fbpx
Dahsyatnya 2 kalimat Syahadat

Dahsyatnya 2 kalimat Syahadat

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, hampir sebagian besar sahabat Nabi mengalami siksaan yang amat pedih. Salah satunya adalah budak berkulit hitam yang bernama Zunairah, dialah budak Abu Jahal.
Meskipun sebagai budak, Zunairah mampu mengimani apa yang didakwahkan Rasulullah SAW. Namun karena masih berstatus budak, dirinya diam-diam melakukan ibadah seolah tidak ingin diketahui oleh majikannya yang teramat menentang dakwah Rasulullah SAW.

Akhirnya, pada suatu hari, Abu Jahal mengetahui perihal keimanan Zunairah. Abu Jahal marah sekali,
”Aku baru saja mendengar kabar bahwa kamu baru masuk Islam?” kata Abu Jahal sambil menampar pipi budaknya itu. ”Memang benar, mulai saat ini aku percaya pada seruan Nabi Muhammad SAW, karena itu aku mengikutinya,” jawab Zunairah dengan tenang.

Jawaban yang jelas dan tegas itu telah membuat Abu Jahal semakin marah. Tangannya langsung menuju muka Zunairah, bahkan kakinya juga ikut menendang, sehingga budak itu jatuh tersungkur di tanah. Meskipun disiksa sedemikan itu, namun iman Zunairah tetap tegar.

Setelah lelah menyiksa budaknya, Abu Jahal kemudian membawa budaknya ke tanah lapang. Abu Jahal kemudian menghajar Zunairah lagi, padahal Zunairah sudah buta karena terkena pukulan keras sebelumnya. Melihat keadaan yang demikian itu, Abu Jahal tertawa keras dan mengejek.
”Matamu menjadi buta itu karena akibat kau masuk islam,” ejek Abu Jahal.
Betap sakitnya hati Zunairah mendengar olok-olokan yang dilontarkan oleh Abu Jahal itu. Meskipun demikian, Zunairah tidak ingin kembali ke agamanya yang dahulu. Ia tetap yakin bahwa hanya Allah SWT saja yang berhak disembah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.
”Kalian semua pembohong dan tak bermoral. lata dan uzza yang kalian sembah itu tidak akan bisa berbuat apa-apa, apalagi memberi manfaat kepada kalian,” ujar Zunairah.

Mendapat jawaban yang demikian itu, tentu saja Abu Jahal semakin merah padam.
”Wahai Zunairah, ingatlah kepada lata dan uzza. Itu adalah berhala sembahan kita sejak nenek moyang. Tak takutkah jika mereka nanti murka kepadamu? Tinggalkanlah segera agama Muhammad yang melecehkan kita,” ajak Abu Jahal sambil menarik rambut Zunairah.
Zunairah tetap saja pada keyakinannya meskipun sudah menderita lahir dan batin, dia tetap tidak mau dengan ajakan Abu Jahal dan teman-temannya.
”Wahai Abu Jahal, sebenarnya lata dan uzza itu buta. Lebih buta daripada mataku yang buta ini. Meskipun mataku buta, Allah tidak akan sulit mengembalikannya menjadi terang, tidak seperti tuhanmu lata dan uzza itu,” jelas Zunairah.

Karena hari sudah menjelang malam, siksaan terhadap Zunairah untuk sementara dihentikan. Zunairah diperintahkan pulang ke rumah Abu Jahal. Tak lama kemudian, Zunairah membaca syahadat. Sungguh ajaib, setelah membaca syahadat, tiba-tiba saja mata Zunairah kembali dapat melihat dan semua bekas siksaan yang ada di tubuhnya hilang.
Menjelang pagi hari, Abu Jahal ingin menyiksa lagi Zunairah.
”Hai Zunairah, cepatlah kemari,” seru Abu Jahal.

Begitu melihat wajah Zunairah bersih, memar-memar bekas pukulan juga hilang, apalagi ditambah kedua mata Zunairah telah sembuh, hal itu membuat Abu Jahal semakin sakit hati.
”Kamu apakan wajahmu, padahal matamu kemarin buta dan bedarah, tapi sekarang kok bisa sembuh. Aku yakin ini pasti ulah sihir Muhammad karena dia pandai main sihir,” ujar Abu Jahal.
”Tuan jangan salah paham. Ini semua berkat kekuasaan Allah SWT. Hanya Dialah yang bisa membuat manusia sehat, hidup, mati dan masih banyak lagi. Sedangkan Muhammad itu hanya manusia biasa, dia cumaa utusan Allah SWT,” jawab Zunairah.

Setelah itu, Abu Jahal segera saja menarik tubuh Zunairah ke lapangan. Siksaan pun dilakukannya.
Untungnya, ada Abu Bakar yang lewat dan datang mendekatinya. Tak lama kemudian, Abu Bakar menebus Zunairah, dan akhirnya dia bebas tidak menjadi budak lagi.

Cerita “Cinta” Bilal terhadap Rasulullah

Cerita “Cinta” Bilal terhadap Rasulullah

Semua pasti tahu, bahwa pada masa Nabi, setiap masuk waktu sholat, maka yang mengkumandankan adzan adalah Bilal bin Rabah. Bilal ditunjuk karena memiliki suara yang indah. Pria berkulit hitam asal Afrika itu mempunyai suara emas yang khas. Posisinya semasa Nabi tak tergantikan oleh siapapun, kecuali saat perang saja, atau saat keluar kota bersama Nabi. Karena beliau tak pernah berpisah dengan Nabi, kemanapun Nabi pergi. Hingga Nabi menemui Allah ta’ala pada awal 11 Hijrah. Semenjak itulah Bilal menyatakan diri tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar Ra. memintanya untuk jadi mu’adzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: “Biarkan aku jadi muadzin Nabi saja. Nabi telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”

Abu Bakar terus mendesaknya, dan Bilal pun bertanya: “Dahulu, ketika engkau membebaskanku dari siksaan Umayyah bin Khalaf. Apakah engkau membebaskanmu karena dirimu apa karena Allah?.” Abu Bakar Ra. hanya terdiam. “Jika engkau membebaskanku karena dirimu, maka aku bersedia jadi muadzinmu. Tetapi jika engkau dulu membebaskanku karena Allah, maka biarkan aku dengan keputusanku.” Dan Abu Bakar Ra. pun tak bisa lagi mendesak Bilal Ra. untuk kembali mengumandangkan adzan.

Kesedihan sebab ditinggal wafat Nabi Saw., terus mengendap di hati Bilal Ra. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria. Lama Bilal Ra tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Nabi Saw hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: “Ya Bilal, wa maa hadzal  jafa’? Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?.” Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah pada Nabi. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Nabi.

Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Nabi Saw., pada sang kekasih. Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucunda Nabi Saw., Hasan dan Husein. Sembari mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Nabi Saw itu. Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal Ra.: “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan buat kami? Kami ingin mengenang kakek kami.” Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.

Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Nabi Saw masih hidup. Mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz “Allahu Akbar” dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan, itu telah kembali. Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sembari berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.

Dan saat bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Nabi, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu, madinah mengenang masa saat masih ada Nabi Saw. Tak ada pribadi agung yang begitu dicintai seperti Nabi Saw. Dan adzan itu, adzan yang tak bisa dirampungkan itu, adalah adzan pertama sekaligus adzan terakhirnya Bilal Ra, semenjak Nabi Saw wafat. Dia tak pernah bersedia lagi mengumandangkan adzan, sebab kesedihan yang sangat segera mencabik-cabik hatinya mengenang seseorang yang karenanya dirinya derajatnya terangkat begitu tinggi. Semoga kita dapat merasakan nikmatnya Rindu dan Cinta seperti yang Allah karuniakan kepada Sahabat Bilal bin Rabah Ra. Aamiin

Rasulullah dan pengemis Yahudi yang buta

Rasulullah dan pengemis Yahudi yang buta

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata ”Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.

Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, ”anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, ”Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. ”Apakah Itu?”, tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.

Keesokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, ”siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, ”aku orang yang biasa”. ”Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

ﺻﺤﻴﺢ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ

ﺻﺤﻴﺢ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ

‫٠١ـ ﺑﺪء اﻟﻮﺣﻲ

‫ﻭﻗﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺟﻞ ﺫﮐﺮﻩ {ﺇﻧﺎ ﺃﻭﺣﻴﻨﺎ ﺇﻟﻴﮏ ﮐﻤﺎ ﺃﻭﺣﻴﻨﺎ ﺇﻟﻰ ﻧﻮﺡ ﻭاﻟﻨﺒﻴﻴﻦ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ}۔

‫۱۔ ‫ﺣﺪﺛﻨﺎ اﻟﺤﻤﻴﺪﻱ ﻋﺒﺪ اﻟﻠَّﻪ ﺑﻦ اﻟﺰﺑﻴﺮ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﺳﻌﻴﺪ اﻻٴﻧﺼﺎﺭﻱ ﻗﺎﻝ ﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ اﻟﺘﻴﻤﻲ ﺃﻧﻪ ﺳﻤﻊ ﻋﻠﻘﻤﺔ ﺑﻦ ﻭﻗﺎﺹ اﻟﻠﻴﺜﻲ ﻳﻘﻮﻝ ﺳﻤﻌﺖ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ اﻟﺨﻄﺎﺏ ﺭﺿﻲ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻨﻪ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﻨﺒﺮ ﻗﺎﻝ ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ ﺇﻧﻤﺎ اﻻٴﻋﻤﺎﻝ ﺑﺎﻟﻨﻴﺎﺕ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻟﮑﻞ اﻣﺮٸ ﻣﺎ ﻧﻮﻯ ﻓﻤﻦ ﮐﺎﻧﺖ ﻫﺠﺮﺗﻪ ﺇﻟﻰ ﺩﻧﻴﺎ ﻳﺼﻴﺒﻬﺎ ﺃﻭ ﺇﻟﻰ اﻣﺮﺃﺓ ﻳﻨﮑﺤﻬﺎ ﻓﻬﺠﺮﺗﻪ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻫﺎﺟﺮ ﺇﻟﻴﻪ

‫۲۔ ‫ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ اﻟﻠَّﻪ ﺑﻦ ﻳﻮﺳﻒ ﻗﺎﻝ ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﻣﺎﻟﮏ ﻋﻦ ﻫﺸﺎﻡ ﺑﻦ ﻋﺮﻭﺓ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺷﺔ ﺃﻡ اﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺭﺿﻲ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻨﻬﺎ ﺃﻥ اﻟﺤﺎﺭﺙ ﺑﻦ ﻫﺸﺎﻡ ﺭﺿﻲ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻨﻪ ﺳﺄﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻝ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﮐﻴﻒ ﻳﺄﺗﻴﮏ اﻟﻮﺣﻲ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺣﻴﺎﻧﺎ ﻳﺄﺗﻴﻨﻲ ﻣﺜﻞ ﺻﻠﺼﻠﺔ اﻟﺠﺮﺱ ﻭﻫﻮ ﺃﺷﺪﻩ ﻋﻠﻲ ﻓﻴﻔﺼﻢ ﻋﻨﻲ ﻭﻗﺪ ﻭﻋﻴﺖ ﻋﻨﻪ ﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﻭﺃﺣﻴﺎﻧﺎ ﻳﺘﻤﺜﻞ ﻟﻲ اﻟﻤﻠﮏ ﺭﺟﻼ ﻓﻴﮑﻠﻤﻨﻲ ﻓﺄﻋﻲ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﻗﺎﻟﺖ ﻋﺎﺋﺷﺔ ﺭﺿﻲ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻨﻬﺎ ﻭﻟﻘﺪ ﺭﺃﻳﺘﻪ ﻳﻨﺰﻝ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﻮﺣﻲ ﻓﻲ اﻟﻴﻮﻡ اﻟﺸﺪﻳﺪ اﻟﺒﺮﺩ ﻓﻴﻔﺼﻢ ﻋﻨﻪ ﻭﺇﻥ ﺟﺒﻴﻨﻪ ﻟﻴﺘﻔﺼﺪ ﻋﺮﻗﺎ

‫۳۔‫ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﺑﮑﻴﺮ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ اﻟﻠﻴﺚ ﻋﻦ ﻋﻘﻴﻞ ﻋﻦ اﺑﻦ ﺷﻬﺎﺏ ﻋﻦ ﻋﺮﻭﺓ ﺑﻦ اﻟﺰﺑﻴﺮ ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺷﺔ ﺃﻡ اﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺃﻧﻬﺎ ﻗﺎﻟﺖ ﺃﻭﻝ ﻣﺎ ﺑﺪٸ ﺑﻪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ اﻟﻮﺣﻲ اﻟﺮﻭٴﻳﺎ اﻟﺼﺎﻟﺤﺔ ﻓﻲ اﻟﻨﻮﻡ ﻓﮑﺎﻥ ﻻ ﻳﺮﻯ ﺭﻭٴﻳﺎ ﺇﻻ ﺟﺎءﺕ ﻣﺜﻞ ﻓﻠﻖ اﻟﺼﺒﺢ ﺛﻢ ﺣﺒﺐ ﺇﻟﻴﻪ اﻟﺨﻼء ﻭﮐﺎﻥ ﻳﺨﻠﻮ ﺑﻐﺎﺭ ﺣﺮاء ﻓﻴﺘﺤﻨﺚ ﻓﻴﻪ ﻭﻫﻮ اﻟﺘﻌﺒﺪ اﻟﻠﻴﺎﻟﻲ ﺫﻭاﺕ اﻟﻌﺪﺩ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﻨﺰﻉ ﺇﻟﻰ ﺃﻫﻠﻪ ﻭﻳﺘﺰﻭﺩ ﻟﺬﻟﮏ ﺛﻢ ﻳﺮﺟﻊ ﺇﻟﻰ ﺧﺪﻳﺠﺔ ﻓﻴﺘﺰﻭﺩ ﻟﻤﺜﻠﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﺟﺎءﻩ اﻟﺤﻖ ﻭﻫﻮ ﻓﻲ ﻏﺎﺭ ﺣﺮاء ﻓﺠﺎءﻩ اﻟﻤﻠﮏ ﻓﻘﺎﻝ اﻗﺮﺃ ﻗﺎﻝ ﻣﺎ ﺃﻧﺎ ﺑﻘﺎﺭﻯءٍ ﻗﺎﻝ ﻓﺄﺧﺬﻧﻲ ﻓﻐﻄﻨﻲ ﺣﺘﻰ ﺑﻠﻎ ﻣﻨﻲ اﻟﺠﻬﺪ ﺛﻢ ﺃﺭﺳﻠﻨﻲ ﻓﻘﺎﻝ اﻗﺮﺃ ﻗﻠﺖ ﻣﺎ ﺃﻧﺎ ﺑﻘﺎﺭﻯءٍ ﻓﺄﺧﺬﻧﻲ ﻓﻐﻄﻨﻲ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﺣﺘﻰ ﺑﻠﻎ ﻣﻨﻲ اﻟﺠﻬﺪ ﺛﻢ ﺃﺭﺳﻠﻨﻲ ﻓﻘﺎﻝ اﻗﺮﺃ ﻓﻘﻠﺖ ﻣﺎ ﺃﻧﺎ ﺑﻘﺎﺭﻯءٍ ﻓﺄﺧﺬﻧﻲ ﻓﻐﻄﻨﻲ اﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺛﻢ ﺃﺭﺳﻠﻨﻲ ﻓﻘﺎﻝ اﻗﺮﺃ ﺑﺎﺳﻢ ﺭﺑﮏ اﻟﺬﻱ ﺧﻠﻖ ﺧﻠﻖ اﻻٕﻧﺴﺎﻥ ﻣﻦ ﻋﻠﻖ اﻗﺮﺃ ﻭﺭﺑﮏ اﻻٴﮐﺮﻡ ﻓﺮﺟﻊ ﺑﻬﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺮﺟﻒ ﻓﺆاﺩﻩ ﻓﺪﺧﻞ ﻋﻠﻰ ﺧﺪﻳﺠﺔ ﺑﻨﺖ ﺧﻮﻳﻠﺪ ﺭﺿﻲ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻨﻬﺎ ﻓﻘﺎﻝ ﺯﻣﻠﻮﻧﻲ ﺯﻣﻠﻮﻧﻲ ﻓﺰﻣﻠﻮﻩ ﺣﺘﻰ ﺫﻫﺐ ﻋﻨﻪ اﻟﺮﻭﻉ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﺨﺪﻳﺠﺔ ﻭﺃﺧﺒﺮﻫﺎ اﻟﺨﺒﺮ ﻟﻘﺪ ﺧﺸﻴﺖ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻲ ﻓﻘﺎﻟﺖ ﺧﺪﻳﺠﺔ ﮐﻼ ﻭاﻟﻠَّﻪ ﻣﺎ ﻳﺨﺰﻳﮏ اﻟﻠَّﻪ ﺃﺑﺪا ﺇﻧﮏ ﻟﺘﺼﻞ اﻟﺮﺣﻢ ﻭﺗﺤﻤﻞ اﻟﮑﻞ ﻭﺗﮑﺴﺐ اﻟﻤﻌﺪﻭﻡ ﻭﺗﻘﺮﻱ اﻟﻀﻴﻒ ﻭﺗﻌﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﻧﻮاﺋﺑ اﻟﺤﻖ ﻓﺎﻧﻄﻠﻘﺖ ﺑﻪ ﺧﺪﻳﺠﺔ ﺣﺘﻰ ﺃﺗﺖ ﺑﻪ ﻭﺭﻗﺔ ﺑﻦ ﻧﻮﻓﻞ ﺑﻦ ﺃﺳﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻌﺰﻯ اﺑﻦ ﻋﻢ ﺧﺪﻳﺠﺔ ﻭﮐﺎﻥ اﻣﺮﺃ ﻗﺪ ﺗﻨﺼﺮ ﻓﻲ اﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ ﻭﮐﺎﻥ ﻳﮑﺘﺐ اﻟﮑﺘﺎﺏ اﻟﻌﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻴﮑﺘﺐ ﻣﻦ اﻻٕﻧﺠﻴﻞ ﺑﺎﻟﻌﺒﺮاﻧﻴﺔ ﻣﺎ ﺷﺎء اﻟﻠَّﻪ ﺃﻥ ﻳﮑﺘﺐ ﻭﮐﺎﻥ ﺷﻴﺨﺎ ﮐﺒﻴﺮا ﻗﺪ ﻋﻤﻲ ﻓﻘﺎﻟﺖ ﻟﻪ ﺧﺪﻳﺠﺔ ﻳﺎ اﺑﻦ ﻋﻢ اﺳﻤﻊ ﻣﻦ اﺑﻦ ﺃﺧﻴﮏ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﻭﺭﻗﺔ ﻳﺎ اﺑﻦ ﺃﺧﻲ ﻣﺎﺫا ﺗﺮﻯ ﻓﺄﺧﺒﺮﻩ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺧﺒﺮ ﻣﺎ ﺭﺃﻯ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﻭﺭﻗﺔ ﻫﺬا اﻟﻨﺎﻣﻮﺱ اﻟﺬﻱ ﻧﺰﻝ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﻮﺳﻰ ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻓﻴﻬﺎ ﺟﺬﻋﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﺃﮐﻮﻥ ﺣﻴﺎ ﺇﺫ ﻳﺨﺮﺟﮏ ﻗﻮﻣﮏ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻭﻣﺨﺮﺟﻲ ﻫﻢ ﻗﺎﻝ ﻧﻌﻢ ﻟﻢ ﻳﺄﺕ ﺭﺟﻞ ﻗﻂ ﺑﻤﺜﻞ ﻣﺎ ﺟٔﺖ ﺑﻪ ﺇﻻ ﻋﻮﺩﻱ ﻭﺇﻥ ﻳﺪﺭﮐﻨﻲ ﻳﻮﻣﮏ ﺃﻧﺼﺮﮎ ﻧﺼﺮا ﻣﺆﺯﺭا ﺛﻢ ﻟﻢ ﻳﻨﺸﺐ ﻭﺭﻗﺔ ﺃﻥ ﺗﻮﻓﻲ ﻭﻓﺘﺮ اﻟﻮﺣﻲ ﻗﺎﻝ اﺑﻦ ﺷﻬﺎﺏ ﻭﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﺃﺑﻮ ﺳﻠﻤﺔ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ ﺃﻥ ﺟﺎﺑﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠَّﻪ اﻻٴﻧﺼﺎﺭﻱ ﻗﺎﻝ ﻭﻫﻮ ﻳﺤﺪﺙ ﻋﻦ ﻓﺘﺮﺓ اﻟﻮﺣﻲ ﻓﻘﺎﻝ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺜﻪ ﺑﻴﻨﺎ ﺃﻧﺎ ﺃﻣﺸﻲ ﺇﺫ ﺳﻤﻌﺖ ﺻﻮﺗﺎ ﻣﻦ اﻟﺴﻤﺎء ﻓﺮﻓﻌﺖ ﺑﺼﺮﻱ ﻓﺈﺫا اﻟﻤﻠﮏ اﻟﺬﻱ ﺟﺎءﻧﻲ ﺑﺤﺮاء ﺟﺎﻟﺲ ﻋﻠﻰ ﮐﺮﺳﻲ ﺑﻴﻦ اﻟﺴﻤﺎء ﻭاﻻٴﺭﺽ ﻓﺮﻋﺒﺖ ﻣﻨﻪ ﻓﺮﺟﻌﺖ ﻓﻘﻠﺖ ﺯﻣﻠﻮﻧﻲ ﺯﻣﻠﻮﻧﻲ ﻓﺄﻧﺰﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ اﻟﻤﺪﺛﺮ ﻗﻢ ﻓﺄﻧﺬﺭ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﻟﻪ ﻭاﻟﺮﺟﺰ ﻓﺎﻫﺠﺮ ﻓﺤﻤﻲ اﻟﻮﺣﻲ ﻭﺗﺘﺎﺑﻊ ﺗﺎﺑﻌﻪ ﻋﺒﺪ اﻟﻠَّﻪ ﺑﻦ ﻳﻮﺳﻒ ﻭﺃﺑﻮ ﺻﺎﻟﺢ ﻭﺗﺎﺑﻌﻪ ﻫﻼﻝ ﺑﻦ ﺭﺩاﺩ ﻋﻦ اﻟﺰﻫﺮﻱ ﻭﻗﺎﻝ ﻳﻮﻧﺲ ﻭﻣﻌﻤﺮ ﺑﻮاﺩﺭﻩ

