktikan tingkat kemakmuran modern, dalam tata pemerintahan dan ekonomi, serta keamanan hukum, sebagai faktor utama kemakmuran rakyat yang mengagumkan. Yang semua itu menjadi dalil, bahwa do’a Nabi Ibrahim dikabulkan Allah SWT. Semua kemakmuran tidak hanya dinikmati oleh orang Islam saja. Orang-orang yang tidak beragama Islam pun ikut menikmati.Allah SWT berfirman:
    قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
    Artinya: Allah berfirman: “Dan kepada orang kafirpun, aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka. Dan itulah seburuk buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 126)
    Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
    Idul Adha yang kita peringati saat ini, dinamai juga “Idul Nahr” artinya hari cara memotong kurban binatang ternak. Sejarahnya adalah bermula dari ujian paling berat yang menimpa Nabiyullah Ibrahim. Disebabkan kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan “Khalilullah” (kekasih Allah).Setelah titel Al-khalil disandangnya, Malaikat bertanya kepada Allah: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasihmu.
    Padahal ia disibukkan oleh urusan kekayaannya dan keluarganya?” Allah berfirman: “Jangan menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hatinya dan amal bhaktinya!”
    Kemudian Allah SWT mengizinkan para malaikat menguji keimanan serta ketaqwaan Nabi Ibrahim.
    Ternyata, kekayaan dan keluarganya dan tidak membuatnya lalai dalam taatnya kepada Allah.Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul ‘adzim mengemukakan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji Iman dan Taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! Peristiwa itu dinyatakan dalam Al-Qur’an:
    قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
    Artinya: Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS As-shaffat: 102).
    Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah. Iblis datang menggoda sang ayah, sang ibu dan sang anak silih berganti. Akan tetapi Nabi Ibrahim, Siti hajar dan Nabi Ismail tidak tergoyah oleh bujuk rayuan iblis yang menggoda agar membatalkan niatnya. Bahkan siti hajarpun mengatakan, : ”jika memang benar perintah Allah, akupun siap untuk di sembelih sebagai gantinya ismail.” Mereka melempar iblis dengan batu, mengusirnya pergi dan Iblispun lari tunggang langgang. Dan ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah; jumrotul ula, wustho, dan aqobah yang dilaksanakan di mina.
    Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
    Dalam pada itu Allah SWT memerintahkan jibril untuk mengambil seekor kibasy dari surga sebagai gantinya. Dan Allah swt berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannya, tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridloi ayah dan anak memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Shaffat
    وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
    “Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”“Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
    Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril menyaksikan ketaatan keduanya, setelah kembali dari syurga dengan membawa seekor kibasy, kagumlah ia seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menyambutnya “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian di sambung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’
    Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
    Inilah sejarah pertamanya korban di Hari Raya Qurban. Yang kita peringati pada pagi hari ini. Allah Maha pengasih dan Penyayang. Korban yang diperintahkan tidak usah anak kita, cukup binatang ternak, baik kambing, sapi, kerbau maupun lainnya. Sebab Allah tahu, kita tidak akan mampu menjalaninya, jangankan memotong anak kita, memotong sebagian harta kita untuk menyembelih hewan qurban, kita masih terlalu banyak berfikir. memotong 2,5 % harta kita untuk zakat, kita masih belum menunaikannya. Memotong sedikit waktu kita untuk sholat lima waktu, kita masih keberatan. Menunda sebentar waktu makan kita untuk berpuasa, kita tak mampu melaksanakannya, dan sebagainya. Begitu banyak dosa dan pelanggaran yang kita kerjakan, yang membuat kita jauh dari Rahmat Allah SWT.
    Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
    Hikmah yang dapat diambil dari pelaksanaan shalat Idul Adha ini adalah, bahwa hakikat manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah taqwanya. Dan bagi yang menunaikan ibadah haji, pada waktu wukuf di Arafah memberi gambaran bahwa kelak manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar untuk dimintai pertanggung jawaban.
    Di samping itu, kesan atau i’tibar yang dapat diambil dari peristiwa tersebut adalah:
    Pertama Hendaknya kita sebagai orang tua, mempunyai upaya yang kuat membentuk anak yang sholih, menciptakan pribadi anak yang agamis, anak yang berbakti kepada orang tua, lebih-lebih berbakti terhadap Allah dan Rosul-Nya.
    Kedua perintah dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT, harus dilaksanakan. Harus disambut dengan tekad sami’na wa ‘atha’na. Karena sesungguhnya, ketentuan-ketentuan Allah SWT pastilah manfaatnya kembali kepada kita sendiri.
    Ketiga adalah kegigihan syaitan yang terus menerus mengganggu manusia, agar membangkang dari ketentuan Allah SWT.
    Keempat jenis sembelihan berupa bahimah (binatang ternak), artinya dengan matinya hayawan ternak, kita buang kecongkaan dan kesombongan kita, hawa nafsu hayawaniyah harus dikendalikan, jangan dibiarkan tumbuh subur dalam hati kita.
    Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
    Akhirnya dalam kondisi seperti ini kita banyak berharap, berusaha dan berdoa, mudah-mudahan kita semua, para pemimpin kita, elit-elit kita, dalam berjuang tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok, tapi berjuang untuk kepentingan dan kemakmuran masyarakat, bangsa dan negara. Kendatipun perjuangan itu tidaklah mudah, memerlukan pengorbanan yang besar. Hanya orang-orang bertaqwa lah yang sanggup melaksanakan perjuangan dan pengorbanan ini dengan sebaik-baiknya.
    Mudah-mudahan perayaan Idul Adha kali ini, mampu menggugah kita untuk terus bersemangat, rela berkorban demi kepentingan agama, bangsa dan negara amiin ya robbal alamin.
    Khutbah kedua:
    اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
    اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
    اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ
    رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