يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ...

niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

Sejarah Singkat Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan

A. Periode Rintisan (1942 – 1963)

Pada bulan November tahun 1942 di Kampung beteng Muntilan didirikan sebuah lembaga pendidikan bernama “Perguruan Al Iman”. Sang pendiri adalah ustadz Yunus Alwan, beliau adalah alumni Madrasah Alawiyah Arabiyah di Singapura, Selepas dari singapura beliau melanjutkan studinya ke Pondok Pesantren Tremas di Jawa Timur dan Madrasah Aliyah Al Iman di Kodya Magelang. pada tahun ini beliau meletakkan kurikulum salaf dan pada tahun kedua dilengkapi dengan sistem klasikal (madrasah) dan berjalan selama 21 tahun. pendidikan dengan sistem ini telah menghasilkan kader-kader muballigh terkenal di Magelang pada tahun 70-an. saat itu alumnus mencapai 4500 orang lebih.

B. Periode penataan (1963 – 1986)

Pada tahun 1963 kurikulum pesantren disempurnakan, sehingga alumni Al Iman Muntilan dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Adapun prosentasi pelajarannya adalah 65% prodi agama/Bahasa Arab dan 35% prodi umum. Kondisi ini berjalan hingga tahun 1986 dengan pasang surut.

C. Periode Pengembangan (1986 – 2001)

Pada tanggal 26 November 1986, Kyai Yunus Alwan wafat, Pimpinan Pesantren kemudian dilanjutkan oleh putra beliau yakni KH. Muhammad hadi Yunus, MA yang telah berpengalaman dengan latar belakang pendidikan pesantren juga alumni beberapa perguruan tinggi di dalm dan luar negeri. Sebagai penerus sang ayah, KH Muhammad Hadi Yunus, MA terus mengembangkan pesantren, di masa beliaulah Pesantren Islam Al Iman muntilan berkembang sangat pesat, santri-santri berdatangan dari seluruh penjuru Nusantara. Untuk dapat menampung jumlah santri yang semakin banyak maka Pesantren Islam Al Iman dipindah ke Dusun Patosan, Sedayu, Muntilan, kira-kira 500 meter dari lokasi semula. Sarana prasarana pun semakin lengkap dan maju. begitu pula kurikulum pesantren, pada saat itu terbagi menjadi 3 (tiga) tingkatan yaitu : Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan juga Tarbiyatul Muballighin wal Mu’allimin (TMM)/setara Diploma I, juga kelas persiapan (Takhossus) dan kelas paralel. Berbagai upaya terus dilakukan dan dikembangkan untuk membangun umat di masa depan hingga pada bulan April 2001 Kh Muhammad Hadi Yunus, MA menghadap sang Khaliq.

D. Periode pembinaan (2001 – Sekarang)

Pasca wafatnya KH. Muhammad Hadi Yunus ada vacum of power maka kepemimpinan pesantren sementara digantikan oleh Kyai Juhdan Fathoni, hingga pada tahun 2002 kepemimpinan diamanahkan kembali pada putra KH Muhammad Hadi, yakni Kyai Muhammad Zuhaery, MA. beliau merupakan figur pemimpin yang telah mengenyam pendidikan di berbagai pesantren dan perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Pada masa kepemimpinan ini kurikulum pesantren terus dikembangkan dan disempurnakan. TMM yang dulu ditempuh setelah lulus MA kini TMM merupakan sistem pendidikan kurikulum pesantren dimana di dalamnya terdapat Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan Takhassus.