‫۴۔  ‫ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﻮﺳﻰ ﺑﻦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻋﻮاﻧﺔ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﻮﺳﻰ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺎﺋﺷﺔ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﺒﻴﺮ ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻻ ﺗﺤﺮﮎ ﺑﻪ ﻟﺴﺎﻧﮏ ﻟﺘﻌﺠﻞ ﺑﻪ ﻗﺎﻝ ﮐﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻌﺎﻟﺞ ﻣﻦ اﻟﺘﻨﺰﻳﻞ ﺷﺪﺓ ﻭﮐﺎﻥ ﻣﻤﺎ ﻳﺤﺮﮎ ﺷﻔﺘﻴﻪ ﻓﻘﺎﻝ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻓﺄﻧﺎ ﺃﺣﺮﮐﻬﻤﺎ ﻟﮑﻢ ﮐﻤﺎ ﮐﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺤﺮﮐﻬﻤﺎ ﻭﻗﺎﻝ ﺳﻌﻴﺪ ﺃﻧﺎ ﺃﺣﺮﮐﻬﻤﺎ ﮐﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻳﺤﺮﮐﻬﻤﺎ ﻓﺤﺮﮎ ﺷﻔﺘﻴﻪ ﻓﺄﻧﺰﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻻ ﺗﺤﺮﮎ ﺑﻪ ﻟﺴﺎﻧﮏ ﻟﺘﻌﺠﻞ ﺑﻪ ﺇﻥ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺟﻤﻌﻪ ﻭﻗﺮﺁﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﺟﻤﻌﻪ ﻟﮏ ﻓﻲ ﺻﺪﺭﮎ ﻭﺗﻘﺮﺃﻩ ﻓﺈﺫا ﻗﺮﺃﻧﺎﻩ ﻓﺎﺗﺒﻊ ﻗﺮﺁﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﻓﺎﺳﺘﻤﻊ ﻟﻪ ﻭﺃﻧﺼﺖ ﺛﻢ ﺇﻥ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﻴﺎﻧﻪ ﺛﻢ ﺇﻥ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺃﻥ ﺗﻘﺮﺃﻩ ﻓﮑﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﮏ ﺇﺫا ﺃﺗﺎﻩ ﺟﺒﺮﻳﻞ اﺳﺘﻤﻊ ﻓﺈﺫا اﻧﻄﻠﻖ ﺟﺒﺮﻳﻞ ﻗﺮﺃﻩ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﮐﻤﺎ ﻗﺮﺃﻩ

‫۵۔  ‫ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪاﻥ ﻗﺎﻝ ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﻋﺒﺪ اﻟﻠَّﻪ ﻗﺎﻝ ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﻳﻮﻧﺲ ﻋﻦ اﻟﺰﻫﺮﻱ ح و ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺑﺸﺮ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﻗﺎﻝ ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﻋﺒﺪ اﻟﻠَّﻪ ﻗﺎﻝ ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﻳﻮﻧﺲ ﻭﻣﻌﻤﺮ ﻋﻦ اﻟﺰﻫﺮﻱ ﻧﺤﻮﻩ ﻗﺎﻝ ﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﻋﺒﻴﺪ اﻟﻠَّﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻗﺎﻝ ﮐﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺟﻮﺩ اﻟﻨﺎﺱ ﻭﮐﺎﻥ ﺃﺟﻮﺩ ﻣﺎ ﻳﮑﻮﻥ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺣﻴﻦ ﻳﻠﻘﺎﻩ ﺟﺒﺮﻳﻞ ﻭﮐﺎﻥ ﻳﻠﻘﺎﻩ ﻓﻲ ﮐﻞ ﻟﻴﻠﺔ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻓﻴﺪاﺭﺳﻪ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻠﺮﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺟﻮﺩ ﺑﺎﻟﺨﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﺮﻳﺢ اﻟﻤﺮﺳﻠﺔ

‫۶۔  ‫ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ اﻟﻴﻤﺎﻥ اﻟﺤﮑﻢ ﺑﻦ ﻧﺎﻓﻊ ﻗﺎﻝ ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺷﻌﻴﺐ ﻋﻦ اﻟﺰﻫﺮﻱ ﻗﺎﻝ ﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﻋﺒﻴﺪ اﻟﻠَّﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠَّﻪ ﺑﻦ ﻋﺘﺒﺔ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺃﻥ ﻋﺒﺪ اﻟﻠَّﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺃﺧﺒﺮﻩ ﺃﻥ ﺃﺑﺎ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺑﻦ ﺣﺮﺏ ﺃﺧﺒﺮﻩ ﺃﻥ ﻫﺮﻗﻞ ﺃﺭﺳﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻲ ﺭﮐﺐ ﻣﻦ ﻗﺮﻳﺶ ﻭﮐﺎﻧﻮا ﺗﺠﺎﺭا ﺑﺎﻟﺸﺄﻡ ﻓﻲ اﻟﻤﺪﺓ اﻟﺘﻲ ﮐﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﺎﺩ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﺑﺎ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﻭﮐﻔﺎﺭ ﻗﺮﻳﺶ ﻓﺄﺗﻮﻩ ﻭﻫﻢ ﺑﺈﻳﻠﻴﺎء ﻓﺪﻋﺎﻫﻢ ﻓﻲ ﻣﺠﻠﺴﻪ ﻭﺣﻮﻟﻪ ﻋﻈﻤﺎء اﻟﺮﻭﻡ ﺛﻢ ﺩﻋﺎﻫﻢ ﻭﺩﻋﺎ ﺑﺘﺮﺟﻤﺎﻧﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﺃﻳﮑﻢ ﺃﻗﺮﺏ ﻧﺴﺒﺎ ﺑﻬﺬا اﻟﺮﺟﻞ اﻟﺬﻱ ﻳﺰﻋﻢ ﺃﻧﻪ ﻧﺒﻲ ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﻓﻘﻠﺖ ﺃﻧﺎ ﺃﻗﺮﺑﻬﻢ ﻧﺴﺒﺎ ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺩﻧﻮﻩ ﻣﻨﻲ ﻭﻗﺮﺑﻮا ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻓﺎﺟﻌﻠﻮﻫﻢ ﻋﻨﺪ ﻇﻬﺮﻩ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﻟﺘﺮﺟﻤﺎﻧﻪ ﻗﻞ ﻟﻬﻢ ﺇﻧﻲ ﺳﺎﺋﻟ ﻫﺬا ﻋﻦ ﻫﺬا اﻟﺮﺟﻞ ﻓﺈﻥ ﮐﺬﺑﻨﻲ ﻓﮑﺬﺑﻮﻩ ﻓﻮاﻟﻠَّﻪ ﻟﻮﻻ اﻟﺤﻴﺎء ﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﺄﺛﺮﻭا ﻋﻠﻲ ﮐﺬﺑﺎ ﻟﮑﺬﺑﺖ ﻋﻨﻪ ﺛﻢ ﮐﺎﻥ ﺃﻭﻝ ﻣﺎ ﺳﺄﻟﻨﻲ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ ﮐﻴﻒ ﻧﺴﺒﻪ ﻓﻴﮑﻢ ﻗﻠﺖ ﻫﻮ ﻓﻴﻨﺎ ﺫﻭ ﻧﺴﺐ ﻗﺎﻝ ﻓﻬﻞ ﻗﺎﻝ ﻫﺬا اﻟﻘﻮﻝ ﻣﻨﮑﻢ ﺃﺣﺪ ﻗﻂ ﻗﺒﻠﻪ ﻗﻠﺖ ﻻ ﻗﺎﻝ ﻓﻬﻞ ﮐﺎﻥ ﻣﻦ ﺁﺑﺎﺋﻫ ﻣﻦ ﻣﻠﮏ ﻗﻠﺖ ﻻ ﻗﺎﻝ ﻓﺄﺷﺮاﻑ اﻟﻨﺎﺱ ﻳﺘﺒﻌﻮﻧﻪ ﺃﻡ ﺿﻌﻔﺎﻭٴﻫﻢ ﻓﻘﻠﺖ ﺑﻞ ﺿﻌﻔﺎﻭٴﻫﻢ ﻗﺎﻝ ﺃﻳﺰﻳﺪﻭﻥ ﺃﻡ ﻳﻨﻘﺼﻮﻥ ﻗﻠﺖ ﺑﻞ ﻳﺰﻳﺪﻭﻥ ﻗﺎﻝ ﻓﻬﻞ ﻳﺮﺗﺪ ﺃﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﺳﺨﻄﺔ ﻟﺪﻳﻨﻪ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪ ﻗﻠﺖ ﻻ ﻗﺎﻝ ﻓﻬﻞ ﮐﻨﺘﻢ ﺗﺘﻬﻤﻮﻧﻪ ﺑﺎﻟﮑﺬﺏ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﻗﻠﺖ ﻻ ﻗﺎﻝ ﻓﻬﻞ ﻳﻐﺪﺭ ﻗﻠﺖ ﻻ ﻭﻧﺤﻦ ﻣﻨﻪ ﻓﻲ ﻣﺪﺓ ﻻ ﻧﺪﺭﻱ ﻣﺎ ﻫﻮ ﻓﺎﻋﻞ ﻓﻴﻬﺎ ﻗﺎﻝ ﻭﻟﻢ ﺗﻤﮑﻨﻲ ﮐﻠﻤﺔ ﺃﺩﺧﻞ ﻓﻴﻬﺎ ﺷﻴٔﺎ ﻏﻴﺮ ﻫﺬﻩ اﻟﮑﻠﻤﺔ ﻗﺎﻝ ﻓﻬﻞ ﻗﺎﺗﻠﺘﻤﻮﻩ ﻗﻠﺖ ﻧﻌﻢ ﻗﺎﻝ ﻓﮑﻴﻒ ﮐﺎﻥ ﻗﺘﺎﻟﮑﻢ ﺇﻳﺎﻩ ﻗﻠﺖ اﻟﺤﺮﺏ ﺑﻴﻨﻨﺎ ﻭﺑﻴﻨﻪ ﺳﺠﺎﻝ ﻳﻨﺎﻝ ﻣﻨﺎ ﻭﻧﻨﺎﻝ ﻣﻨﻪ ﻗﺎﻝ ﻣﺎﺫا ﻳﺄﻣﺮﮐﻢ ﻗﻠﺖ ﻳﻘﻮﻝ اﻋﺒﺪﻭا اﻟﻠَّﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻭﻻ ﺗﺸﺮﮐﻮا ﺑﻪ ﺷﻴٔﺎ ﻭاﺗﺮﮐﻮا ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﺁﺑﺎﻭٴﮐﻢ ﻭﻳﺄﻣﺮﻧﺎ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﻭاﻟﺰﮐﺎﺓ ﻭاﻟﺼﺪﻕ ﻭاﻟﻌﻔﺎﻑ ﻭاﻟﺼﻠﺔ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻠﺘﺮﺟﻤﺎﻥ ﻗﻞ ﻟﻪ ﺳﺄﻟﺘﮏ ﻋﻦ ﻧﺴﺒﻪ ﻓﺬﮐﺮﺕ ﺃﻧﻪ ﻓﻴﮑﻢ ﺫﻭ ﻧﺴﺐ ﻓﮑﺬﻟﮏ اﻟﺮﺳﻞ ﺗﺒﻌﺚ ﻓﻲ ﻧﺴﺐ ﻗﻮﻣﻬﺎ ﻭﺳﺄﻟﺘﮏ ﻫﻞ ﻗﺎﻝ ﺃﺣﺪ ﻣﻨﮑﻢ ﻫﺬا اﻟﻘﻮﻝ ﻓﺬﮐﺮﺕ ﺃﻥ ﻻ ﻓﻘﻠﺖ ﻟﻮ ﮐﺎﻥ ﺃﺣﺪ ﻗﺎﻝ ﻫﺬا اﻟﻘﻮﻝ ﻗﺒﻠﻪ ﻟﻘﻠﺖ ﺭﺟﻞ ﻳﺄﺗﺴﻲ ﺑﻘﻮﻝ ﻗﻴﻞ ﻗﺒﻠﻪ ﻭﺳﺄﻟﺘﮏ ﻫﻞ ﮐﺎﻥ ﻣﻦ ﺁﺑﺎﺋﻫ ﻣﻦ ﻣﻠﮏ ﻓﺬﮐﺮﺕ ﺃﻥ ﻻ ﻗﻠﺖ ﻓﻠﻮ ﮐﺎﻥ ﻣﻦ ﺁﺑﺎﺋﻫ ﻣﻦ ﻣﻠﮏ ﻗﻠﺖ ﺭﺟﻞ ﻳﻄﻠﺐ ﻣﻠﮏ ﺃﺑﻴﻪ ﻭﺳﺄﻟﺘﮏ ﻫﻞ ﮐﻨﺘﻢ ﺗﺘﻬﻤﻮﻧﻪ ﺑﺎﻟﮑﺬﺏ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﻓﺬﮐﺮﺕ ﺃﻥ ﻻ ﻓﻘﺪ ﺃﻋﺮﻑ ﺃﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﮑﻦ ﻟﻴﺬﺭ اﻟﮑﺬﺏ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺎﺱ ﻭﻳﮑﺬﺏ ﻋﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻭﺳﺄﻟﺘﮏ ﺃﺷﺮاﻑ اﻟﻨﺎﺱ اﺗﺒﻌﻮﻩ ﺃﻡ ﺿﻌﻔﺎﻭٴﻫﻢ ﻓﺬﮐﺮﺕ ﺃﻥ ﺿﻌﻔﺎءﻫﻢ اﺗﺒﻌﻮﻩ ﻭﻫﻢ ﺃﺗﺒﺎﻉ اﻟﺮﺳﻞ ﻭﺳﺄﻟﺘﮏ ﺃﻳﺰﻳﺪﻭﻥ ﺃﻡ ﻳﻨﻘﺼﻮﻥ ﻓﺬﮐﺮﺕ ﺃﻧﻬﻢ ﻳﺰﻳﺪﻭﻥ ﻭﮐﺬﻟﮏ ﺃﻣﺮ اﻻٕﻳﻤﺎﻥ ﺣﺘﻰ ﻳﺘﻢ ﻭﺳﺄﻟﺘﮏ ﺃﻳﺮﺗﺪ ﺃﺣﺪ ﺳﺨﻄﺔ ﻟﺪﻳﻨﻪ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪ ﻓﺬﮐﺮﺕ ﺃﻥ ﻻ ﻭﮐﺬﻟﮏ اﻻٕﻳﻤﺎﻥ ﺣﻴﻦ ﺗﺨﺎﻟﻂ ﺑﺸﺎﺷﺘﻪ اﻟﻘﻠﻮﺏ ﻭﺳﺄﻟﺘﮏ ﻫﻞ ﻳﻐﺪﺭ ﻓﺬﮐﺮﺕ ﺃﻥ ﻻ ﻭﮐﺬﻟﮏ اﻟﺮﺳﻞ ﻻ ﺗﻐﺪﺭ ﻭﺳﺄﻟﺘﮏ ﺑﻤﺎ ﻳﺄﻣﺮﮐﻢ ﻓﺬﮐﺮﺕ ﺃﻧﻪ ﻳﺄﻣﺮﮐﻢ ﺃﻥ ﺗﻌﺒﺪﻭا اﻟﻠَّﻪ ﻭﻻ ﺗﺸﺮﮐﻮا ﺑﻪ ﺷﻴٔﺎ ﻭﻳﻨﻬﺎﮐﻢ ﻋﻦ ﻋﺒﺎﺩﺓ اﻻٴﻭﺛﺎﻥ ﻭﻳﺄﻣﺮﮐﻢ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﻭاﻟﺼﺪﻕ ﻭاﻟﻌﻔﺎﻑ ﻓﺈﻥ ﮐﺎﻥ ﻣﺎ ﺗﻘﻮﻝ ﺣﻘﺎ ﻓﺴﻴﻤﻠﮏ ﻣﻮﺿﻊ ﻗﺪﻣﻲ ﻫﺎﺗﻴﻦ ﻭﻗﺪ ﮐﻨﺖ ﺃﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺧﺎﺭﺝ ﻟﻢ ﺃﮐﻦ ﺃﻇﻦ ﺃﻧﻪ ﻣﻨﮑﻢ ﻓﻠﻮ ﺃﻧﻲ ﺃﻋﻠﻢ ﺃﻧﻲ ﺃﺧﻠﺺ ﺇﻟﻴﻪ ﻟﺘﺠﺸﻤﺖ ﻟﻘﺎءﻩ ﻭﻟﻮ ﮐﻨﺖ ﻋﻨﺪﻩ ﻟﻐﺴﻠﺖ ﻋﻦ ﻗﺪﻣﻪ ﺛﻢ ﺩﻋﺎ ﺑﮑﺘﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ اﻟﺬﻱ ﺑﻌﺚ ﺑﻪ ﺩﺣﻴﺔ ﺇﻟﻰ ﻋﻈﻴﻢ ﺑﺼﺮﻯ ﻓﺪﻓﻌﻪ ﺇﻟﻰ ﻫﺮﻗﻞ ﻓﻘﺮﺃﻩ ﻓﺈﺫا ﻓﻴﻪ ﺑﺴﻢ اﻟﻠَّﻪ اﻟﺮﺣﻤﻦ اﻟﺮﺣﻴﻢ ﻣﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﻋﺒﺪ اﻟﻠَّﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﺇﻟﻰ ﻫﺮﻗﻞ ﻋﻈﻴﻢ اﻟﺮﻭﻡ ﺳﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ اﺗﺒﻊ اﻟﻬﺪﻯ ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ ﻓﺈﻧﻲ ﺃﺩﻋﻮﮎ ﺑﺪﻋﺎﻳﺔ اﻻٕﺳﻼﻡ ﺃﺳﻠﻢ ﺗﺴﻠﻢ ﻳﺆﺗﮏ اﻟﻠَّﻪ ﺃﺟﺮﮎ ﻣﺮﺗﻴﻦ ﻓﺈﻥ ﺗﻮﻟﻴﺖ ﻓﺈﻥ ﻋﻠﻴﮏ ﺇﺛﻢ اﻻٴﺭﻳﺴﻴﻴﻦ و ﻳﺎ ﺃﻫﻞ اﻟﮑﺘﺎﺏ ﺗﻌﺎﻟﻮا ﺇﻟﻰ ﮐﻠﻤﺔ ﺳﻮاء ﺑﻴﻨﻨﺎ ﻭﺑﻴﻨﮑﻢ ﺃﻥ ﻻ ﻧﻌﺒﺪ ﺇﻻ اﻟﻠَّﻪ ﻭﻻ ﻧﺸﺮﮎ ﺑﻪ ﺷﻴٔﺎ ﻭﻻ ﻳﺘﺨﺬ ﺑﻌﻀﻨﺎ ﺑﻌﻀﺎ ﺃﺭﺑﺎﺑﺎ ﻣﻦ ﺩﻭﻥ اﻟﻠَّﻪ ﻓﺈﻥ ﺗﻮﻟﻮا ﻓﻘﻮﻟﻮا اﺷﻬﺪﻭا ﺑﺄﻧﺎ ﻣﺴﻠﻤﻮﻥ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﻓﻠﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﻭﻓﺮﻍ ﻣﻦ ﻗﺮاءﺓ اﻟﮑﺘﺎﺏ ﮐﺜﺮ ﻋﻨﺪﻩ اﻟﺼﺨﺐ ﻭاﺭﺗﻔﻌﺖ اﻻٴﺻﻮاﺕ ﻭﺃﺧﺮﺟﻨﺎ ﻓﻘﻠﺖ ﻻٴﺻﺤﺎﺑﻲ ﺣﻴﻦ ﺃﺧﺮﺟﻨﺎ ﻟﻘﺪ ﺃﻣﺮ ﺃﻣﺮ اﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﮐﺒﺸﺔ ﺇﻧﻪ ﻳﺨﺎﻓﻪ ﻣﻠﮏ ﺑﻨﻲ اﻻٴﺻﻔﺮ ﻓﻤﺎ ﺯﻟﺖ ﻣﻮﻗﻨﺎ ﺃﻧﻪ ﺳﻴﻈﻬﺮ ﺣﺘﻰ ﺃﺩﺧﻞ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻲ اﻻٕﺳﻼﻡ ﻭﮐﺎﻥ اﺑﻦ اﻟﻨﺎﻇﻮﺭ ﺻﺎﺣﺐ ﺇﻳﻠﻴﺎء ﻭﻫﺮﻗﻞ ﺳﻘﻔﺎ ﻋﻠﻰ ﻧﺼﺎﺭﻯ اﻟﺸﺄﻡ ﻳﺤﺪﺙ ﺃﻥ ﻫﺮﻗﻞ ﺣﻴﻦ ﻗﺪﻡ ﺇﻳﻠﻴﺎء ﺃﺻﺒﺢ ﻳﻮﻣﺎ ﺧﺒﻴﺚ اﻟﻨﻔﺲ ﻓﻘﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺑﻄﺎﺭﻗﺘﻪ ﻗﺪ اﺳﺘﻨﮑﺮﻧﺎ ﻫﻴٔﺘﮏ ﻗﺎﻝ اﺑﻦ اﻟﻨﺎﻇﻮﺭ ﻭﮐﺎﻥ ﻫﺮﻗﻞ ﺣﺰاء ﻳﻨﻈﺮ ﻓﻲ اﻟﻨﺠﻮﻡ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻬﻢ ﺣﻴﻦ ﺳﺄﻟﻮﻩ ﺇﻧﻲ ﺭﺃﻳﺖ اﻟﻠﻴﻠﺔ ﺣﻴﻦ ﻧﻈﺮﺕ ﻓﻲ اﻟﻨﺠﻮﻡ ﻣﻠﮏ اﻟﺨﺘﺎﻥ ﻗﺪ ﻇﻬﺮ ﻓﻤﻦ ﻳﺨﺘﺘﻦ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ اﻻٴﻣﺔ ﻗﺎﻟﻮا ﻟﻴﺲ ﻳﺨﺘﺘﻦ ﺇﻻ اﻟﻴﻬﻮﺩ ﻓﻼ ﻳﻬﻤﻨﮏ ﺷﺄﻧﻬﻢ ﻭاﮐﺘﺐ ﺇﻟﻰ ﻣﺪاﻳﻦ ﻣﻠﮑﮏ ﻓﻴﻘﺘﻠﻮا ﻣﻦ ﻓﻴﻬﻢ ﻣﻦ اﻟﻴﻬﻮﺩ ﻓﺒﻴﻨﻤﺎ ﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﺮﻫﻢ ﺃﺗﻲ ﻫﺮﻗﻞ ﺑﺮﺟﻞ ﺃﺭﺳﻞ ﺑﻪ ﻣﻠﮏ ﻏﺴﺎﻥ ﻳﺨﺒﺮ ﻋﻦ ﺧﺒﺮ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻠﻤﺎ اﺳﺘﺨﺒﺮﻩ ﻫﺮﻗﻞ ﻗﺎﻝ اﺫﻫﺒﻮا ﻓﺎﻧﻈﺮﻭا ﺃﻣﺨﺘﺘﻦ ﻫﻮ ﺃﻡ ﻻ ﻓﻨﻈﺮﻭا ﺇﻟﻴﻪ ﻓﺤﺪﺛﻮﻩ ﺃﻧﻪ ﻣﺨﺘﺘﻦ ﻭﺳﺄﻟﻪ ﻋﻦ اﻟﻌﺮﺏ ﻓﻘﺎﻝ ﻫﻢ ﻳﺨﺘﺘﻨﻮﻥ ﻓﻘﺎﻝ ﻫﺮﻗﻞ ﻫﺬا ﻣﻠﮏ ﻫﺬﻩ اﻻٴﻣﺔ ﻗﺪ ﻇﻬﺮ ﺛﻢ ﮐﺘﺐ ﻫﺮﻗﻞ ﺇﻟﻰ ﺻﺎﺣﺐ ﻟﻪ ﺑﺮﻭﻣﻴﺔ ﻭﮐﺎﻥ ﻧﻈﻴﺮﻩ ﻓﻲ اﻟﻌﻠﻢ ﻭﺳﺎﺭ ﻫﺮﻗﻞ ﺇﻟﻰ ﺣﻤﺺ ﻓﻠﻢ ﻳﺮﻡ ﺣﻤﺺ ﺣﺘﻰ ﺃﺗﺎﻩ ﮐﺘﺎﺏ ﻣﻦ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﻳﻮاﻓﻖ ﺭﺃﻱ ﻫﺮﻗﻞ ﻋﻠﻰ ﺧﺮﻭﺝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺃﻧﻪ ﻧﺒﻲ ﻓﺄﺫﻥ ﻫﺮﻗﻞ ﻟﻌﻈﻤﺎء اﻟﺮﻭﻡ ﻓﻲ ﺩﺳﮑﺮﺓ ﻟﻪ ﺑﺤﻤﺺ ﺛﻢ ﺃﻣﺮ ﺑﺄﺑﻮاﺑﻬﺎ ﻓﻐﻠﻘﺖ ﺛﻢ اﻃﻠﻊ ﻓﻘﺎﻝ ﻳﺎ ﻣﻌﺸﺮ اﻟﺮﻭﻡ ﻫﻞ ﻟﮑﻢ ﻓﻲ اﻟﻔﻼﺡ ﻭاﻟﺮﺷﺪ ﻭﺃﻥ ﻳﺜﺒﺖ ﻣﻠﮑﮑﻢ ﻓﺘﺒﺎﻳﻌﻮا ﻫﺬا اﻟﻨﺒﻲ ﻓﺤﺎﺻﻮا ﺣﻴﺼﺔ ﺣﻤﺮ اﻟﻮﺣﺶ ﺇﻟﻰ اﻻٴﺑﻮاﺏ ﻓﻮﺟﺪﻭﻫﺎ ﻗﺪ ﻏﻠﻘﺖ ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺃﻯ ﻫﺮﻗﻞ ﻧﻔﺮﺗﻬﻢ ﻭﺃﻳﺲ ﻣﻦ اﻻٕﻳﻤﺎﻥ ﻗﺎﻝ ﺭﺩﻭﻫﻢ ﻋﻠﻲ ﻭﻗﺎﻝ ﺇﻧﻲ ﻗﻠﺖ ﻣﻘﺎﻟﺘﻲ ﺁﻧﻔﺎ ﺃﺧﺘﺒﺮ ﺑﻬﺎ ﺷﺪﺗﮑﻢ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻨﮑﻢ ﻓﻘﺪ ﺭﺃﻳﺖ ﻓﺴﺠﺪﻭا ﻟﻪ ﻭﺭﺿﻮا ﻋﻨﻪ ﻓﮑﺎﻥ ﺫﻟﮏ ﺁﺧﺮ ﺷﺄﻥ ﻫﺮﻗﻞ
‫ﺭﻭاﻩ ﺻﺎﻟﺢ ﺑﻦ ﮐﻴﺴﺎﻥ ﻭﻳﻮﻧﺲ ﻭﻣﻌﻤﺮ ﻋﻦ اﻟﺰﻫﺮﻱ

ﺗﻔﺴﻴﺮﺟﻼﻟﻴﻦ

‫018 ﺳﻮﺭﺓ اﻟﮑﻬﻒ

٭(ﻗﻞ ﺇﻧﻤﺎ ﺃﻧﺎ ﺑﺸﺮ) ﺁﺩﻣﻲ (ﻣﺜﻠﮑﻢ ﻳﻮﺣﻰ ﺇﻟﻲ ﺃﻧﻤﺎ ﺇﻟﻬﮑﻢ ﺇﻟﻪ ﻭاﺣﺪ) ﺃﻥ اﻟﻤﮑﻔﻮﻓﺔ ﺑﻤﺎ ﺑﺎﻗﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﺼﺪﺭﻳﺘﻬﺎ ﻭاﻟﻤﻌﻨﻰ ﻳﻮﺣﻰ ﺇﻟﻲ ﻭﺣﺪاﻧﻴﺔ اﻻٕﻟﻪ (ﻓﻤﻦ ﮐﺎﻥ ﻳﺮﺟﻮا) ﻳﺄﻣﻞ (ﻟﻘﺎء ﺭﺑﻪ) ﺑﺎﻟﺒﻌﺚ ﻭاﻟﺠﺰاء (ﻓﻠﻴﻌﻤﻞ ﻋﻤﻼ ﺻﺎﻟﺤﺎ ﻭﻻ ﻳﺸ
ﺮﮎ ﺑﻌﺒﺎﺩﺓ ﺭﺑﻪ) ﺃﻱ ﻓﻴﻬﺎ ﺑﺄﻥ ﻳﺮاﺋﻳ (ﺃﺣﺪا)٭

Muhammad adalah Manusia…

Hikmah Ahad “Lelaki dan Odol”

Hikmah Ahad “Lelaki dan Odol”

Kisah nyata dari seseorang yang dalam episode hidupnya sempat ia lewati dalam penjara. Bermula dari hal yang sepele. Lelaki itu kehabisan odol di penjara.

Malam itu adalah malam terakhir bagi odol diatas sikat giginya. Tidak ada sedikitpun odol yang tersisa untuk esok hari. Dan ini jelas-jelas sangat menyebalkan. Istri yang telat berkunjung, anak-anak yang melupakannya dan diabaikan oleh para sahabat, muncul menjadi kambing hitam yang sangat menjengkelkan.

Sekonyong-konyong lelaki itu merasa sendirian, bahkan lebih dari itu : tidak berharga ! Tertutup bayangan hitam yang kian membesar dan menelan dirinya itu, tiba-tiba saja pikiran nakal dan iseng muncul.

Bagaimana jika ia meminta odol pada TUHAN ?

Berdoa untuk sebuah kesembuhan sudah berkali-kali kita dengar mendapatkan jawaban dari-NYA .

Meminta dibukakan jalan keluar dari setumpuk permasalahanpun bukan suatu yang asing bagi kita. Begitu pula dengan doa-doa kepada orang tua yang telah berpulang, terdengar sangat gagah untuk diucapkan.

Tetapi meminta odol kepada Sang Pencipta jutaan bintang gemintang dan ribuan galaksi, tentunya harus dipikirkan berulang-ulang kali sebelum diutarakan.

Sesuatu yang sepele dan mungkin tidak pada tempatnya. Tetapi apa daya, tidak punya odol untuk esok hari –entah sampai berapa hari– menjengkelkan hatinya amat sangat.

Amat tidak penting bagi orang lain, tetapi sangat penting bagi dirinya.

Maka dengan tekad bulat dan hati yang dikuat-kuatkan dari rasa malu, lelaki itu memutuskan untuk mengucapkan doa yang ia sendiri anggap gila itu.

Ia berdiri ragu-ragu dipojok ruangan sel penjara, dalam temaram cahaya, sehingga tidak akan ada orang yang mengamati apa yang ia lakukan.

Kemudian dengan cepat, bibirnya berbisik : “YA ALLAH YA TUHANKU, Kau mengetahuinya aku sangat membutuhkan benda itu”. Doa selesai.

Wajah lelaki itu tampak memerah. Terlalu malu bibirnya mengucapkan kata amin. Dan peristiwa itu berlalu demikian cepat, hingga lebih mirip dengan seseorang yang berludah ditempat tersembunyi.

Tetapi walaupun demikian ia tidak dapat begitu saja melupakan insiden tersebut. Sore hari diucapkan, permintaan itu menggelisahkannya hingga malam menjelang tidur.

Akhirnya, lelaki itu –walau dengan bersusah payah- mampu melupakan doa sekaligus odolnya itu.

Tepat tengah malam, ia terjaga oleh sebuah keributan besar di kamar selnya.

“Saya tidak bersalah Pak !!!”, teriak seorang lelaki gemuk dengan buntalan tas besar dipundak, dipaksa petugas masuk ke kamarnya.

”Demi TUHAN Pak !!! Saya tidak salah !!! Tolong Pak … Saya jangan dimasukin ke sini Pak ..”

Sejenak ruangan penjara itu gaduh oleh teriakan ketakutan dari ‘tamu baru’ itu.

“Diam !!”, bentak sang petugas, ”Semua orang yang masuk keruangan penjara selalu meneriakkan hal yang sama !! Jangan harap kami bisa tertipu !!”

“Tapi Pak …Sssa ..”

Brrrraaaaakkk !!!!

Pintu kamar itu pun dikunci dengan kasar. Petugas itu meninggalkan lelaki gemuk dan buntalan besarnya itu yang masih menangis ketakutan.

Karena iba, lelaki penghuni penjara itupun menghampiri teman barunya. Menghibur sebisanya dan menenangkan hati lelaki gemuk itu.

Akhirnya tangisan mereda, dan karena lelah dan rasa kantuk mereka berdua pun kembali tertidur pulas.

Pagi harinya, lelaki penghuni penjara itu terbangun karena kaget. Kali ini karena bunyi tiang besi yang sengaja dibunyikan oleh petugas.

Ia terbangun dan menemukan dirinyanya berada sendirian dalam sel penjara. Lho mana Si Gemuk, pikirnya. Apa tadi malam aku bemimpi ? Ah masa iya, mimpi itu begitu nyata ? Aku yakin ia di sini tadi malam.

“Dia bilang itu buat kamu”, kata petugas sambil menunjuk ke buntalan tas di pojok ruangan.

Lelaki itu segera menoleh dan segera menemukan benda yang dimaksudkan oleh petugas. Serta merta ia tahu bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.

“Sekarang dia dimana Pak ?”, tanyanya heran.

“Ooh..dia sudah kami bebaskan, dini hari tadi… biasa salah tangkap”, jawab petugas itu enteng.

”Saking senangnya orang itu bilang tas dan segala isinya itu buat kamu”.

Petugas pun ngeloyor pergi.
Lelaki itu masih ternganga beberapa saat, lalu segera berlari ke pojok ruangan sekedar ingin memeriksa tas yang ditinggalkan Si Gemuk untuknya.

Tiba-tiba saja lututnya terasa lemas. Tak sanggup ia berdiri.

“Ya .. ALLAH, Ya .. YA TUHAAANNNKU !!” Laki-laki itu mengerang. Ia tersungkur di pojok ruangan, dengan tangan gemetar dan wajah basah oleh air mata.

Lelaki itu bersujud disana, dalam kegelapan sambil menangis tersedu-sedu.

Disampingnya tergeletak tas yang tampak terbuka dan beberapa isinya berhamburan keluar.

Dan tampaklah lima kotak odol, sebuah sikat gigi baru, dua buah sabun mandi, tiga botol sampo, dan beberapa helai pakaian sehari-hari.

~~~

Jangan pernah malu untuk meminta kepada Allah, walau untuk sesuatu yang sangat sederhana.

Jangan pernah mengabaikan kekuatan doa.

Jangan pernah bosan meminta kepada Allah karena Allah tidak pernah bosan mendengar dan mengabulkan permintaan hambaNya.

(By. Cahyadi K.)

Tentang Rizki

Tentang Rizki

Saudaraku, mari kita sejenak merenungkan ayat-ayat Al- Qur’an yang menceritakan tentang rezeki semoga keyakinan kita (bahwa semua rezeki itu adalah datang dari Allah Ar Razaq) bertambah semakin kuat dan mendalam.
Firman Allah SWT:

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Jaminan rezeki dari Allah SWT pada mahkluk-Nya adalah jaminan yang pasti lagi benar untuk menunjukkan betapa Maha Kaya Allah yang memiliki segala sifat kebesaran-Nya.

Firman Allah SWT:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

“Dan kepunyaan Allah kepemilikan segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan” (Surat Ali Imran, ayat 109).

Selain dari Allah SWT siapa lagi yang bisa mencukupkan sumber rezeki yang tidak pernah putus-putus untuk menghubungkan siklus kehidupan di alam ini. Bukan satu atau dua hari tetapi ribuan bahkan mungkin jutaan tahun hingga lebih. Hanya Dia saja yang berhak dan layak untuk menurun dan mengeluarkan segala rezeki dari sumber mana yang Dia kehendaki.

Inilah antara makna “ilah” yang terkandung di dalam kalimat syahadat yaitu “la ilah haillallah”. Dalam permasalahan rezeki, kalimat syahadat ini mengajar kita i’tiqad “Tidak ada yang memberi rezeki selain Allah”. Jika seseorang mengakui bahwa ada makhluk yang memberi selain Allah berarti dia telah beri’tiqad dengan i’tiqad yang salah dan berakibat syirik.

Majikan atau tempat kita kerja adalah ibarat tukang pos yang mengirim surat kepada seseorang. Bukannya surat itu darinya sendiri, karena rezeki yang berada ditangannya itu juga datang dari Allah. Bagaimana jika Allah menahan rezeki kepadanya?

Firman Allah SWT:

أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ

“Siapakah yang dapat memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki” (Surah Al-Mulk, ayat 21).

Pada waktu pagi kita dianjurkan membaca doa ini:

اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ ، لا شَرِيكَ لَكَ ، فَلَكَ الْحَمْدُ ، وَلَكَ الشُّكْرُ

“Ya Allah, pada pagi ini apakah ini nikmat yang ada padaku atau setiap makhluk-Mu, semuanya dari-Mu.Tidak ada sekutu bagi-Mu. Milik-Mu segala pujian dan kepada-Mu terima kasih kami “(Zikir al-Ma’surat. Riwayat Imam an-Nasai dari Abdullah bin Ghannam ra).

Ini membawa pengertian agar akidah tauhid kita diperbaiki sebelum kita memulai aktivitas mencari rezeki di awal-awal pagi. Manusia hanyalah makhluk yang sangat lemah sehingga tidak mampu membuat sebuah nasi pun di atas bumi ini dan tergantung pada pohon padi dari ciptaan Allah SWT

Allah SWT menjamin rezeki pada semua mahluk tetapi kenapa ada yang mati kelaparan. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah timbul berbagai kerusakan dan bencana di darat dan di laut, karena yang telah dilakukan oleh tangan manusia; (timbulnya yang demikian) karena Allah merasakan kepada mereka sebagian dari balasan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka telah lakukan, agar mereka kembali (insaf dan bertobat) “(Surat ar-Rum, ayat 41).

Kematian dan kelaparan 26 ribu orang di Euthopia bukti sebuah kebinasaan akibat dari pendurhakaan manusia. Bumi dirusak oleh tangan-tangan manusia seperti tubuh yang dirusak oleh obatan kimia yang bernama drugs. Tubuh yang disertakan dengan sistem kekebalan juga hancur akibat dari narkoba yang diambilnya pada setiap hari. Inilah sebabnya Allah menurunkan aturan hidup .

Hal kedua dari ayat awal pada dipahami bahwa rezeki itu juga perlu dicari sebagaimana Allah menyatakan dengan kalimat “makhluk bergerak” bukan hanya menanti yang bulat datang bergolek dan yang pipih datang melayang. Lihatlah rezeki seekor burung yang setiap hari keluar dari sarangnya dan kembali ke sarangnya dengan membawa makanan (rezeki)..

Ini terkecuali dengan tes/ujian dari Allah yang berupa kekurangan makanan dan buah-buahan seperti firman Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasakan) kelaparan, dan (dengan berlakunya) kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar “(QS Al-Baqarah, ayat 155).

Ujian adalah hak Allah sama seperti rezeki. Hikmah dari ujian akan menjadikan suatu ummat itu bertambah kuat bukannya melemah. Ia tergantung bagaimana sikap yang diambil terhadap ujian yang menimpanya. Ibarat anak sekolah yang mau naik kelas harus ada tes/ujian. Jika ujian itu mematikan jiwa dan semangatnya, itu tandanya Allahlah yang mempersempit kehidupannya seperti asma ‘Allah yang bernama “Al Qobidh”.

وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Allah-lah yang menyempit dan yang meluaskan (pemberian rezeki) dan kepada kamu dikembalikan” (Surah al-Baqarah, ayat 245).

Bangsa-bangsa yang terus “bergerak” telah menguasai dunia dibandingkan dengan bangsa yang suka berpeluk tubuh. Mereka menguasai semua bidang keilmuan pada pokok perubahan yang dilakukan pada setiap detik. Rezeki itu kuncinya ilmu karena itulah ia harus bergerak untuk mencarinya.

Firman Allah SWT:

إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (Surat ar-Ra’du, ayat 11).

Semoga bermanfaat… Amini Yaa Rabb

Rezeki gak akan kemana

💝Belajar Konsep Rizki dri Penjual Rujak💝

HARI ini hujan mulai jam 9 pagi, seorang tukang rujak numpang berteduh di teras ruko.

Beliau saya pinjamkan tempat duduk dari dalam toko. Masih penuh gerobaknya dengan buah-buah tertata rapi.

Kulihat dari dalam toko beliau membuka buku kecil. Rupanya sebuah alquran. Beliau begitu tekun dengan Al-Qurannya.

Sampai jam setengah 11 hujan tak kunjung berhenti.

Saya mulai risau karena sepi pembeli.

Saya keluar sekadar memberikan air minum kemasan dan beberapa butir kurma.

Tidak ada sedikitpun raut gelisah terlihat di wajahnya.

“Kalau musim hujan jualannya repot juga ya, Pak… ” Kataku sambil menatap gerobaknya. “Masih banyak banget.”

Beliau tersenyum, “Iya bu.. Mudah-mudahan ada rejekinya.. .” jawabnya.

“Aamiin,” kataku.

“Kalau gak abis gimana, Pak?” tanyaku penuh iba…

“Ya.. Kalau gak abis ya risiko, Bu… Kalau yang gak bisa sampai besok kayak semangka, melon yang udah kebuka ya kasih ke tetangga juga seneng daripada kebuang. Kalau kayak bengkoang, jambu, mangga yang masih bagus bisa disimpan. Mudah-mudahan aja dapet nilai sedekah,” katanya tersenyum.

“Kalau hujan terus sampai sore gimana, Pak?” tanyaku lagi.

“Ya Alhamdulillah bu… Berarti rejeki saya hari ini diizinkan banyak berdoa dan meminta sesuatu sama Allah. Kan kalau hujan waktu mustajab buat berdoa bu…” Katanya sambil tersenyum. “Dikasih kesempatan berdoa juga kan rejeki, Bu…”

“Terus kalau gak dapet uang gimana, Pak?” tanyaku lagi.

“Berarti rejeki saya bersabar, Bu… Allah yang ngatur rejeki, Bu… Saya bergantung sama Allah.. Apa aja bentuk rejeki yang Allah kasih ya saya syukuri aja. Tapi Alhamdulillah, bertahun tahun saya jualan n rujak belum pernah sampai kelaparan.

“Pernah gak dapat uang sama sekali, tau tau tetangga ngirimin makanan. Kita hidup cari apa Bu, yang penting bisa makan biar ada tenaga buat ibadah dan usaha,” katanya lagi sambil memasukan Alqurannya ke kotak di gerobak.

“Mumpung hujannya rintik, Bu… Saya bisa jalan .. Makasih yaa ,Bu…” katanya

Bukti cinta kepada Rasulullah SAW

Bukti cinta kepada Rasulullah SAW

Muhammad-1-White

Sebagian Muslim mengaku paling mencintai Nabi Muhammad SAW karena selalu merayakan kelahirannya. Sebagian yang lain mengaku paling mencintai karena selalu melaksanakan sunnahnya.

Mereka tentu jauh lebih baik dari orang yang tidak mencintai Nabi SAW, tidak merayakan kelahirannya dan tidak pula melaksanakan sunnahnya.

Di luar Muslim, ada beberapa orang yang menghina, menuduh penipu, pembohong, gila sex karena memiliki banyak istri, rakus harta, dan banyak tuduhan dan penghinaan lainnya.

Penghinaan terhadap beliau, tidak hanya berlangsung saat ini saja, ketika beliau masih hidup pun jauh lebih parah dan menyakitkan.

Namun ada pula, yang mengakui kemulian akhlaknya, mengagumi sikap kepemimpinannya, kelembutan hatinya, bahkan menempatkannya sebagai Top One orang yang paling berpengaruh di dunia.

Jika seorang Muslim mencintai sang Nabi SAW, maka harus membuktikan kecintaanya tersebut. Bukti cinta kepada Nabi SAW diantaranya: Pertama, berkeinginan kuat untuk bertemu dan berkumpul bersama Nabi SAW.

Bagi Muslim generasi setelah sahabat termasuk generasi sekarang yang tidak memiliki kesempatan bertemu dengan sang Nabi SAW, berharap agar dikumpulkan bersama Nabi di Jannah Firdaus yang Allah SWT janjikan kepada orang-orang shaleh dan muttaqin. Dengan cara melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi setiap larangan-Nya.

Kedua, menaati beliau dengan menjalankan sunnahnya, mengikuti setiap ajarannya. Allah SWT menegaskan dengan menaati Nabi SAW, berati telah menaati Allah.

 

Melaksakan sunnah Nabi SAW memiliki keistimewaan dan memberi kebahagiaan tersendiri. Selain merasa dekat dengan Nabi, secara saintis sunnah-sunnah Nabi memiliki efek menyehatkan.

Shalat Tahajjud misalnya, sebuah penelitian membuktikan aktivitas selepas bangun tidur pada waktu sepertiga malam (kira-kira pukul 02.00 sampai pukul 04.00) dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi kesehatan.

Shalat Tahajud menjadi terapi pengobatan terbaik dari berbagai macam penyakit. Karena itu, orang-orang yang membiasakan diri Tahajud akan memiliki daya tahan tubuh sehingga tak mudah terserang penyakit.

Nabi SAW bersabda, “Dirikanlah shalat malam karena itu adalah tradisi orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, pencegah dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan, dan pencegah segala macam penyakit dari tubuh.” (HR Tirmidzi).

Ketiga, memperbanyak shalawat kepadanya. Nabi SAW bersabda “barang siapa bershalawat atasku sekali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.” (HR. Muslim).

Allah SWT senantiasa melindungi dan merahmati mereka yang bershalawat kepada Nabi SAW. Bahkan dengan memperbanyak shalawat, mempermudah setiap urusan duniawi.

Keempat, mencintai orang-orang yang dicintai Nabi SAW. Jika Nabi mencintai para sahabatnya, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dll serta para istri dan keturunannya, sudah sepatutnya seorang Muslim mencintai mereka pula.

Kelima, mengikuti akhlaknya. Tidak dipungkiri Nabi SAW memiliki akhlak yang mulia. Firman Allah SWT dalam QS. Al-Qalam ayat 4 yang artinya, “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berakhlak yang agung.

Salah satu tugas Nabi SAW diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak. Nabi SAW bersabda “Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari).

Bukti-bukti cinta ini perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari setiap Muslim. Keluhuran akhlak beliau dapat menjadi standar dasar akhlak yang harus dimiliki. Dengan menunjukkan bukti mencintai Nabi SAW, semoga kelak dikumpulkan bersamanya di jannah Allah nanti. Wallahu A’lam

Sumber : Republika Online